KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

📌 Data Vihara

📌 Artikel

Artikel
Khafid

Menjaga Kesadaran, Menghindarkan Diri dari Penderitaan

Umat Buddha yang berbahagia, Setiap manusia mendambakan kehidupan yang damai, bahagia, dan terbebas dari penderitaan. Namun dalam kenyataannya, penderitaan masih sering muncul dalam kehidupan kita. Penderitaan tidak hanya berupa sakit fisik, tetapi juga berupa kecemasan, kemarahan, kebencian, iri hati, penyesalan, dan ketakutan. Buddha mengajarkan bahwa akar dari berbagai penderitaan berasal dari batin yang tidak terjaga. Oleh karena itu, salah satu ajaran terpenting dalam Buddhisme adalah menjaga kesadaran atau sati. Kesadaran merupakan kemampuan untuk mengetahui dengan jelas apa yang sedang terjadi pada tubuh, perasaan, pikiran, dan berbagai keadaan batin saat ini. Ketika seseorang hidup dengan penuh kesadaran, ia mampu melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, sehingga tidak mudah dikuasai oleh nafsu keinginan, kebencian, maupun kebodohan batin. Sang Buddha bersabda dalam Dhammapada Syair 21: “Appamādo amatapadaṃ, pamādo maccuno padaṃ; appamattā na mīyanti, ye pamattā yathā matā.” Artinya: “Kewaspadaan atau kesadaran adalah jalan menuju keadaan tanpa kematian (Nibbāna), sedangkan kelengahan adalah jalan menuju kematian. Mereka yang waspada seolah tidak mati, sedangkan mereka yang lengah bagaikan orang yang telah mati.” Syair ini menunjukkan betapa pentingnya hidup dengan penuh kewaspadaan. Orang yang lengah mudah terjerumus dalam perbuatan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Sebaliknya, orang yang waspada akan mampu mengendalikan pikiran, ucapan, dan tindakannya sehingga terhindar dari penderitaan. Penderitaan sering kali muncul akibat reaksi batin yang tidak disadari. Ketika seseorang dihina, maka kemarahan muncul begitu cepat. Bila kemarahan itu tidak disadari, maka ia akan membalas dengan kata-kata kasar atau tindakan yang menyakitkan. Akibatnya timbul pertengkaran, permusuhan, bahkan penyesalan yang berkepanjangan. Namun apabila pada saat kemarahan muncul seseorang memiliki kesadaran, ia akan mengenali, “Saat ini kemarahan sedang muncul.” Dengan mengenali kemarahan tanpa mengikutinya, kemarahan itu perlahan mereda. Kesadaran menjadi pelindung yang mencegah seseorang melakukan tindakan yang keliru. Dalam Mahāsatipaṭṭhāna Sutta (Dīgha Nikāya), Sang Buddha mengajarkan Empat Landasan Kesadaran (Satipaṭṭhāna), yaitu: Melalui latihan ini seseorang belajar mengamati setiap pengalaman tanpa melekat maupun menolak. Dengan demikian, penderitaan tidak berkembang menjadi lebih besar. Dalam kehidupan modern, tantangan untuk menjaga kesadaran semakin besar. Kita hidup di tengah derasnya arus informasi, media sosial, tuntutan pekerjaan, dan berbagai godaan duniawi. Tidak sedikit orang yang menjalani aktivitas secara otomatis tanpa benar-benar sadar terhadap apa yang sedang dilakukan. Akibatnya pikiran mudah dipenuhi kecemasan terhadap masa depan atau penyesalan terhadap masa lalu. Dalam Satipaṭṭhāna Sutta (Majjhima Nikāya), Sang Buddha menyatakan bahwa latihan kesadaran merupakan jalan langsung menuju penyucian makhluk, mengatasi kesedihan dan ratapan, melenyapkan penderitaan dan dukacita, mencapai jalan benar, serta merealisasi Nibbāna. Artinya, kesadaran bukan sekadar teknik relaksasi, tetapi merupakan jalan pembebasan. Kesadaran juga perlu diterapkan dalam ucapan. Sebelum berbicara, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah ucapan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah disampaikan pada waktu yang tepat? Apakah diucapkan dengan penuh cinta kasih? Dengan kesadaran seperti ini, kita terhindar dari fitnah, kebohongan, kata-kata kasar, maupun gosip yang menimbulkan penderitaan bagi banyak orang. Kesadaran juga penting dalam bertindak. Ketika muncul keinginan melakukan sesuatu, kita hendaknya merenungkan akibatnya. Apakah tindakan tersebut membawa manfaat atau justru menimbulkan penyesalan di kemudian hari? Orang yang sadar tidak hanya memikirkan kesenangan sesaat, tetapi juga mempertimbangkan akibat jangka panjang. Dalam Dhammapada Syair 183, Sang Buddha merangkum inti ajaran-Nya: “Tidak berbuat segala kejahatan, memperbanyak kebajikan, dan menyucikan batin; itulah ajaran para Buddha.” Menyucikan batin hanya mungkin dilakukan apabila kita memiliki kesadaran terhadap setiap gerak pikiran yang muncul. Kesadaran juga membantu kita menghadapi penderitaan yang tidak dapat dihindari, seperti sakit, kehilangan, usia tua, maupun kematian. Orang yang sadar memahami bahwa semua yang berkondisi memiliki sifat anicca (tidak kekal), dukkha (tidak memuaskan), dan anattā (tanpa inti diri yang kekal). Pemahaman ini membuat seseorang tidak terlalu melekat pada apa pun sehingga lebih siap menerima perubahan kehidupan. Ketika kehilangan orang yang dicintai, tentu kesedihan tetap muncul. Namun melalui kesadaran, seseorang tidak tenggelam dalam kesedihan berkepanjangan. Ia memahami bahwa semua yang lahir pasti akan berpisah. Dengan demikian, penderitaan tidak berkembang menjadi keputusasaan. Menjaga kesadaran bukanlah latihan yang dilakukan hanya saat bermeditasi. Kesadaran perlu dibawa ke dalam setiap aktivitas sehari-hari: ketika bangun tidur, berjalan, makan, bekerja, mengemudi, berbicara, hingga menjelang tidur. Bahkan menarik dan mengembuskan napas pun dapat menjadi objek latihan kesadaran. Marilah kita menjadikan kesadaran sebagai sahabat dalam setiap langkah kehidupan. Dengan menjaga kesadaran, kita menjaga ucapan, tindakan, dan pikiran. Semoga kita semua mampu hidup dengan penuh kewaspadaan, memperkuat perhatian benar, menumbuhkan kebijaksanaan, serta sedikit demi sedikit mengikis akar penderitaan hingga akhirnya merealisasi kebahagiaan tertinggi, yaitu Nibbāna. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Antara Tuhanku dan Tanggung Jawabku

Di Indonesia keberadaan Tuhan merupakan hal yang Paling Penting bagi Agama. Sehingga masing-masing agama yang ada di Indonesia memiliki sebutan untuk Agamanya dan menjadikan Tuhan menjadi sumber dari segala hal. Sebegitu pentingnya keberadaan Tuhan maka salah satu syarat agama diakui di negara ini adalah mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 Ayat (1) dan (2): Menegaskan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Lalu bagaimana dengan Agama Buddha? Apakah juga memiliki Keyakinan terhadap adanya Tuhan dan apakah memiliki landasan kitab suci berkenaan adanya Tuhan di dalam Agama Buddha? Jawabannya Tentu ya, agama Buddha memiliki keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan landasannya adalah Kitab Udana VIII: 3yang berbunyi: “Atthi bhikkhave adhatam abhutam akatam asamkhatam…” Artinya: “Ketahuilah para Bhikkhu, ada Sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Dijelmakan, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak (Asamkata Dhamma).” Ayat ini menegaskan bahwa dalam agama Buddha, Tuhan adalah sesuatu yang Mutlak (Absolut), tidak berkondisi, tidak berawal, dan tidak berakhir. Jika tidak ada yang Absolut ini, maka manusia tidak akan pernah bisa bebas dari penderitaan (Samsara) dan mencapai pencerahan sempurna (Nibbana/Nirwana). Dalam ajaran agama Buddha, konsep ketuhanan memiliki karakteristik yang sangat unik dan berbeda dengan konsep ketuhanan personifikasi (antropomorfik) dalam agama-agama teistik abrahamik. Agama Buddha tidak mengenal konsep Tuhan sebagai sosok pencipta (creator God) yang mengatur takdir manusia, menghukum, atau memberi pahala. Tuhan dalam agama Buddha bukan berupa pribadi atau wujud personal, baik secara Fisik, atau sifat buruk manusia. Tuhan dipahami melalui sifat-sifat spiritual yang absolut, antara lain Tanpa Personifikasi (Impersonal) yang artinya Tuhan tidak digambarkan memiliki wajah, emosi (seperti marah atau cemburu), atau gender. Ketuhanan adalah hukum kosmis tertinggi yang suci. Keberadaan Tuhan di pahami sebagai Asamkata Dhamma yang berarti sesuatu yang tidak berkondisi, kebenaran mutlak yang ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Sehingga Tuhan merupakan Anatta (Tanpa Aku yang Kekal), Mengindikasikan bahwa manifestasi ketuhanan melampaui ego dan dualitas “pencipta dan ciptaan”. Keberadaan Tuhan Yang maha Esa dan Suci berkenaan kondisi alam semesta dan kehidupan, agama Buddha menjelaskan bahwa segala sesuatu berjalan berdasarkan Hukum Alam Semesta (Dhamma Niyama), bukan atas kehendak personal subjektif dari Tuhan. Ada 5 hukum kosmis (Panca Niyama) yang mengatur seluruh jagat raya: Dari pemahaman Hukum inilah kita harus memahai hidup kita  tidak tergantung kepada Tuhan, tetapi tergantung pada diri kita sendiri, bertanggung jawab pada diri kita sendiri. Kaya, Miskin, Cantik, buruk Rupa, Bahagia Menderita semua berawal dari perbuatan kita sendiri. Buddha telah menyampaikan di dalam Dhammapada Ayat 165 bahwa : “Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri; tak seorang pun dapat menyucikan orang lain.” Ayat ini menegaskan bahwa Keburukan atau kesucian batin bersifat personal dan tidak bisa ditransfer atau didelegasikan kepada orang lain. tidak ada makhluk suci, dewa, atau kekuatan eksternal apa pun yang bisa “menyelamatkan” seseorang dari penderitaan jika orang tersebut tidak berusaha sendiri. Dalam Dhammapada Syair 276 Budddha menyampaikan: “Kamu sendirilah yang harus berjuang dengan tekun; para Tathagata (Buddha) hanya menunjukkan Jalan. Mereka yang memasuki Jalan ini dan melatih diri dalam meditasi akan terbebas dari belenggu Mara (kematian/kekotoran batin).” Bagi umat Buddha (khususnya di Indonesia), konsep Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip spiritual tertinggi yang bersifat impersonal, mutlak, tidak diciptakan, dan menjadi muara akhir dari pembebasan (Nibbana).  Sehingga Tuhan dan Buddha sebagai Teladan dan Penunjuk jalan, kita sebagai manusialah yang memperjuangkannya. Bahagia, menderita menjadi Sebab Akibat yang harus kita terima dan bentuk pertanggung jawaban dari setiap perbuatan yang kita lakukan. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Umat Buddha Pasti Masuk Surga

Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul pertanyaan: apakah menjadi umat Buddha menjamin seseorang masuk surga? Jawaban menurut ajaran Buddha adalah tidak. Sang Buddha tidak pernah mengajarkan keselamatan berdasarkan label atau kepercayaan semata, melainkan berdasarkan perbuatan, ucapan, dan pikiran. Dalam Dhammapada, Syair 1, Buddha menegaskan:Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Jika seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, seperti roda kereta yang mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.Artinya, segala sesuatu yang kita alami merupakan hasil dari kondisi batin dan tindakan kita. Jika seseorang berpikir, berbicara, dan bertindak dengan baik, maka kebahagiaan akan mengikuti. Sebaliknya, jika dipenuhi kebencian dan keserakahan, maka penderitaan yang akan muncul. Dalam ajaran Buddha dikenal konsep kamma (karma), yaitu hukum sebab-akibat moral. Dalam Cūlakammavibhanga Sutta, dijelaskan bahwa makhluk adalah pemilik dari kamma mereka. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan kondisi kehidupan kita di masa depan, termasuk kemungkinan terlahir di alam bahagia (sugati) atau alam menderita (duggati). Oleh karena itu, jalan menuju “surga” dalam Buddhisme bukanlah melalui pengakuan diri sebagai umat, tetapi melalui praktik Dhamma. Dalam Dhammapada 183, Sang Buddha merangkum ajaran-Nya:“Janganlah berbuat jahat, perbanyaklah perbuatan baik, sucikanlah hati dan pikiranmu; inilah ajaran Para Buddha.”Inilah inti jalan menuju kebahagiaan, baik di dunia ini maupun di kehidupan berikutnya. Salah satu praktik penting adalah menjalankan sīla (moralitas). Dengan tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan tidak mengonsumsi hal yang melemahkan kesadaran, kita menciptakan kondisi batin yang bersih dan damai. Orang yang menjaga sila akan memiliki kehidupan yang harmonis dan memiliki peluang besar untuk terlahir di alam bahagia. Selain itu, praktik dāna (berdana) juga sangat dianjurkan. Dalam Aṅguttara Nikāya, disebutkan bahwa pemberian yang dilakukan dengan hati tulus membawa buah kebahagiaan. Orang yang gemar berbagi tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menanam benih kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Namun, kebahagiaan tertinggi dalam ajaran Buddha bukan sekadar terlahir di surga. Surga pun masih bersifat sementara. Setelah buah kamma habis, makhluk dapat terlahir kembali. Oleh karena itu, Sang Buddha mengajarkan tujuan yang lebih tinggi, yaitu Nibbāna, kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian. Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, Sang Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai jalan menuju akhir penderitaan. Dengan memahami dan mempraktikkan ajaran ini, seseorang tidak hanya mencapai kebahagiaan duniawi atau surgawi, tetapi juga kebebasan sejati. Untuk mencapai hal ini, kita perlu melatih tiga aspek utama dalam Dhamma, yaitu: Sīla (moralitas), Samādhi (konsentrasi), Paññā (kebijaksanaan) Dengan moralitas, kita menjaga perilaku. Dengan konsentrasi, kita menenangkan pikiran. Dengan kebijaksanaan, kita memahami realitas. Ketiganya saling mendukung dalam membawa kita menuju kebahagiaan. Selain itu, kita juga perlu mengembangkan cinta kasih (mettā). Dalam Karanīya Mettā Sutta, diajarkan agar kita memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas. Orang yang penuh cinta kasih tidak akan menciptakan permusuhan, sehingga hidupnya damai dan penuh kebahagiaan. Kesimpulannya, menjadi umat Buddha bukanlah jaminan otomatis untuk masuk surga. Yang menentukan adalah bagaimana kita menjalani hidup sesuai Dhamma. Jika kita hidup dengan kebajikan, menjaga sila, berbuat baik, melatih pikiran, dan mengembangkan kebijaksanaan, maka kita akan menuju kebahagiaan, baik di dunia ini maupun di kehidupan selanjutnya. Seperti ditegaskan dalam Dhammapada 276: “Engkau sendirilah yang harus menjalankan tugasmu (berjuang), Para Tathagata (Buddha) hanyalah penunjuk jalan. Mereka yang melatih diri dan memasuki jalan meditasi, akan terbebas dari belenggu Mara (kematian/kejahatan).” Oleh karena itu, marilah kita tidak hanya bangga sebagai umat Buddha, tetapi juga sungguh-sungguh mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita tidak hanya menuju alam bahagia, tetapi juga menuju kebebasan sejati. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Faozan

Dharma Menjaga Perdamaian Dunia

Kita hidup di zaman yang penuh dengan kemajuan, tetapi juga diwarnai berbagai konflik, kekerasan, dan perpecahan. Perbedaan pandangan, kepentingan, bahkan keyakinan sering menjadi sumber pertentangan. Dalam situasi seperti ini, ajaran Buddha hadir sebagai jalan yang menuntun manusia menuju perdamaian sejati. Dhamma tidak hanya berbicara tentang kebahagiaan pribadi, tetapi juga menjadi dasar kuat untuk menciptakan dunia yang damai. Sang Buddha mengajarkan dalam Dhammapada 5:“Kebencian tidak akan pernah berakhir dengan kebencian, tetapi hanya dengan cinta kasih kebencian itu berakhir. Inilah hukum yang abadi.”Ajaran ini menunjukkan bahwa akar dari konflik adalah kebencian. Selama manusia membalas kebencian dengan kebencian, konflik akan terus berulang. Oleh karena itu, cinta kasih (mettā) menjadi kunci utama dalam menjaga perdamaian. Perdamaian dunia tidak bisa dimulai dari luar, melainkan dari dalam diri. Ketika batin seseorang dipenuhi kemarahan, iri hati, dan keserakahan, maka dunia luar pun akan penuh konflik. Namun, jika batin dipenuhi kedamaian, maka ia akan memancarkan kedamaian kepada orang lain. Dalam Satipaṭṭhāna Sutta dijelaskan bahwa kita perlu melatih praktik perhatian penuh (sati). Dengan mengamati tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena batin, kita belajar memahami diri sendiri. Ketika kesadaran berkembang, kita tidak mudah terpancing emosi, melainkan mampu merespons dengan kebijaksanaan. Inilah dasar hubungan yang harmonis. Selain melatih batin, kita juga perlu menjalankan moralitas (sīla). Lima sila menjadi pedoman penting dalam kehidupan sehari-hari: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan tidak mengonsumsi hal yang merusak kesadaran. Jika prinsip ini dijalankan secara luas, maka kekerasan dan konflik dapat berkurang secara signifikan. Dalam Sigālovāda Sutta, Sang Buddha mengajarkan hubungan sosial yang harmonis. Beliau menekankan pentingnya tanggung jawab dan saling menghormati dalam keluarga dan masyarakat. Ketika setiap individu menjalankan perannya dengan benar, maka keharmonisan akan tercipta, dan ini menjadi dasar perdamaian dunia. Dhamma juga mengajarkan empat sifat luhur (Brahmavihāra), yaitu mettā (cinta kasih), karuṇā (welas asih), muditā (turut berbahagia), dan upekkhā (keseimbangan batin). Dalam Karaṇīya Mettā Sutta, Sang Buddha mengajarkan agar kita memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas. Jika nilai ini dipraktikkan, maka tidak ada ruang bagi kebencian, diskriminasi, dan kekerasan. Perdamaian juga membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri. Dalam Dhammapada 184, disebutkan:“Kesabaran adalah tapa yang tertinggi.”Kesabaran adalah kekuatan untuk menahan diri dari reaksi negatif. Dengan kesabaran, kita dapat meredam konflik sebelum berkembang menjadi pertikaian besar. Selain itu, dalam Sangahavatthu Sutta, Sang Buddha mengajarkan empat cara membangun keharmonisan yaitu Dāna (memberi), Piyavācā (berkata baik), Atthacariyā (berbuat bermanfaat) dan Samānattatā (bersikap setara). Keempat prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan modern. Dengan berbagi, berbicara dengan lembut, membantu sesama, dan memperlakukan orang lain secara adil, kita menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai. Perdamaian dunia tidak tercipta secara instan. Ia membutuhkan usaha terus-menerus dari setiap individu. Dalam Dhammapada 276, ditegaskan:“Kalian sendirilah yang harus berusaha; para Buddha hanya menunjukkan jalan.” Ini berarti bahwa tanggung jawab menciptakan perdamaian ada pada kita masing-masing. Mari kita mulai dari hal kecil: menjaga pikiran tetap bersih, berbicara dengan lembut, dan bertindak dengan penuh kasih. Jadikan Dhamma sebagai pedoman hidup sehari-hari. Dengan demikian, kita tidak hanya mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia. Akhir kata, marilah kita menjadi pembawa kedamaian. Dari diri yang damai, lahir keluarga yang damai. Dari keluarga yang damai, tercipta masyarakat yang damai. Dan dari masyarakat yang damai, terwujudlah dunia yang damai. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

HIDUP SEIMBANG SESUAI KEMAMPUAN (Berdasarkan Dighajanu Sutta)

Marilah kita merenungkan ajaran Buddha tentang hidup seimbang sesuai kemampuan, sebagaimana diajarkan dalam Dighajanu Sutta. Buddha bersabda: “seorang perumah tangga mengetahui pendapatannya dan pengeluarannya, dan hidup secara seimbang tidak boros dan tidak pula kikir, berpikir Dengan cara ini, pendapatanku akan melampaui pengeluaranku, dan pengeluaranku tidak akan melampaui pendapatanku.”         Ajaran ini sederhana, namun sangat dalam maknanya. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menderita bukan karena kekurangan semata, tetapi karena tidak mampu mengelola apa yang dimiliki.          Hidup seimbang dimulai dari kesadaran, berapa penghasilan kita, dan bagaimana kita menggunakannya. Sering kali, penderitaan muncul karena kita ingin hidup seperti orang lain.Melihat orang lain membeli sesuatu, kita pun ikut membeli, meskipun sebenarnya tidak mampu. Dalam Dhamma, ini bukan kebijaksanaan melainkan mengikuti keinginan (tanhā). Orang bijak akan bertanya: “Apakah ini sesuai dengan kemampuanku?”        Sang Buddha menekankan dua hal yang harus dihindari yaitu Tidak boros (atidhāvati), tidak hidup berlebihan, tidak terjebak gaya hidup konsumtif. Yang kedua Tidak kikir (macchariya) tetap mau berbagi, tidak menahan secara berlebihan. Hidup yang benar bukan ekstrem kiri atau kanan, melainkan jalan tengah. Karena jika boros maka kita akan kekurangan dan jika kikir maka kita kehilangan kebahagiaan dan kesempatan berbuat baik. Sang Buddha memberikan perumpamaan yang indah: “Bagaikan seorang penimbang atau murid penimbang yang mengetahui:‘Dengan sedikit ini berkurang, dengan sedikit ini bertambah,’ demikian pula seorang perumh tangga mengetahui pendapatan dan pengeluarannya, dan hidup seimbang tidak boros dan tidak kikir.”         Artinya, kita harus seperti orang yang menimbang dengan teliti, harus tahu kapan harus mengeluarkan dan tahu kapan harus menahan lalu tahu kapan harus menyimpan. Karena hidup menjadi stabil ketika kita menimbang dengan kebijaksanaan, bukan dengan keinginan.        Lalu bagaimana kita mempraktikkannya? Kita dapat mempraktikkan dengan 4 cara yaitu dengang membuat anggaran sederhana dalam kehidupan, Mendahulukan kebutuhan daripada keinginan, Menyisihkan untuk tabungan dan dana darurat, dan yang terakhir Menggunakan sebagian untuk kebajikan (dāna). Dengan demikian, hidup kita menjadi akan lebih tenang  dan tidak diliputi kecemasan  serta penuh rasa cukup (santuṭṭhi).        Buddha mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah memiliki banyak,tetapi merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Orang yang hidup seimbang tidak akan iri pada orang lain, dia tidak mudah gelisah karena kekurangan  dan tidak sombong karena kelebihan. Ia akan hidup damai, karena hidupnya selaras dengan kebijaksanaan.         Hidup seimbang bukan berarti hidup terbatas, tetapi hidup dengan kesadaran dan kebijaksanaan. Ketika kita mampu mengendalikan pengeluaran, kita sedang melatih diri mengendalikan keinginan. Dan ketika keinginan terkendali, di sanalah kebahagiaan sejati mulai tumbuh. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Masalahmu Berbeda dengan Masalahku

Setiap individu memiliki masalah masing-masing, sesuai kondisi, keinginan dan hasil perbuatan masing-masing di masa lampau. Bahkan setiap jenjang umur akan mengalami permasalahan yang berbeda. Misalnya ketika kita masih bayi maka permasalahannya adalah kebutuhan makan dan susu, lalu masa anak-anak akan menambah satu maslalah dengan adanya keinginan untuk bermain dan memiliki mainan. Masuk masa sekolah akan tambah masalah dan kondisi baru berupa interaksi dengan lingkungan dan pembelajaran disekolah. Ketika umur bertambah maka akan bertambah lagi masalah, bertambah lagi keinginan. Hal-hal ini tidak terlepas dari hasil karma atau perbuatan kita dimasa lampau. Sehingga permasalahan yang dihadapi setiap manusia atau individu akan berbeda-beda tergantung perbuatan yang telah dilakukan, baik kehidupan sekarang ataupun kehidupan yang lalu. Seperti yang disampaikan oleh Buddha dalam kitab Cūlakammavibhanga Sutta : “Makhluk adalah pemilik dari perbuatannya (kamma), pewaris dari perbuatannya, lahir dari perbuatannya, berkerabat dengan perbuatannya, berlindung pada perbuatannya. Perbuatanlah yang membedakan makhluk menjadi rendah dan tinggi.” Dari Petikan ayat kitab suci di atas kita dapat memahami bahwa apapun yang terjadi pada diri kita selayaknya kita sendiri yang harus berani untuk bertanggung jawab apapun kondisi dan permasalahan yang kita hadapi. Sehingga kita tidak perlu mencari kambing hitam atau mencari faktor lain untuk dipersalahkan ketika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi yang kita inginkan. Karena yang perlu kita lakukan yang pertama, menerima itu sebagai bagian dari hasil perbuatan kita sendiri, kedua menyelesaikan masalah dengan mencari solusi bukan mencari kambing hitam, ketiga berusaha bagaimana cara agar hal ini tidak terulang di kehidupan atau masa yang akan datang, yaitu dengan cara memperbaiki diri hidup di dalam Dhamma. Dan yang keempat adalah jangan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Terkadang sadar atau tidak sadar dan entah dengan tujuan apa kita membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. padahal setiap individu memiliki konflik dan permasalahan masing-masing, yang kita anggap hidupnya bahagia, terkadang masalahnya mungkin lebih berat dibandingkan yang kita miliki atau sebaliknya. Jangan iri atau mengeluhkan kehidupan kita atau bahkan selalu membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, karena pada dasarnya masalah manusia akan selalu berbeda tergantung dari hasil perbuatannya. Kita adalah pewaris dari perbuatan kita sendiri. Tidak ada yang bisa kita bawa selain karma. Oleh karena itu, setiap pikiran, ucapan, dan tindakan adalah benih masa depan. Dengan berbuat baik hari ini, kita sedang menanam kebahagiaan untuk esok. Kebahagiaan sejati tidak datang dari luar, tetapi tumbuh dari hati yang bijaksana. Saat kita hidup benar, menjaga ucapan dan tindakan, serta melatih pikiran, kebahagiaan muncul dengan sendirinya. Seperti bayangan yang selalu mengikuti, kedamaian hadir bagi mereka yang berjalan di jalan Dhamma. “Pikiran adalah pelopor dari segala keadaan, pikiran adalah pemimpin, segala sesuatu terbentuk oleh pikiran. Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang bersih dan bahagia, maka kebahagiaan akan mengikutinya, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan.” (Dhammapada, Syair 002) Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen