KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

📌 Data Vihara

📌 Artikel

Artikel
Khafid

Umat Buddha Pasti Masuk Surga

Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul pertanyaan: apakah menjadi umat Buddha menjamin seseorang masuk surga? Jawaban menurut ajaran Buddha adalah tidak. Sang Buddha tidak pernah mengajarkan keselamatan berdasarkan label atau kepercayaan semata, melainkan berdasarkan perbuatan, ucapan, dan pikiran. Dalam Dhammapada, Syair 1, Buddha menegaskan:Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Jika seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, seperti roda kereta yang mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.Artinya, segala sesuatu yang kita alami merupakan hasil dari kondisi batin dan tindakan kita. Jika seseorang berpikir, berbicara, dan bertindak dengan baik, maka kebahagiaan akan mengikuti. Sebaliknya, jika dipenuhi kebencian dan keserakahan, maka penderitaan yang akan muncul. Dalam ajaran Buddha dikenal konsep kamma (karma), yaitu hukum sebab-akibat moral. Dalam Cūlakammavibhanga Sutta, dijelaskan bahwa makhluk adalah pemilik dari kamma mereka. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan kondisi kehidupan kita di masa depan, termasuk kemungkinan terlahir di alam bahagia (sugati) atau alam menderita (duggati). Oleh karena itu, jalan menuju “surga” dalam Buddhisme bukanlah melalui pengakuan diri sebagai umat, tetapi melalui praktik Dhamma. Dalam Dhammapada 183, Sang Buddha merangkum ajaran-Nya:“Janganlah berbuat jahat, perbanyaklah perbuatan baik, sucikanlah hati dan pikiranmu; inilah ajaran Para Buddha.”Inilah inti jalan menuju kebahagiaan, baik di dunia ini maupun di kehidupan berikutnya. Salah satu praktik penting adalah menjalankan sīla (moralitas). Dengan tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan tidak mengonsumsi hal yang melemahkan kesadaran, kita menciptakan kondisi batin yang bersih dan damai. Orang yang menjaga sila akan memiliki kehidupan yang harmonis dan memiliki peluang besar untuk terlahir di alam bahagia. Selain itu, praktik dāna (berdana) juga sangat dianjurkan. Dalam Aṅguttara Nikāya, disebutkan bahwa pemberian yang dilakukan dengan hati tulus membawa buah kebahagiaan. Orang yang gemar berbagi tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menanam benih kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Namun, kebahagiaan tertinggi dalam ajaran Buddha bukan sekadar terlahir di surga. Surga pun masih bersifat sementara. Setelah buah kamma habis, makhluk dapat terlahir kembali. Oleh karena itu, Sang Buddha mengajarkan tujuan yang lebih tinggi, yaitu Nibbāna, kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian. Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, Sang Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai jalan menuju akhir penderitaan. Dengan memahami dan mempraktikkan ajaran ini, seseorang tidak hanya mencapai kebahagiaan duniawi atau surgawi, tetapi juga kebebasan sejati. Untuk mencapai hal ini, kita perlu melatih tiga aspek utama dalam Dhamma, yaitu: Sīla (moralitas), Samādhi (konsentrasi), Paññā (kebijaksanaan) Dengan moralitas, kita menjaga perilaku. Dengan konsentrasi, kita menenangkan pikiran. Dengan kebijaksanaan, kita memahami realitas. Ketiganya saling mendukung dalam membawa kita menuju kebahagiaan. Selain itu, kita juga perlu mengembangkan cinta kasih (mettā). Dalam Karanīya Mettā Sutta, diajarkan agar kita memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas. Orang yang penuh cinta kasih tidak akan menciptakan permusuhan, sehingga hidupnya damai dan penuh kebahagiaan. Kesimpulannya, menjadi umat Buddha bukanlah jaminan otomatis untuk masuk surga. Yang menentukan adalah bagaimana kita menjalani hidup sesuai Dhamma. Jika kita hidup dengan kebajikan, menjaga sila, berbuat baik, melatih pikiran, dan mengembangkan kebijaksanaan, maka kita akan menuju kebahagiaan, baik di dunia ini maupun di kehidupan selanjutnya. Seperti ditegaskan dalam Dhammapada 276: “Engkau sendirilah yang harus menjalankan tugasmu (berjuang), Para Tathagata (Buddha) hanyalah penunjuk jalan. Mereka yang melatih diri dan memasuki jalan meditasi, akan terbebas dari belenggu Mara (kematian/kejahatan).” Oleh karena itu, marilah kita tidak hanya bangga sebagai umat Buddha, tetapi juga sungguh-sungguh mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita tidak hanya menuju alam bahagia, tetapi juga menuju kebebasan sejati. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Faozan

Dharma Menjaga Perdamaian Dunia

Kita hidup di zaman yang penuh dengan kemajuan, tetapi juga diwarnai berbagai konflik, kekerasan, dan perpecahan. Perbedaan pandangan, kepentingan, bahkan keyakinan sering menjadi sumber pertentangan. Dalam situasi seperti ini, ajaran Buddha hadir sebagai jalan yang menuntun manusia menuju perdamaian sejati. Dhamma tidak hanya berbicara tentang kebahagiaan pribadi, tetapi juga menjadi dasar kuat untuk menciptakan dunia yang damai. Sang Buddha mengajarkan dalam Dhammapada 5:“Kebencian tidak akan pernah berakhir dengan kebencian, tetapi hanya dengan cinta kasih kebencian itu berakhir. Inilah hukum yang abadi.”Ajaran ini menunjukkan bahwa akar dari konflik adalah kebencian. Selama manusia membalas kebencian dengan kebencian, konflik akan terus berulang. Oleh karena itu, cinta kasih (mettā) menjadi kunci utama dalam menjaga perdamaian. Perdamaian dunia tidak bisa dimulai dari luar, melainkan dari dalam diri. Ketika batin seseorang dipenuhi kemarahan, iri hati, dan keserakahan, maka dunia luar pun akan penuh konflik. Namun, jika batin dipenuhi kedamaian, maka ia akan memancarkan kedamaian kepada orang lain. Dalam Satipaṭṭhāna Sutta dijelaskan bahwa kita perlu melatih praktik perhatian penuh (sati). Dengan mengamati tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena batin, kita belajar memahami diri sendiri. Ketika kesadaran berkembang, kita tidak mudah terpancing emosi, melainkan mampu merespons dengan kebijaksanaan. Inilah dasar hubungan yang harmonis. Selain melatih batin, kita juga perlu menjalankan moralitas (sīla). Lima sila menjadi pedoman penting dalam kehidupan sehari-hari: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan tidak mengonsumsi hal yang merusak kesadaran. Jika prinsip ini dijalankan secara luas, maka kekerasan dan konflik dapat berkurang secara signifikan. Dalam Sigālovāda Sutta, Sang Buddha mengajarkan hubungan sosial yang harmonis. Beliau menekankan pentingnya tanggung jawab dan saling menghormati dalam keluarga dan masyarakat. Ketika setiap individu menjalankan perannya dengan benar, maka keharmonisan akan tercipta, dan ini menjadi dasar perdamaian dunia. Dhamma juga mengajarkan empat sifat luhur (Brahmavihāra), yaitu mettā (cinta kasih), karuṇā (welas asih), muditā (turut berbahagia), dan upekkhā (keseimbangan batin). Dalam Karaṇīya Mettā Sutta, Sang Buddha mengajarkan agar kita memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas. Jika nilai ini dipraktikkan, maka tidak ada ruang bagi kebencian, diskriminasi, dan kekerasan. Perdamaian juga membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri. Dalam Dhammapada 184, disebutkan:“Kesabaran adalah tapa yang tertinggi.”Kesabaran adalah kekuatan untuk menahan diri dari reaksi negatif. Dengan kesabaran, kita dapat meredam konflik sebelum berkembang menjadi pertikaian besar. Selain itu, dalam Sangahavatthu Sutta, Sang Buddha mengajarkan empat cara membangun keharmonisan yaitu Dāna (memberi), Piyavācā (berkata baik), Atthacariyā (berbuat bermanfaat) dan Samānattatā (bersikap setara). Keempat prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan modern. Dengan berbagi, berbicara dengan lembut, membantu sesama, dan memperlakukan orang lain secara adil, kita menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai. Perdamaian dunia tidak tercipta secara instan. Ia membutuhkan usaha terus-menerus dari setiap individu. Dalam Dhammapada 276, ditegaskan:“Kalian sendirilah yang harus berusaha; para Buddha hanya menunjukkan jalan.” Ini berarti bahwa tanggung jawab menciptakan perdamaian ada pada kita masing-masing. Mari kita mulai dari hal kecil: menjaga pikiran tetap bersih, berbicara dengan lembut, dan bertindak dengan penuh kasih. Jadikan Dhamma sebagai pedoman hidup sehari-hari. Dengan demikian, kita tidak hanya mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia. Akhir kata, marilah kita menjadi pembawa kedamaian. Dari diri yang damai, lahir keluarga yang damai. Dari keluarga yang damai, tercipta masyarakat yang damai. Dan dari masyarakat yang damai, terwujudlah dunia yang damai. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

HIDUP SEIMBANG SESUAI KEMAMPUAN (Berdasarkan Dighajanu Sutta)

Marilah kita merenungkan ajaran Buddha tentang hidup seimbang sesuai kemampuan, sebagaimana diajarkan dalam Dighajanu Sutta. Buddha bersabda: “seorang perumah tangga mengetahui pendapatannya dan pengeluarannya, dan hidup secara seimbang tidak boros dan tidak pula kikir, berpikir Dengan cara ini, pendapatanku akan melampaui pengeluaranku, dan pengeluaranku tidak akan melampaui pendapatanku.”         Ajaran ini sederhana, namun sangat dalam maknanya. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menderita bukan karena kekurangan semata, tetapi karena tidak mampu mengelola apa yang dimiliki.          Hidup seimbang dimulai dari kesadaran, berapa penghasilan kita, dan bagaimana kita menggunakannya. Sering kali, penderitaan muncul karena kita ingin hidup seperti orang lain.Melihat orang lain membeli sesuatu, kita pun ikut membeli, meskipun sebenarnya tidak mampu. Dalam Dhamma, ini bukan kebijaksanaan melainkan mengikuti keinginan (tanhā). Orang bijak akan bertanya: “Apakah ini sesuai dengan kemampuanku?”        Sang Buddha menekankan dua hal yang harus dihindari yaitu Tidak boros (atidhāvati), tidak hidup berlebihan, tidak terjebak gaya hidup konsumtif. Yang kedua Tidak kikir (macchariya) tetap mau berbagi, tidak menahan secara berlebihan. Hidup yang benar bukan ekstrem kiri atau kanan, melainkan jalan tengah. Karena jika boros maka kita akan kekurangan dan jika kikir maka kita kehilangan kebahagiaan dan kesempatan berbuat baik. Sang Buddha memberikan perumpamaan yang indah: “Bagaikan seorang penimbang atau murid penimbang yang mengetahui:‘Dengan sedikit ini berkurang, dengan sedikit ini bertambah,’ demikian pula seorang perumh tangga mengetahui pendapatan dan pengeluarannya, dan hidup seimbang tidak boros dan tidak kikir.”         Artinya, kita harus seperti orang yang menimbang dengan teliti, harus tahu kapan harus mengeluarkan dan tahu kapan harus menahan lalu tahu kapan harus menyimpan. Karena hidup menjadi stabil ketika kita menimbang dengan kebijaksanaan, bukan dengan keinginan.        Lalu bagaimana kita mempraktikkannya? Kita dapat mempraktikkan dengan 4 cara yaitu dengang membuat anggaran sederhana dalam kehidupan, Mendahulukan kebutuhan daripada keinginan, Menyisihkan untuk tabungan dan dana darurat, dan yang terakhir Menggunakan sebagian untuk kebajikan (dāna). Dengan demikian, hidup kita menjadi akan lebih tenang  dan tidak diliputi kecemasan  serta penuh rasa cukup (santuṭṭhi).        Buddha mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah memiliki banyak,tetapi merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Orang yang hidup seimbang tidak akan iri pada orang lain, dia tidak mudah gelisah karena kekurangan  dan tidak sombong karena kelebihan. Ia akan hidup damai, karena hidupnya selaras dengan kebijaksanaan.         Hidup seimbang bukan berarti hidup terbatas, tetapi hidup dengan kesadaran dan kebijaksanaan. Ketika kita mampu mengendalikan pengeluaran, kita sedang melatih diri mengendalikan keinginan. Dan ketika keinginan terkendali, di sanalah kebahagiaan sejati mulai tumbuh. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Masalahmu Berbeda dengan Masalahku

Setiap individu memiliki masalah masing-masing, sesuai kondisi, keinginan dan hasil perbuatan masing-masing di masa lampau. Bahkan setiap jenjang umur akan mengalami permasalahan yang berbeda. Misalnya ketika kita masih bayi maka permasalahannya adalah kebutuhan makan dan susu, lalu masa anak-anak akan menambah satu maslalah dengan adanya keinginan untuk bermain dan memiliki mainan. Masuk masa sekolah akan tambah masalah dan kondisi baru berupa interaksi dengan lingkungan dan pembelajaran disekolah. Ketika umur bertambah maka akan bertambah lagi masalah, bertambah lagi keinginan. Hal-hal ini tidak terlepas dari hasil karma atau perbuatan kita dimasa lampau. Sehingga permasalahan yang dihadapi setiap manusia atau individu akan berbeda-beda tergantung perbuatan yang telah dilakukan, baik kehidupan sekarang ataupun kehidupan yang lalu. Seperti yang disampaikan oleh Buddha dalam kitab Cūlakammavibhanga Sutta : “Makhluk adalah pemilik dari perbuatannya (kamma), pewaris dari perbuatannya, lahir dari perbuatannya, berkerabat dengan perbuatannya, berlindung pada perbuatannya. Perbuatanlah yang membedakan makhluk menjadi rendah dan tinggi.” Dari Petikan ayat kitab suci di atas kita dapat memahami bahwa apapun yang terjadi pada diri kita selayaknya kita sendiri yang harus berani untuk bertanggung jawab apapun kondisi dan permasalahan yang kita hadapi. Sehingga kita tidak perlu mencari kambing hitam atau mencari faktor lain untuk dipersalahkan ketika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi yang kita inginkan. Karena yang perlu kita lakukan yang pertama, menerima itu sebagai bagian dari hasil perbuatan kita sendiri, kedua menyelesaikan masalah dengan mencari solusi bukan mencari kambing hitam, ketiga berusaha bagaimana cara agar hal ini tidak terulang di kehidupan atau masa yang akan datang, yaitu dengan cara memperbaiki diri hidup di dalam Dhamma. Dan yang keempat adalah jangan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Terkadang sadar atau tidak sadar dan entah dengan tujuan apa kita membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. padahal setiap individu memiliki konflik dan permasalahan masing-masing, yang kita anggap hidupnya bahagia, terkadang masalahnya mungkin lebih berat dibandingkan yang kita miliki atau sebaliknya. Jangan iri atau mengeluhkan kehidupan kita atau bahkan selalu membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, karena pada dasarnya masalah manusia akan selalu berbeda tergantung dari hasil perbuatannya. Kita adalah pewaris dari perbuatan kita sendiri. Tidak ada yang bisa kita bawa selain karma. Oleh karena itu, setiap pikiran, ucapan, dan tindakan adalah benih masa depan. Dengan berbuat baik hari ini, kita sedang menanam kebahagiaan untuk esok. Kebahagiaan sejati tidak datang dari luar, tetapi tumbuh dari hati yang bijaksana. Saat kita hidup benar, menjaga ucapan dan tindakan, serta melatih pikiran, kebahagiaan muncul dengan sendirinya. Seperti bayangan yang selalu mengikuti, kedamaian hadir bagi mereka yang berjalan di jalan Dhamma. “Pikiran adalah pelopor dari segala keadaan, pikiran adalah pemimpin, segala sesuatu terbentuk oleh pikiran. Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang bersih dan bahagia, maka kebahagiaan akan mengikutinya, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan.” (Dhammapada, Syair 002) Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Berlindung Pada Tri Ratna

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Namo Buddhaya, Untuk menghindari hal-hal yang kurang baik dari luar diri kita, biasanya kita mencari perlindungan yang kiranya dapat membuat kita menjadi aman, nyaman, damai dan lain sebagainya. misalnya agar kita terhindar dari hujan maka kita mencari payung. Agar terhindar dari rasa dingin kita mencari jaket, dan lain sebagainya. dan hal-hal ini kita lakukan untuk kenyamanan, kebahagiaan dan mencapai tujuan kita. Begitu juga kita sebagai manusia yang masih membutuhkan keamanan, kenyamanan yang bukan hanya melindungi kita secara fisik tetapi juga melindungi kita secara batin ataupun spiritual. Ketika kita beragama Buddha, maka kita mengharapkan perlindungan dari Tri Ratna atau Ti Ratana. Apa shic Ti Ratana itu? Ti Ratana adalah Tiga Permata, yang terdiri dari Permata Buddha, Permata Dharma dan Pernata Sangha. Lalu kenapa kita berlindung kepada Ti Ratana? Bukankah Buddha sudah parinibbana, Dhamma Bisa kita baca melalui buku sedangkan  Sangha bukanlah super Hiro. Lalu bagaimana Ti Ratana ini melindungi kita? Buddha sebagai orang yang telah mencapai kesucian melindungi kita melalui ajaran beliau yang sampai sekarang masih terjaga dan tertulis dalam kitab suci. Jadi Buddha melindungi kita melalui ajaran yang beliau tinggalkan dan tauladan yang beliau contohkan. Bahwa kita bisa mencapai apa yg beliau capai dengan cara mempraktikkan ajaran beliau atau meneladani perilaku beliau. Dan berkat beliau menemukan Dharma  yang kita pelajari saat ini kita memahami kebenaran-kebenaran yang ada di semesta. Lalu kenapa kita Berlindung pada Dhamma? maknanya adalah kita melakukan perlindungan yang aktif dalam bentuk kita mempelajari dhamma dan menjadikan dhamma sebagai pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari. Dengan Praktik dhamma itulah kita dilindungi Dhamma dari hal-hal yang dapat menimbulkan penderitaan pada kehidupan kita. Kita berlindung Pada Sangha memiliki makna bahwa kita menjadikan Para Arya Sangha sebagai suri tauladan bagi kita umat awan. karena para Arya Sangha adalah sosok yang menjalankan moralitas sesuai Sila dan Vinaya dan juga penjaga dhamma. sehingga dengan harapan kita aktif berlindung kepada Arya Sangha kita lebih dekat dengan ajaran Dhamma dan memiliki moralitas yang baik. Dengan demikian dengan adanya perlindungan Ti Ratana kita dapat hidup bahagia dan terbebas dari penderitaan, seperti yang disampaikan oleh Buddha dalam kitab Anguttara Nikāya 6.10 – Mahānāma Sutta yang berbunyi: “Seorang umat mulia yang telah berlindung kepada Buddha,Dhamma, dan Sangha…tidak akan terlahir di alam sengsara.” Maka bapak/ibu marilah kita menguatkan batin kita,  Saat hati goyah, ingatlah Buddha. Saat jalan terasa gelap, peganglah Dhamma. Saat merasa sendiri, dekatlah dengan Sangha. maka kebahagian yang kita harapkan dapat tercapai. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Harapan Yang Tak Sejalan Dengan Kenyataan

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Setiap manusia memiliki harapan dan tujuan di dalam hidupnya. dengan usaha yang giat kerja keras berusaha untuk mewujudkannya, tetapi sayangnya tidak semua hal bisa terwujud sesuai harapan dan keinginan kita. Sehingga memunculkan kekecewaan dan kemarahan dalam diri, bahkan bisa menimbulkan depresi dalam diri jika tidak bisa menerima kenyataan yang ada. ketika keinginan atau harapan tidak tercapai dan kita tidak mengetahui maka muncul prasangka-prasangka yang mengkambing hitamkan hal-hal yang ada di luar diri kita. Misalkan menyalahkan kondisi keluarga kita, teman-teman kita dan bahkan bisa saja menyalahkan Tuhan atas kegagalan atau kondisi yang kita hadapi. Tetapi ketika kita belajar Dharma, Ajaran Buddha maka kita akan dapat melihat bahwa segala sesuatu, entah itu keberhasilan atau kegagalan kita tergantung hasil dari perbuatan kita. Buddha menyampaikan dalam kitab Itivuttaka 22: “Mereka yang melakukan perbuatan buruk, Menuai hasil buruk.Mereka yang melakukan perbuatan baik, Menuai hasil baik.Dengan melakukan perbuatan baik,Seseorang terlahir di alam bahagia;Dengan melakukan perbuatan buruk,Seseorang jatuh ke alam sengsara”.         Dalam petikan sutta diatas kita dapat belajar bahwa ketika gagal mencapai sesuatu harapan dan keinginan maka bukan kesalahan orang lain, Keluarga, saudara, teman atau bahkan Tuhan yang tidak mau membantu atau mendukung kita, tetapi karena kurangnya kebajikan kita dan hasil perbuatan masa lampau yang telah kita lakukan. karena ketika memang kondisi dan kebajikan kita cukup dan karma masa lalu kita baik, tanpa kita minta dukungan dari orang lain, maka mereka akan datang sendiri untuk membantu dan menolong kita dan harapan keinginan kita tercapai tanpa ada halangan.         Oleh karena itu, ketika kita memiliki harapan dan keinginan maka harus mengkondisikan pikiran dan perbuatan kita yang dapat mendukung agar keinginan dan harapan menjadi kenyataan dan terus menambah kebajikan-kebajikan yang baru. Buddha bersabda: “Makhluk-makhluk adalah pemilik kamma, pewaris kamma, terlahir dari kamma, berkerabat dengan kamma, berlindung pada kamma. Kamma-lah yang membedakan makhluk-makhluk menjadi rendah dan luhur.”  (Majjhima Nikāya 135 – Cūlakammavibhanga Sutta) Dengan kita belajar Dharma dan memahami hukum Kamma, Maka akan menjadi lebih dewasa dan Bijaksana, karena dengan memahami Hukum Kamma kita belajar bertanggung jawab pada setiap perbuatan yang kita lakukan, Baik melalui Ucapan, Pikiran dan badan Jasmani. Ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan dan keinginan, tidak perlu meratapi nasib dan sibuk mencari siapa yang salah dan siapa yang bisa dipersalahkan, tetapi dengan berani menghadapi masalah karena kita tahu setiap hal yang terjadi adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen