KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

📌 Data Vihara

📌 Artikel

Artikel
Khafid

HIDUP SEIMBANG SESUAI KEMAMPUAN (Berdasarkan Dighajanu Sutta)

Marilah kita merenungkan ajaran Buddha tentang hidup seimbang sesuai kemampuan, sebagaimana diajarkan dalam Dighajanu Sutta. Buddha bersabda: “seorang perumah tangga mengetahui pendapatannya dan pengeluarannya, dan hidup secara seimbang tidak boros dan tidak pula kikir, berpikir Dengan cara ini, pendapatanku akan melampaui pengeluaranku, dan pengeluaranku tidak akan melampaui pendapatanku.”         Ajaran ini sederhana, namun sangat dalam maknanya. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menderita bukan karena kekurangan semata, tetapi karena tidak mampu mengelola apa yang dimiliki.          Hidup seimbang dimulai dari kesadaran, berapa penghasilan kita, dan bagaimana kita menggunakannya. Sering kali, penderitaan muncul karena kita ingin hidup seperti orang lain.Melihat orang lain membeli sesuatu, kita pun ikut membeli, meskipun sebenarnya tidak mampu. Dalam Dhamma, ini bukan kebijaksanaan melainkan mengikuti keinginan (tanhā). Orang bijak akan bertanya: “Apakah ini sesuai dengan kemampuanku?”        Sang Buddha menekankan dua hal yang harus dihindari yaitu Tidak boros (atidhāvati), tidak hidup berlebihan, tidak terjebak gaya hidup konsumtif. Yang kedua Tidak kikir (macchariya) tetap mau berbagi, tidak menahan secara berlebihan. Hidup yang benar bukan ekstrem kiri atau kanan, melainkan jalan tengah. Karena jika boros maka kita akan kekurangan dan jika kikir maka kita kehilangan kebahagiaan dan kesempatan berbuat baik. Sang Buddha memberikan perumpamaan yang indah: “Bagaikan seorang penimbang atau murid penimbang yang mengetahui:‘Dengan sedikit ini berkurang, dengan sedikit ini bertambah,’ demikian pula seorang perumh tangga mengetahui pendapatan dan pengeluarannya, dan hidup seimbang tidak boros dan tidak kikir.”         Artinya, kita harus seperti orang yang menimbang dengan teliti, harus tahu kapan harus mengeluarkan dan tahu kapan harus menahan lalu tahu kapan harus menyimpan. Karena hidup menjadi stabil ketika kita menimbang dengan kebijaksanaan, bukan dengan keinginan.        Lalu bagaimana kita mempraktikkannya? Kita dapat mempraktikkan dengan 4 cara yaitu dengang membuat anggaran sederhana dalam kehidupan, Mendahulukan kebutuhan daripada keinginan, Menyisihkan untuk tabungan dan dana darurat, dan yang terakhir Menggunakan sebagian untuk kebajikan (dāna). Dengan demikian, hidup kita menjadi akan lebih tenang  dan tidak diliputi kecemasan  serta penuh rasa cukup (santuṭṭhi).        Buddha mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah memiliki banyak,tetapi merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Orang yang hidup seimbang tidak akan iri pada orang lain, dia tidak mudah gelisah karena kekurangan  dan tidak sombong karena kelebihan. Ia akan hidup damai, karena hidupnya selaras dengan kebijaksanaan.         Hidup seimbang bukan berarti hidup terbatas, tetapi hidup dengan kesadaran dan kebijaksanaan. Ketika kita mampu mengendalikan pengeluaran, kita sedang melatih diri mengendalikan keinginan. Dan ketika keinginan terkendali, di sanalah kebahagiaan sejati mulai tumbuh. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Masalahmu Berbeda dengan Masalahku

Setiap individu memiliki masalah masing-masing, sesuai kondisi, keinginan dan hasil perbuatan masing-masing di masa lampau. Bahkan setiap jenjang umur akan mengalami permasalahan yang berbeda. Misalnya ketika kita masih bayi maka permasalahannya adalah kebutuhan makan dan susu, lalu masa anak-anak akan menambah satu maslalah dengan adanya keinginan untuk bermain dan memiliki mainan. Masuk masa sekolah akan tambah masalah dan kondisi baru berupa interaksi dengan lingkungan dan pembelajaran disekolah. Ketika umur bertambah maka akan bertambah lagi masalah, bertambah lagi keinginan. Hal-hal ini tidak terlepas dari hasil karma atau perbuatan kita dimasa lampau. Sehingga permasalahan yang dihadapi setiap manusia atau individu akan berbeda-beda tergantung perbuatan yang telah dilakukan, baik kehidupan sekarang ataupun kehidupan yang lalu. Seperti yang disampaikan oleh Buddha dalam kitab Cūlakammavibhanga Sutta : “Makhluk adalah pemilik dari perbuatannya (kamma), pewaris dari perbuatannya, lahir dari perbuatannya, berkerabat dengan perbuatannya, berlindung pada perbuatannya. Perbuatanlah yang membedakan makhluk menjadi rendah dan tinggi.” Dari Petikan ayat kitab suci di atas kita dapat memahami bahwa apapun yang terjadi pada diri kita selayaknya kita sendiri yang harus berani untuk bertanggung jawab apapun kondisi dan permasalahan yang kita hadapi. Sehingga kita tidak perlu mencari kambing hitam atau mencari faktor lain untuk dipersalahkan ketika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi yang kita inginkan. Karena yang perlu kita lakukan yang pertama, menerima itu sebagai bagian dari hasil perbuatan kita sendiri, kedua menyelesaikan masalah dengan mencari solusi bukan mencari kambing hitam, ketiga berusaha bagaimana cara agar hal ini tidak terulang di kehidupan atau masa yang akan datang, yaitu dengan cara memperbaiki diri hidup di dalam Dhamma. Dan yang keempat adalah jangan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Terkadang sadar atau tidak sadar dan entah dengan tujuan apa kita membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. padahal setiap individu memiliki konflik dan permasalahan masing-masing, yang kita anggap hidupnya bahagia, terkadang masalahnya mungkin lebih berat dibandingkan yang kita miliki atau sebaliknya. Jangan iri atau mengeluhkan kehidupan kita atau bahkan selalu membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, karena pada dasarnya masalah manusia akan selalu berbeda tergantung dari hasil perbuatannya. Kita adalah pewaris dari perbuatan kita sendiri. Tidak ada yang bisa kita bawa selain karma. Oleh karena itu, setiap pikiran, ucapan, dan tindakan adalah benih masa depan. Dengan berbuat baik hari ini, kita sedang menanam kebahagiaan untuk esok. Kebahagiaan sejati tidak datang dari luar, tetapi tumbuh dari hati yang bijaksana. Saat kita hidup benar, menjaga ucapan dan tindakan, serta melatih pikiran, kebahagiaan muncul dengan sendirinya. Seperti bayangan yang selalu mengikuti, kedamaian hadir bagi mereka yang berjalan di jalan Dhamma. “Pikiran adalah pelopor dari segala keadaan, pikiran adalah pemimpin, segala sesuatu terbentuk oleh pikiran. Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang bersih dan bahagia, maka kebahagiaan akan mengikutinya, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan.” (Dhammapada, Syair 002) Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Berlindung Pada Tri Ratna

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Namo Buddhaya, Untuk menghindari hal-hal yang kurang baik dari luar diri kita, biasanya kita mencari perlindungan yang kiranya dapat membuat kita menjadi aman, nyaman, damai dan lain sebagainya. misalnya agar kita terhindar dari hujan maka kita mencari payung. Agar terhindar dari rasa dingin kita mencari jaket, dan lain sebagainya. dan hal-hal ini kita lakukan untuk kenyamanan, kebahagiaan dan mencapai tujuan kita. Begitu juga kita sebagai manusia yang masih membutuhkan keamanan, kenyamanan yang bukan hanya melindungi kita secara fisik tetapi juga melindungi kita secara batin ataupun spiritual. Ketika kita beragama Buddha, maka kita mengharapkan perlindungan dari Tri Ratna atau Ti Ratana. Apa shic Ti Ratana itu? Ti Ratana adalah Tiga Permata, yang terdiri dari Permata Buddha, Permata Dharma dan Pernata Sangha. Lalu kenapa kita berlindung kepada Ti Ratana? Bukankah Buddha sudah parinibbana, Dhamma Bisa kita baca melalui buku sedangkan  Sangha bukanlah super Hiro. Lalu bagaimana Ti Ratana ini melindungi kita? Buddha sebagai orang yang telah mencapai kesucian melindungi kita melalui ajaran beliau yang sampai sekarang masih terjaga dan tertulis dalam kitab suci. Jadi Buddha melindungi kita melalui ajaran yang beliau tinggalkan dan tauladan yang beliau contohkan. Bahwa kita bisa mencapai apa yg beliau capai dengan cara mempraktikkan ajaran beliau atau meneladani perilaku beliau. Dan berkat beliau menemukan Dharma  yang kita pelajari saat ini kita memahami kebenaran-kebenaran yang ada di semesta. Lalu kenapa kita Berlindung pada Dhamma? maknanya adalah kita melakukan perlindungan yang aktif dalam bentuk kita mempelajari dhamma dan menjadikan dhamma sebagai pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari. Dengan Praktik dhamma itulah kita dilindungi Dhamma dari hal-hal yang dapat menimbulkan penderitaan pada kehidupan kita. Kita berlindung Pada Sangha memiliki makna bahwa kita menjadikan Para Arya Sangha sebagai suri tauladan bagi kita umat awan. karena para Arya Sangha adalah sosok yang menjalankan moralitas sesuai Sila dan Vinaya dan juga penjaga dhamma. sehingga dengan harapan kita aktif berlindung kepada Arya Sangha kita lebih dekat dengan ajaran Dhamma dan memiliki moralitas yang baik. Dengan demikian dengan adanya perlindungan Ti Ratana kita dapat hidup bahagia dan terbebas dari penderitaan, seperti yang disampaikan oleh Buddha dalam kitab Anguttara Nikāya 6.10 – Mahānāma Sutta yang berbunyi: “Seorang umat mulia yang telah berlindung kepada Buddha,Dhamma, dan Sangha…tidak akan terlahir di alam sengsara.” Maka bapak/ibu marilah kita menguatkan batin kita,  Saat hati goyah, ingatlah Buddha. Saat jalan terasa gelap, peganglah Dhamma. Saat merasa sendiri, dekatlah dengan Sangha. maka kebahagian yang kita harapkan dapat tercapai. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Harapan Yang Tak Sejalan Dengan Kenyataan

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Setiap manusia memiliki harapan dan tujuan di dalam hidupnya. dengan usaha yang giat kerja keras berusaha untuk mewujudkannya, tetapi sayangnya tidak semua hal bisa terwujud sesuai harapan dan keinginan kita. Sehingga memunculkan kekecewaan dan kemarahan dalam diri, bahkan bisa menimbulkan depresi dalam diri jika tidak bisa menerima kenyataan yang ada. ketika keinginan atau harapan tidak tercapai dan kita tidak mengetahui maka muncul prasangka-prasangka yang mengkambing hitamkan hal-hal yang ada di luar diri kita. Misalkan menyalahkan kondisi keluarga kita, teman-teman kita dan bahkan bisa saja menyalahkan Tuhan atas kegagalan atau kondisi yang kita hadapi. Tetapi ketika kita belajar Dharma, Ajaran Buddha maka kita akan dapat melihat bahwa segala sesuatu, entah itu keberhasilan atau kegagalan kita tergantung hasil dari perbuatan kita. Buddha menyampaikan dalam kitab Itivuttaka 22: “Mereka yang melakukan perbuatan buruk, Menuai hasil buruk.Mereka yang melakukan perbuatan baik, Menuai hasil baik.Dengan melakukan perbuatan baik,Seseorang terlahir di alam bahagia;Dengan melakukan perbuatan buruk,Seseorang jatuh ke alam sengsara”.         Dalam petikan sutta diatas kita dapat belajar bahwa ketika gagal mencapai sesuatu harapan dan keinginan maka bukan kesalahan orang lain, Keluarga, saudara, teman atau bahkan Tuhan yang tidak mau membantu atau mendukung kita, tetapi karena kurangnya kebajikan kita dan hasil perbuatan masa lampau yang telah kita lakukan. karena ketika memang kondisi dan kebajikan kita cukup dan karma masa lalu kita baik, tanpa kita minta dukungan dari orang lain, maka mereka akan datang sendiri untuk membantu dan menolong kita dan harapan keinginan kita tercapai tanpa ada halangan.         Oleh karena itu, ketika kita memiliki harapan dan keinginan maka harus mengkondisikan pikiran dan perbuatan kita yang dapat mendukung agar keinginan dan harapan menjadi kenyataan dan terus menambah kebajikan-kebajikan yang baru. Buddha bersabda: “Makhluk-makhluk adalah pemilik kamma, pewaris kamma, terlahir dari kamma, berkerabat dengan kamma, berlindung pada kamma. Kamma-lah yang membedakan makhluk-makhluk menjadi rendah dan luhur.”  (Majjhima Nikāya 135 – Cūlakammavibhanga Sutta) Dengan kita belajar Dharma dan memahami hukum Kamma, Maka akan menjadi lebih dewasa dan Bijaksana, karena dengan memahami Hukum Kamma kita belajar bertanggung jawab pada setiap perbuatan yang kita lakukan, Baik melalui Ucapan, Pikiran dan badan Jasmani. Ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan dan keinginan, tidak perlu meratapi nasib dan sibuk mencari siapa yang salah dan siapa yang bisa dipersalahkan, tetapi dengan berani menghadapi masalah karena kita tahu setiap hal yang terjadi adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Teguh Prassetya Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Read More »
Artikel
Khafid

Kebahagiaanmu Tergantung Pola Pikirmu

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Terlahir menjadi manusia merupakan suatu berkah yang luar biasa. Butuh banyak kebajikan untuk mengkondisikan kita terlahir dialam Manusia, sehingga selayaknya kita bersyukur dan bahagia karena berkat kebajikan yang kita lakukan kita memiliki kehidupan saat ini. Terlepas bagaimana kehidupan kita saat ini yang terkadang masih mengalami penderitaan yang disebabkan perbuatan kita saat ini maupun masa lampau masih ada harapan dan kebahagiaan yang dapat kita nikmati saat ini melalui pengkondisian Pikiran, Ucapan dan perbuatan kita. Buddha bersabda dalam Dhammapada, Syair 1 yang berbunyi: “Segala sesuatu didahului oleh pikiran, pikiran adalah pemimpin, segala sesuatu terbentuk oleh pikiran. Bila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang jernih dan bersih, maka kebahagiaan akan mengikutinya,seperti bayangan yang tak pernah meninggalkan”. Dari petikan Syair Dhammapa di atas dapat kita pahami bawasannya kalau ingin hidup bahagia maka pikiran kita selayaknya diarahkan pada hal-hal yang baik dan benar yang mengkondisikan menuju kebahagiaan, jangan diarahkan kepada hal-hal yang menjerumuskan pada penderitaaan. Kemana kondisi kehidupan kita capai, tergantung kearah mana pikiran kita bawa. Oleh karena itu, akan di isi dengan apa pikiran kita dan point apa yang ingin kita capai merupakan pilihan kita sendiri, dan ketika kita ingin dan memilih untuk bahagia maka jangan lagi membebani diri kita dengan hal-hal yang tidak berguna dan bahkan itu menjadi sampah bagi pikiran kita. Karena terkadang kita lebih suka membebani pikiran kita dengan masalah orang lain dan Kepo dengan kehidupan orang lain yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan kita atau menyimpan rasa benci dan iri terhadap orang lain yang terkadang orang yang kita benci tidak menyadari kebencian kita bahkan tidak peduli pada kita sehingga ketika bertemu tanpa rasa bersalah menyapa kita dengan ramah dan senyuman. dan pada akhirnya kebencian yang kita simpan itu semakin menyakiti diri kita sendiri. Hal-hal ini sering kali terjadi dan akhirnya menghambat kita untuk bahagia, oleh karena itu maka mari kita lepaskan sampah-sampah pikiran yang disebabkan oleh kebencian, kemarahan, rasa tidak puas. karena sejatinya kita hidup untuk bahagia dan kita punya kesempatan untuk bahagia. Sebagai umat Buddha kita hidup bukan hanya untuk masa lampau atau masa akan datang tetapi kita juga hidup untuk masa sekarang, sehingga selayaknya kita menikmati hidup ini dengan bahagia, dengan menjaga Pikiran kita, dan mengarahkan pada hal-hal yang mengkondisikan diri kita kearah kebahagiaan yaitu mengembangkan pikiran yang penuh cinta kasih, welas asih dan kebijaksanaan. “Pikiran yang membawa kebencian, keserakahan, dan kekerasan menimbulkan penderitaan; pikiran yang bebas dari itu menumbuhkan kebahagiaan dan kebijaksanaan.”(Majjhima Nikāya 19 – Dvedhāvitakka Sutta) Teguh Prassetya, S.Dt.B (Penyuluh Buddha, Kab. Kebumen)

Read More »
Artikel
Khafid

Puja Bakti Menjadi Sarana Pembinaan Diri

Penyuluh Buddha Kabupaten Kebumen – Sebagian umat Buddha menganggap ritual puja bakti menjadi hal yang tidak penting. Pemikiran ini muncul dari perspektif bahwa penghormatan tertinggi kepada Buddha adalah dengan mempraktikkan Dhamma seperti yang tertulis dalam kitab Mahaparinibbana Sutta. Ada juga mereka yang kurang tepat dalam memahami makna yang terkandung dalam Syair Dhammapadake 271, yang berbunyi “Tidak dengan hanya melakukan ritual dan upacara seseorang menjadi suci. Yang benar-benar suci adalah mereka yang mengakhiri noda batin.” Karena makna dari ayat diatas sebenarnya adalah ritual-ritual jaman dahulu yang mengorbankan makhluk hidup ataupun menimbulkan kesia-siaan, sehingga itu dapat menimbulkan kekotoran batin.         Berbeda dengan upacara atau puja bakti yang kita jalankan saat ini, yaitu puja yang kita lakukan adalah bentuk praktik dari mengulang ajaran Buddha dan lebih menitik beratkan kepada pembinaan diri dan menambah Kebajikan. Contoh halnya seperti puja bakti yang dilakukan dalam tradisi Theravada dalam puja bakti mereka membaca dan mengulang sutta, misalnya Karaniya Metta Sutta, Ratana Sutta, Manggala Sutta dan sutta-sutta lainnya.          Dalam Puja bakti yang kita lakukan ada beberapa halyang kita latih anatara lain kesabaran. Ketika pemimpin puja bakti lama saat meditasi atau membaca paritta atau sutta yang Panjang itu bentuk bagaimana kita melatih kesabaran. Saat membaca paritta juga melatih Konsentrasi, ketika membaca paritta apakah kita tetap fokus pada paritta yang kita baca atau pikiran kita melayang entah kemana. Selain itu ketika puja bakti kita menambah Kebajikan melalui pembacaan paritta yang berisi ajaran Buddha, meditasi dan juga berdana saat menyanyikan gita dana paramita.         Sehingga kurang tepat saat ini jika Puja bakti atau ritula tidak penting atau di anggap sebagai noda batin. Karena banyak hal baik yang dapat kita lakukan melalui puja bakti, ini juga dapat kita lihat bahwa Bhikkhu Sangha pun masih melakukannya yaitu Chanting pagi dan sore hari. Ini menunjukkan bahwa Puja baktipun menjadi sarana yang tepat untuk melatih diri bagi kita yang masih tahap belajar. Mungkin akan berbeda lagi bagi mereka yang sudah mencapai tingkat pencerahan tertentu sehingga ritual bukan menjadi prioritas untuk sarana latihan atau pembinaan diri. Tetapi bagi kita para siswa yang batin belum mencapai pencerahan, yang masih belum mampu mengendalikan batin dan pikiran, belum memiliki keyakinan yang kuat, maka Puja bakti adalah sarana yang tepat untuk membina diri.         Puja bakti bukan hanya persembahan lahiriah (bunga, dupa, lilin), tetapi persembahan batin melalui pelaksanaan kebajikan, meditasi, dan kebijaksanaan. Manfaatnya adalah meningkatnya kebersihan batin dan kedekatan dengan sifat-sifat luhur Sang Buddha. Selain itu Melakukan puja bakti menumbuhkan ketenangan batin (samatha), menghapus rasa takut, dan memperkuat keyakinan pada Tiratana (Tiga Permata). Puja yang disertai perenungan menumbuhkan kebahagiaan dan rasa damai yang mendalam. Dalam Mahanama Sutta (Aṅguttara Nikāya 6.10) Sang Buddha menjelaskan kepada Mahānāma bahwa “Dengan mengingat Buddha, Dhamma, dan Saṅgha secara tulus, pikiran menjadi tenang, terang, dan terbebas dari ketakutan.” Teguh Prassetya, S.Dt.B (Penyuluh Buddha, Kab. Kebumen)

Read More »

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen