Kebumen – Humas – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Anif Solikhin, meminta seluruh madrasah di Kabupaten Kebumen dapat memetakan potensi, minat, dan kebutuhan belajar murid sejak dini. Langkah tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadirkan pembelajaran yang efektif, berpusat pada murid, sekaligus mampu mengoptimalkan setiap potensinya.
Pesan itu disampaikan Anif saat memberikan pembinaan kepada guru dan tenaga kependidikan MAN 3 Kebumen, Kamis (9/7/2026).
Menurut Anif, setiap murid memiliki karakter, kemampuan, serta gaya belajar yang berbeda. Oleh karena itu, guru perlu mengenali potensi setiap anak melalui pemetaan sejak awal sehingga proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
“Guru tidak cukup hanya mengajar. Guru harus mengenali potensi setiap murid agar pembelajaran benar-benar memberikan dampak. Ketika kebutuhan belajar dipahami, guru dapat memberikan pendampingan yang tepat sehingga setiap anak berkembang sesuai bakat dan minatnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemetaan kebutuhan peserta didik mencakup berbagai aspek, mulai dari kemampuan akademik, perkembangan sosial-emosional, kemampuan berpikir, latar belakang budaya, hingga minat dan cita-cita. Data tersebut menjadi dasar dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih personal, relevan, dan bermakna.
Menurutnya, pembelajaran yang berpusat pada murid akan meningkatkan motivasi belajar, memperkuat keterlibatan murid selama proses pembelajaran, mengurangi kesenjangan prestasi, serta membantu guru menyusun program pembelajaran yang lebih efektif.
Selain memetakan potensi murid, Anif juga meminta seluruh guru mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran. Ia menekankan pentingnya menginsersikan nilai-nilai Pendidikan Antikorupsi, Pendidikan Perkoperasian, dan Panca Cinta sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
Nilai antikorupsi, lanjutnya, perlu diwujudkan melalui pembiasaan hidup jujur, disiplin, bertanggung jawab, serta berintegritas. Sementara pendidikan perkoperasian bertujuan menanamkan semangat gotong royong, kerja sama, demokrasi, dan kemandirian. Adapun Panca Cinta menjadi fondasi pembelajaran melalui penguatan cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, bangsa, dan ilmu pengetahuan.
Anif menegaskan, keberhasilan madrasah tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kualitas lulusan atau output yang dihasilkan. Karena itu, setiap program pendidikan harus diarahkan untuk melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, adaptif, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
“Output murid madrasah harus menjadi perhatian bersama. Tugas kita bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan menyiapkan generasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala MAN 3 Kebumen, Lutfah Iin Setyorini, menyampaikan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan meski madrasah berada di wilayah pinggiran.
“Walaupun berada di lokasi yang relatif terpencil, kami terus berupaya maju. Bekerja bagi kami merupakan ibadah semata-mata karena Allah. Kami bersyukur memiliki guru-guru yang luar biasa dengan semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan kerukunan yang sangat kuat,” ungkapnya.
Lutfah juga menggunakan istilah external actualization of worship, yaitu konsep memaknai pekerjaan sebagai bentuk aktualisasi ibadah dalam kehidupan nyata. Artinya, nilai-nilai ibadah tidak berhenti pada ritual keagamaan, tetapi diwujudkan melalui pengabdian, profesionalisme, pelayanan terbaik, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Bagi seorang pendidik, mengajar dengan sepenuh hati dipandang sebagai bagian dari pengamalan ibadah kepada Allah Swt.
Melalui pembinaan tersebut, guru dan tenaga kependidikan MAN 3 Kebumen diharapkan semakin memahami pentingnya mengenali potensi setiap murid sekaligus mengintegrasikan pendidikan karakter dalam seluruh proses pembelajaran. Dengan pendekatan tersebut, madrasah diharapkan mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, berakhlak mulia, memiliki integritas, serta siap berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.



