
HIDUP SEIMBANG SESUAI KEMAMPUAN (Berdasarkan Dighajanu Sutta)
Marilah kita merenungkan ajaran Buddha tentang hidup seimbang sesuai kemampuan, sebagaimana diajarkan dalam Dighajanu Sutta. Buddha bersabda: “seorang perumah tangga mengetahui pendapatannya dan pengeluarannya, dan hidup secara seimbang tidak boros dan tidak pula kikir, berpikir Dengan cara ini, pendapatanku akan melampaui pengeluaranku, dan pengeluaranku tidak akan melampaui pendapatanku.” Ajaran ini sederhana, namun sangat dalam maknanya. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menderita bukan karena kekurangan semata, tetapi karena tidak mampu mengelola apa yang dimiliki. Hidup seimbang dimulai dari kesadaran, berapa penghasilan kita, dan bagaimana kita menggunakannya. Sering kali, penderitaan muncul karena kita ingin hidup seperti orang lain.Melihat orang lain membeli sesuatu, kita pun ikut membeli, meskipun sebenarnya tidak mampu. Dalam Dhamma, ini bukan kebijaksanaan melainkan mengikuti keinginan (tanhā). Orang bijak akan bertanya: “Apakah ini sesuai dengan kemampuanku?” Sang Buddha menekankan dua hal yang harus dihindari yaitu Tidak boros (atidhāvati), tidak hidup berlebihan, tidak terjebak gaya hidup konsumtif. Yang kedua Tidak kikir (macchariya) tetap mau berbagi, tidak menahan secara berlebihan. Hidup yang benar bukan ekstrem kiri atau kanan, melainkan jalan tengah. Karena jika boros maka kita akan kekurangan dan jika kikir maka kita kehilangan kebahagiaan dan kesempatan berbuat baik. Sang Buddha memberikan perumpamaan yang indah: “Bagaikan seorang penimbang atau murid penimbang yang mengetahui:‘Dengan sedikit ini berkurang, dengan sedikit ini bertambah,’ demikian pula seorang perumh tangga mengetahui pendapatan dan pengeluarannya, dan hidup seimbang tidak boros dan tidak kikir.” Artinya, kita harus seperti orang yang menimbang dengan teliti, harus tahu kapan harus mengeluarkan dan tahu kapan harus menahan lalu tahu kapan harus menyimpan. Karena hidup menjadi stabil ketika kita menimbang dengan kebijaksanaan, bukan dengan keinginan. Lalu bagaimana kita mempraktikkannya? Kita dapat mempraktikkan dengan 4 cara yaitu dengang membuat anggaran sederhana dalam kehidupan, Mendahulukan kebutuhan daripada keinginan, Menyisihkan untuk tabungan dan dana darurat, dan yang terakhir Menggunakan sebagian untuk kebajikan (dāna). Dengan demikian, hidup kita menjadi akan lebih tenang dan tidak diliputi kecemasan serta penuh rasa cukup (santuṭṭhi). Buddha mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah memiliki banyak,tetapi merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Orang yang hidup seimbang tidak akan iri pada orang lain, dia tidak mudah gelisah karena kekurangan dan tidak sombong karena kelebihan. Ia akan hidup damai, karena hidupnya selaras dengan kebijaksanaan. Hidup seimbang bukan berarti hidup terbatas, tetapi hidup dengan kesadaran dan kebijaksanaan. Ketika kita mampu mengendalikan pengeluaran, kita sedang melatih diri mengendalikan keinginan. Dan ketika keinginan terkendali, di sanalah kebahagiaan sejati mulai tumbuh. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen




