KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

KBC di RA Bukan Sekadar Kurikulum Baru, Anif Solikhin: Harus Menjadi Ruh Pembelajaran

Kebumen – Humas – Pendidikan anak usia dini tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan. Pada fase inilah karakter, kebiasaan, sikap, dan cara anak memandang lingkungan mulai dibentuk. Karena itu, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Raudhatul Athfal (RA) perlu hadir sebagai ruh dalam setiap proses pembelajaran, bukan sekadar materi tambahan atau perubahan administrasi kurikulum.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, H. Anif Solikhin, saat membuka Bimbingan Teknis Kurikulum Raudhatul Athfal (Kurikulum Berbasis Cinta) di Hotel Grand Kolopaking, Jumat (24/7/2026).

Kegiatan diselenggarakan Pengurus Daerah Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PD IGRA) Kabupaten Kebumen sebagai upaya memperkuat pemahaman dan kemampuan guru dalam menerapkan KBC di ruang kelas. Hadir Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kankemenag Kebumen, H. Mulyono, para pengawas RA dan MI, serta seluruh guru RA anggota PD IGRA Kabupaten Kebumen.

5.347 Anak RA Menjadi Tanggung Jawab Pendidikan Karakter

Ketua PD IGRA Kabupaten Kebumen, Siti Nafingatun, menyampaikan bahwa saat ini terdapat 121 RA telah memiliki izin operasional, sedangkan tujuh RA masih dalam proses penerbitan izin. Lembaga-lembaga tersebut melayani 5.347 peserta didik di Kabupaten Kebumen.

Jumlah tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab guru RA dalam membangun fondasi pendidikan anak sejak usia dini.

Nafingatun menjelaskan, bimbingan teknis digelar karena guru masih membutuhkan pendampingan dalam menerjemahkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam praktik pembelajaran.

“Kegiatan ini kami selenggarakan karena kami merasa masih memerlukan bimbingan, terutama dari para pengawas, agar guru-guru RA semakin memahami bagaimana mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pembelajaran di kelas,” ujarnya.

Ia berharap peserta mengikuti seluruh materi secara sungguh-sungguh dan membawa hasil pembelajaran ke satuan pendidikan masing-masing.

Guru RA Memegang Peran Penting dalam Pembentukan Karakter

Anif Solikhin menegaskan bahwa menjadi guru RA merupakan amanah besar. Guru berhadapan dengan anak pada fase awal kehidupan pendidikan, saat fondasi karakter mulai terbentuk melalui kebiasaan, keteladanan, interaksi, dan pengalaman sehari-hari.

“Guru RA adalah guru yang paling berat karena menghadapi peserta didik usia dini. Pada usia inilah fondasi karakter mulai dibangun. Karena itu, tugas guru bukan sekadar mengajar, tetapi juga membimbing dan mengarahkan mereka menjadi pribadi yang baik,” tegas Anif.

Menurutnya, pendidikan anak usia dini membutuhkan kesabaran, keteladanan, serta kemampuan memahami karakter setiap peserta didik. Anak tidak cukup hanya diarahkan agar mampu membaca, berhitung, atau menguasai pengetahuan dasar. Mereka juga perlu dibimbing agar mengenal nilai kebaikan, menghargai sesama, memiliki rasa percaya diri, serta tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang.

Di sinilah KBC memiliki makna penting. Nilai cinta perlu hadir melalui cara guru berbicara, mendampingi, memberikan apresiasi, menyelesaikan konflik, dan menciptakan suasana belajar.

Anif Dorong Guru Terus Meningkatkan Kompetensi

Selain menekankan pembentukan karakter, Anif mendorong guru RA terus meningkatkan kompetensi profesional.

Menurutnya, guru perlu terus memantaskan diri agar memenuhi standar kompetensi. Peningkatan kompetensi juga penting dalam mendukung pengakuan profesional serta kesejahteraan guru.

“Pantaskan diri, dorong diri agar memenuhi standar kompetensi guru. Raihlah sertifikat pendidik karena itu menjadi salah satu bentuk pengakuan profesional sekaligus dapat menunjang kesejahteraan di masa mendatang,” pesannya.

Anif berharap guru tidak berhenti pada status sebagai pengajar, tetapi terus belajar dan mengembangkan kemampuan. Perubahan kebutuhan anak, perkembangan teknologi, serta tuntutan masyarakat membuat guru perlu memperbarui pengetahuan dan keterampilannya secara berkelanjutan.

Kualitas Layanan Menjadi Kunci Kepercayaan Orang Tua

Anif juga mengingatkan bahwa keberlangsungan RA sangat dipengaruhi kepercayaan masyarakat. Karena itu, kualitas layanan pendidikan harus menjadi perhatian utama.

Menurutnya, kepuasan orang tua terhadap layanan pendidikan dapat menjadi promosi paling efektif bagi lembaga.

“Jaga kualitas pendidikan. Promosi terbaik bukan melalui iklan, tetapi melalui getok tular atau rekomendasi dari orang tua yang merasa puas terhadap layanan pendidikan yang diberikan,” ungkapnya.

Pesan tersebut menempatkan kualitas layanan sebagai bagian penting dari pengelolaan lembaga pendidikan. Orang tua tidak hanya mempertimbangkan aspek akademik saat memilih RA, tetapi juga keamanan, kenyamanan, pola pengasuhan, komunikasi, serta perkembangan karakter anak.

RA perlu membangun pengalaman pendidikan positif sehingga orang tua merasa yakin menitipkan pendidikan anak kepada lembaga.

KBC Harus Tetap Hidup dalam Pembelajaran

Anif juga menegaskan bahwa nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta tidak boleh berhenti ketika terjadi perubahan kebijakan kurikulum.

“Apa pun kurikulum yang nantinya diterapkan, nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta harus tetap diinsersikan. Pendidikan bukan semata-mata transfer ilmu, tetapi bagaimana membentuk karakter, membimbing, dan mengarahkan anak menjadi pribadi yang berakhlak mulia,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan posisi KBC sebagai nilai dasar dalam pendidikan. Kurikulum dapat berubah mengikuti kebijakan dan kebutuhan zaman, tetapi proses pendidikan tetap membutuhkan nilai kasih sayang, penghormatan terhadap anak, keteladanan, serta pembentukan akhlak.

Implementasi KBC dengan demikian tidak cukup dilakukan melalui penambahan tema pembelajaran. Nilai cinta perlu tampak dalam budaya satuan pendidikan dan perilaku seluruh warga RA.

Anak Senang Belajar, Karakter Lebih Mudah Tumbuh

Anif juga mengajak guru menciptakan suasana pembelajaran menyenangkan. Lingkungan belajar perlu membuat anak merasa aman, diterima, dan memiliki ruang untuk berkembang.

“Bangun suasana belajar yang gembira. Ketika anak merasa senang berada di sekolah, mereka akan lebih bersemangat belajar, lebih percaya diri, dan tumbuh sesuai dengan potensi yang dimiliki,” tuturnya.

Suasana belajar menyenangkan bukan berarti menghilangkan kedisiplinan. Guru tetap perlu memberikan batasan dan membangun kebiasaan baik, tetapi melalui pendekatan sesuai karakter anak usia dini.

Pembelajaran berbasis cinta dapat diwujudkan melalui kegiatan sederhana: menyapa anak dengan ramah, mendengarkan cerita mereka, memberi kesempatan mencoba, menghargai proses, serta membimbing kesalahan tanpa mempermalukan.

Dari Bimtek Menuju Perubahan di Ruang Kelas

Bimbingan teknis tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep. Guru RA diharapkan mampu menerjemahkan KBC ke dalam kegiatan nyata di satuan pendidikan masing-masing.

Mulai dari cara guru membangun komunikasi, merancang kegiatan, mengelola kelas, menyelesaikan konflik, hingga memberikan apresiasi kepada peserta didik, seluruhnya dapat menjadi ruang untuk menanamkan nilai cinta.

Dengan demikian, KBC tidak hanya menjadi istilah dalam dokumen kurikulum. KBC diharapkan menjadi budaya pendidikan di RA Kabupaten Kebumen.

Ketika guru memiliki kompetensi, lembaga menjaga kualitas layanan, dan proses pembelajaran berlangsung dalam suasana aman serta menyenangkan, RA dapat menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenal ilmu, kebaikan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama.

Pendidikan berbasis cinta pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang diajarkan guru kepada anak, tetapi juga tentang bagaimana anak merasakan proses belajar: dihargai, didengar, dibimbing, dan didampingi untuk tumbuh menjadi pribadi berkarakter.(Mad).

Berita Terpopuler

Galeri

Galeri

3 Videos
Edit Template

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen