KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

📌 Data Vihara

📌 Artikel

Artikel
Khafid

Berlindung Pada Tri Ratna

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Namo Buddhaya, Untuk menghindari hal-hal yang kurang baik dari luar diri kita, biasanya kita mencari perlindungan yang kiranya dapat membuat kita menjadi aman, nyaman, damai dan lain sebagainya. misalnya agar kita terhindar dari hujan maka kita mencari payung. Agar terhindar dari rasa dingin kita mencari jaket, dan lain sebagainya. dan hal-hal ini kita lakukan untuk kenyamanan, kebahagiaan dan mencapai tujuan kita. Begitu juga kita sebagai manusia yang masih membutuhkan keamanan, kenyamanan yang bukan hanya melindungi kita secara fisik tetapi juga melindungi kita secara batin ataupun spiritual. Ketika kita beragama Buddha, maka kita mengharapkan perlindungan dari Tri Ratna atau Ti Ratana. Apa shic Ti Ratana itu? Ti Ratana adalah Tiga Permata, yang terdiri dari Permata Buddha, Permata Dharma dan Pernata Sangha. Lalu kenapa kita berlindung kepada Ti Ratana? Bukankah Buddha sudah parinibbana, Dhamma Bisa kita baca melalui buku sedangkan  Sangha bukanlah super Hiro. Lalu bagaimana Ti Ratana ini melindungi kita? Buddha sebagai orang yang telah mencapai kesucian melindungi kita melalui ajaran beliau yang sampai sekarang masih terjaga dan tertulis dalam kitab suci. Jadi Buddha melindungi kita melalui ajaran yang beliau tinggalkan dan tauladan yang beliau contohkan. Bahwa kita bisa mencapai apa yg beliau capai dengan cara mempraktikkan ajaran beliau atau meneladani perilaku beliau. Dan berkat beliau menemukan Dharma  yang kita pelajari saat ini kita memahami kebenaran-kebenaran yang ada di semesta. Lalu kenapa kita Berlindung pada Dhamma? maknanya adalah kita melakukan perlindungan yang aktif dalam bentuk kita mempelajari dhamma dan menjadikan dhamma sebagai pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari. Dengan Praktik dhamma itulah kita dilindungi Dhamma dari hal-hal yang dapat menimbulkan penderitaan pada kehidupan kita. Kita berlindung Pada Sangha memiliki makna bahwa kita menjadikan Para Arya Sangha sebagai suri tauladan bagi kita umat awan. karena para Arya Sangha adalah sosok yang menjalankan moralitas sesuai Sila dan Vinaya dan juga penjaga dhamma. sehingga dengan harapan kita aktif berlindung kepada Arya Sangha kita lebih dekat dengan ajaran Dhamma dan memiliki moralitas yang baik. Dengan demikian dengan adanya perlindungan Ti Ratana kita dapat hidup bahagia dan terbebas dari penderitaan, seperti yang disampaikan oleh Buddha dalam kitab Anguttara Nikāya 6.10 – Mahānāma Sutta yang berbunyi: “Seorang umat mulia yang telah berlindung kepada Buddha,Dhamma, dan Sangha…tidak akan terlahir di alam sengsara.” Maka bapak/ibu marilah kita menguatkan batin kita,  Saat hati goyah, ingatlah Buddha. Saat jalan terasa gelap, peganglah Dhamma. Saat merasa sendiri, dekatlah dengan Sangha. maka kebahagian yang kita harapkan dapat tercapai. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Harapan Yang Tak Sejalan Dengan Kenyataan

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Setiap manusia memiliki harapan dan tujuan di dalam hidupnya. dengan usaha yang giat kerja keras berusaha untuk mewujudkannya, tetapi sayangnya tidak semua hal bisa terwujud sesuai harapan dan keinginan kita. Sehingga memunculkan kekecewaan dan kemarahan dalam diri, bahkan bisa menimbulkan depresi dalam diri jika tidak bisa menerima kenyataan yang ada. ketika keinginan atau harapan tidak tercapai dan kita tidak mengetahui maka muncul prasangka-prasangka yang mengkambing hitamkan hal-hal yang ada di luar diri kita. Misalkan menyalahkan kondisi keluarga kita, teman-teman kita dan bahkan bisa saja menyalahkan Tuhan atas kegagalan atau kondisi yang kita hadapi. Tetapi ketika kita belajar Dharma, Ajaran Buddha maka kita akan dapat melihat bahwa segala sesuatu, entah itu keberhasilan atau kegagalan kita tergantung hasil dari perbuatan kita. Buddha menyampaikan dalam kitab Itivuttaka 22: “Mereka yang melakukan perbuatan buruk, Menuai hasil buruk.Mereka yang melakukan perbuatan baik, Menuai hasil baik.Dengan melakukan perbuatan baik,Seseorang terlahir di alam bahagia;Dengan melakukan perbuatan buruk,Seseorang jatuh ke alam sengsara”.         Dalam petikan sutta diatas kita dapat belajar bahwa ketika gagal mencapai sesuatu harapan dan keinginan maka bukan kesalahan orang lain, Keluarga, saudara, teman atau bahkan Tuhan yang tidak mau membantu atau mendukung kita, tetapi karena kurangnya kebajikan kita dan hasil perbuatan masa lampau yang telah kita lakukan. karena ketika memang kondisi dan kebajikan kita cukup dan karma masa lalu kita baik, tanpa kita minta dukungan dari orang lain, maka mereka akan datang sendiri untuk membantu dan menolong kita dan harapan keinginan kita tercapai tanpa ada halangan.         Oleh karena itu, ketika kita memiliki harapan dan keinginan maka harus mengkondisikan pikiran dan perbuatan kita yang dapat mendukung agar keinginan dan harapan menjadi kenyataan dan terus menambah kebajikan-kebajikan yang baru. Buddha bersabda: “Makhluk-makhluk adalah pemilik kamma, pewaris kamma, terlahir dari kamma, berkerabat dengan kamma, berlindung pada kamma. Kamma-lah yang membedakan makhluk-makhluk menjadi rendah dan luhur.”  (Majjhima Nikāya 135 – Cūlakammavibhanga Sutta) Dengan kita belajar Dharma dan memahami hukum Kamma, Maka akan menjadi lebih dewasa dan Bijaksana, karena dengan memahami Hukum Kamma kita belajar bertanggung jawab pada setiap perbuatan yang kita lakukan, Baik melalui Ucapan, Pikiran dan badan Jasmani. Ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan dan keinginan, tidak perlu meratapi nasib dan sibuk mencari siapa yang salah dan siapa yang bisa dipersalahkan, tetapi dengan berani menghadapi masalah karena kita tahu setiap hal yang terjadi adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Kebahagiaanmu Tergantung Pola Pikirmu

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Terlahir menjadi manusia merupakan suatu berkah yang luar biasa. Butuh banyak kebajikan untuk mengkondisikan kita terlahir dialam Manusia, sehingga selayaknya kita bersyukur dan bahagia karena berkat kebajikan yang kita lakukan kita memiliki kehidupan saat ini. Terlepas bagaimana kehidupan kita saat ini yang terkadang masih mengalami penderitaan yang disebabkan perbuatan kita saat ini maupun masa lampau masih ada harapan dan kebahagiaan yang dapat kita nikmati saat ini melalui pengkondisian Pikiran, Ucapan dan perbuatan kita. Buddha bersabda dalam Dhammapada, Syair 1 yang berbunyi: “Segala sesuatu didahului oleh pikiran, pikiran adalah pemimpin, segala sesuatu terbentuk oleh pikiran. Bila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang jernih dan bersih, maka kebahagiaan akan mengikutinya,seperti bayangan yang tak pernah meninggalkan”. Dari petikan Syair Dhammapa di atas dapat kita pahami bawasannya kalau ingin hidup bahagia maka pikiran kita selayaknya diarahkan pada hal-hal yang baik dan benar yang mengkondisikan menuju kebahagiaan, jangan diarahkan kepada hal-hal yang menjerumuskan pada penderitaaan. Kemana kondisi kehidupan kita capai, tergantung kearah mana pikiran kita bawa. Oleh karena itu, akan di isi dengan apa pikiran kita dan point apa yang ingin kita capai merupakan pilihan kita sendiri, dan ketika kita ingin dan memilih untuk bahagia maka jangan lagi membebani diri kita dengan hal-hal yang tidak berguna dan bahkan itu menjadi sampah bagi pikiran kita. Karena terkadang kita lebih suka membebani pikiran kita dengan masalah orang lain dan Kepo dengan kehidupan orang lain yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan kita atau menyimpan rasa benci dan iri terhadap orang lain yang terkadang orang yang kita benci tidak menyadari kebencian kita bahkan tidak peduli pada kita sehingga ketika bertemu tanpa rasa bersalah menyapa kita dengan ramah dan senyuman. dan pada akhirnya kebencian yang kita simpan itu semakin menyakiti diri kita sendiri. Hal-hal ini sering kali terjadi dan akhirnya menghambat kita untuk bahagia, oleh karena itu maka mari kita lepaskan sampah-sampah pikiran yang disebabkan oleh kebencian, kemarahan, rasa tidak puas. karena sejatinya kita hidup untuk bahagia dan kita punya kesempatan untuk bahagia. Sebagai umat Buddha kita hidup bukan hanya untuk masa lampau atau masa akan datang tetapi kita juga hidup untuk masa sekarang, sehingga selayaknya kita menikmati hidup ini dengan bahagia, dengan menjaga Pikiran kita, dan mengarahkan pada hal-hal yang mengkondisikan diri kita kearah kebahagiaan yaitu mengembangkan pikiran yang penuh cinta kasih, welas asih dan kebijaksanaan. “Pikiran yang membawa kebencian, keserakahan, dan kekerasan menimbulkan penderitaan; pikiran yang bebas dari itu menumbuhkan kebahagiaan dan kebijaksanaan.”(Majjhima Nikāya 19 – Dvedhāvitakka Sutta) Teguh Prassetya, S.Dt.B (Penyuluh Buddha, Kab. Kebumen)

Read More »
Artikel
Khafid

Puja Bakti Menjadi Sarana Pembinaan Diri

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Sebagian umat Buddha menganggap ritual puja bakti menjadi hal yang tidak penting. Pemikiran ini muncul dari perspektif bahwa penghormatan tertinggi kepada Buddha adalah dengan mempraktikkan Dhamma seperti yang tertulis dalam kitab Mahaparinibbana Sutta. Ada juga mereka yang kurang tepat dalam memahami makna yang terkandung dalam Syair Dhammapadake 271, yang berbunyi “Tidak dengan hanya melakukan ritual dan upacara seseorang menjadi suci. Yang benar-benar suci adalah mereka yang mengakhiri noda batin.” Karena makna dari ayat diatas sebenarnya adalah ritual-ritual jaman dahulu yang mengorbankan makhluk hidup ataupun menimbulkan kesia-siaan, sehingga itu dapat menimbulkan kekotoran batin.         Berbeda dengan upacara atau puja bakti yang kita jalankan saat ini, yaitu puja yang kita lakukan adalah bentuk praktik dari mengulang ajaran Buddha dan lebih menitik beratkan kepada pembinaan diri dan menambah Kebajikan. Contoh halnya seperti puja bakti yang dilakukan dalam tradisi Theravada dalam puja bakti mereka membaca dan mengulang sutta, misalnya Karaniya Metta Sutta, Ratana Sutta, Manggala Sutta dan sutta-sutta lainnya.          Dalam Puja bakti yang kita lakukan ada beberapa halyang kita latih anatara lain kesabaran. Ketika pemimpin puja bakti lama saat meditasi atau membaca paritta atau sutta yang Panjang itu bentuk bagaimana kita melatih kesabaran. Saat membaca paritta juga melatih Konsentrasi, ketika membaca paritta apakah kita tetap fokus pada paritta yang kita baca atau pikiran kita melayang entah kemana. Selain itu ketika puja bakti kita menambah Kebajikan melalui pembacaan paritta yang berisi ajaran Buddha, meditasi dan juga berdana saat menyanyikan gita dana paramita.         Sehingga kurang tepat saat ini jika Puja bakti atau ritula tidak penting atau di anggap sebagai noda batin. Karena banyak hal baik yang dapat kita lakukan melalui puja bakti, ini juga dapat kita lihat bahwa Bhikkhu Sangha pun masih melakukannya yaitu Chanting pagi dan sore hari. Ini menunjukkan bahwa Puja baktipun menjadi sarana yang tepat untuk melatih diri bagi kita yang masih tahap belajar. Mungkin akan berbeda lagi bagi mereka yang sudah mencapai tingkat pencerahan tertentu sehingga ritual bukan menjadi prioritas untuk sarana latihan atau pembinaan diri. Tetapi bagi kita para siswa yang batin belum mencapai pencerahan, yang masih belum mampu mengendalikan batin dan pikiran, belum memiliki keyakinan yang kuat, maka Puja bakti adalah sarana yang tepat untuk membina diri.         Puja bakti bukan hanya persembahan lahiriah (bunga, dupa, lilin), tetapi persembahan batin melalui pelaksanaan kebajikan, meditasi, dan kebijaksanaan. Manfaatnya adalah meningkatnya kebersihan batin dan kedekatan dengan sifat-sifat luhur Sang Buddha. Selain itu Melakukan puja bakti menumbuhkan ketenangan batin (samatha), menghapus rasa takut, dan memperkuat keyakinan pada Tiratana (Tiga Permata). Puja yang disertai perenungan menumbuhkan kebahagiaan dan rasa damai yang mendalam. Dalam Mahanama Sutta (Aṅguttara Nikāya 6.10) Sang Buddha menjelaskan kepada Mahānāma bahwa “Dengan mengingat Buddha, Dhamma, dan Saṅgha secara tulus, pikiran menjadi tenang, terang, dan terbebas dari ketakutan.” Teguh Prassetya, S.Dt.B (Penyuluh Buddha, Kab. Kebumen)

Read More »
Artikel
Khafid

Sarana Puja Dalam Kemegahan Altar Pemujaan

Penyuluh Buddha, Kab. Kebumen – “Dua macam puja (penghormatan, oh para bhikkhu, yaitu: pujaan dengan benda (āmisa-pūjā) dan pujaan dengan praktik (paṭipatti-pūjā). Di antara keduanya, pujaan dengan praktik adalah yang tertinggi. (Anguttara Nikāya II.88)         Puja bakti agama Buddha di vihara tidak terlepas dari Altar dan Sarana puja. Apalagi ketika perayaan hari besar agama Buddha, maka berbagai macam hiasan dan sarana puja seakan memenuhi altar. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa Syukur.         Sarana Puja juga merupakan symbol-simbol atau perlambangan yang memiliki Filosofi tersendiri bukan hanya sekedar hiasan yang memperindah altar. Sehingga tidak semua hal dapat di persembahkan atau dijadikan sarana puja. Adapun yang biasanya dijadikan sarana puja di altar adalah, Rupang Buddha (Patung Buddha), Buah, Air, Dupa, Bunga, Lilin/Pelita.         Rupang Buddha sebagai manifestasi dari Welas Asih dan kebijaksanaan Buddha. Simbol Keagungan Buddha dan pengingat jasa beliau yang telah mengajarkan Dhamma. Perlu dipahami bukan Rupangnya yang kita sembah tetapi jasa Kebajikan Buddha yang kita hormati dan kita renungkan. Rupang Buddha hanya sebagai sarana agar kita lebih mudah dalam melakukan pemujaan (penghormatan). Meski dalam tahap tertentu tanpa adanya rupang Buddha kita tetap dapat melakukan Puja Bakti.         Dalam sarana puja, Buah melambangkan perbuatan atau karma. Karena segala hal yang kita lakukan, sekecil apapun perbuatan kita, baik atau buruk akan menimbulkan akibat atau Buah karma (vipaka). Jadi persembahan Buah mengingatkan kita untuk bertekad menanam Kebajikan sehingga kita dapat memanen kebahagiaan. Selain Buah, di altar biasanya ada air. Air yang jernih melambangkan pikiran yang bersih dari kekotoran batin (kilesa) seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Umat yang mempersembahkan air di altar diingatkan untuk menjaga pikiran tetap murni dan tenang seperti air yang tidak keruh. Air juga melambangkan sikap rendah hati dan tidak sombong karena sifat air yang mengalir ke tempat yang rendah,  sifat yang penting bagi seorang praktisi Dhamma. Ketika memasuki Dharmasala maka kita akan mencium wewangian yang khas dari asap dupa yang di bakar.  Asap dan aroma dupa yang harum melambangkan kebajikan, moralitas (sīla), dan perbuatan baik yang menyebar ke segala arah. Sebagaimana dupa yang terbakar menebarkan wangi, demikian pula perilaku bajik seseorang akan dikenal dan dihormati oleh banyak orang. Dupa yang habis terbakar melambangkan pengorbanan tanpa pamrih. Ia memberi keharuman sambil “menghabiskan dirinya” simbol ketulusan dalam berdana dan berlatih Dhamma. “Harumnya bunga, tidak dapat melawan arah angin. Begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati. Tetapi harumnya kebajikan, dapat melawan arah angin; harumnya nama orang bajik dapat menyebar ke segenap penjuru”. (Dhammapada, Syair 54) Bunga adalah salah satu persembahan yang paling umum dan penuh makna simbolis. Bunga yang indah pada awalnya akan layu dan gugur. Hal ini mengingatkan umat bahwa semua hal yang indah dan menyenangkan bersifat sementara tidak kekal, berubah, dan akhirnya lenyap.  Bunga yang dipersembahkan sebagai tanda hormat kepada Buddha, sebagai guru agung yang telah menunjukkan jalan menuju pembebasan. Yang terakhir adalah sarana Lilin atau Pelita. Lilin atau pelita dalam altar Buddhis melambangkan penerangan, kebijaksanaan, keikhlasan, dan semangat untuk menjadi pelita bagi sesama makhluk. Cahaya di altar mengingatkan bahwa Buddha adalah penerang dunia (lokānukampā). Dari hal diatas dapat kita pahami Bersama bahwa sarana puja dialtar bukan bentuk hiasan atau sesaji bahkan berhala, tetapi sebagai simbol-simbol yang memiliki makna mendalam yang dapat mengingatkan kita dalam menjaga perilaku agar selalu berpedoman pada Buddha Dhamma atau ajaran Buddha. Teguh Prassetya, S.Dt.B (Penyuluh Buddha, Kab. Kebumen)

Read More »
Artikel
Faozan

Masa Depanku Ditentukan dari Karmaku

Penyuluh Buddha Kebumen – “Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seseorang pun yang dapat mensucikan orang lain”. (Dhammapada, Syair 165)         Didalam agama Buddha ada satu hukum kesunyataan yang mutlak, yang disebut dengan hukum Karma atau Kamma yang diartikan sebagai perbuatan. Perbuatan ini muncul dari tiga hal pada manusia yaitu melalui Ucapan, badan jasmani dan Pikiran yang di dasari oleh niat atau Cetana. Karma bukan hanya meliputi perbuatan Buruk tetapi juga Perbuatan baik, karena hasil dari suatu perbuatan itu tergantung dari Niatnya, sehingga perbuatan baik pasti diawali dengan niat Baik begitu pula sebaliknya. “Segala sesuatu didahului oleh pikiran, dikuasai oleh pikiran, dibentuk oleh pikiran. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti jejak kaki lembu.” (Dhammapada, Syair 01)         Sekecil apapun perbuatan kita pasti menimbulkan Vipaka. Vipaka yaitu akibat atau hasil yang muncul dari perbuatan tersebut. Jadi setiap perbuatan baik atau buruk yang kita lakukan akan memunculkan akibat sesuai perbuatan yang kita lakukan. Bisa berbuah pada saat ini, besok, lusa atau bahkan di kehidupan yang akan datang tergantung kondisi pendukung berbuahnya karma yang kita lakukan. Hasil karma yang kita lakukan tidak selalu langsung berbuah saat itu juga tetapi adanya kondisi-kondisi tertentu dan itu bukan hanya satu sebab tetapi banyak sebab. Jika kita ingin perbuatan-perbuatan baik kita cepat berbuah maka perlu dikondisikan dengan melakukan Kebajikan-kebajikan yang baru agar cepat berbuah.         Tetapi, terkadang orang yang kurang bijaksana tidak menyadari dan mengira perbuatan buruknya tidak akan berbuah sehingga dia terus menerus melakukan hal buruk dan pada akhirnya karena kurangnya Kebajikan maka penderitaan menghampirinya, seperti yang tertulis dalam kitab Dhammapada, Syair 69 : “Selama buah dari suatu perbuatan jahat belum masak, maka orang bodoh akan menganggapnya manis seperti madu; tetapi apabila buah perbuatan itu telah masak,maka ia akan merasakan pahitnya penderitaan”. Oleh karena itu kita harus bijak dalam berbuat, karena pada dasarnya kondisi kita dimasa akan datang tergantung dari perbuatan kita saat ini. Kitalah yang mendesain masa depan kita melalui perbuatan kita sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Hanya melalui Kebajikan-kebajikan yang lakukan, kita akan terselamatkan dari segala penderitaan dan mencapai kebahagiaan. By. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kebumen

Read More »

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen