Solikhin, menegaskan implementasi KMA Nomor 1503 Tahun 2025 menjadi penguatan arah pendidikan madrasah, bukan pergantian kurikulum secara menyeluruh. Kebijakan tersebut menekankan pembelajaran mendalam serta penjiwaan nilai cinta dalam seluruh proses pendidikan.
Pernyataan itu disampaikan Anif Solikhin saat memberikan materi pada Workshop Implementasi KMA 1503 dan Kurikulum Berbasis Cinta se-KKM MTsN 3 Kebumen, Rabu 14 Januari 2026.
“Setiap kebijakan memiliki dasar dan filosofi. Tidak ada perubahan total. Semuanya saling terhubung dengan kebijakan sebelumnya,” ujar Anif Solikhin di hadapan para peserta.
Menurutnya, KMA 1503 Tahun 2025 menempatkan madrasah sebagai ruang tumbuh ilmu sekaligus karakter. Proses belajar tidak berhenti pada transfer materi, melainkan menuntun peserta didik memahami ilmu secara utuh, kritis, serta aplikatif melalui pendekatan Deep Learning.
“Transfer ilmu harus terjadi secara mendalam. Inilah makna Deep Learning,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan guru agar tidak membiarkan praktik perundungan tumbuh di lingkungan madrasah. Perbedaan, kata dia, merupakan sunatullah dan bagian dari proses berpikir manusia.
“Jangan ajari anak-anak saling membuli. Perbedaan lahir dari akal, lalu melahirkan pikiran. Madrasah wajib menanamkan sikap saling menghargai,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kemenag juga menjelaskan pendekatan kedua dalam KMA 1503, yakni Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kurikulum ini menempatkan kasih sayang, empati, serta nilai spiritual sebagai fondasi pembelajaran di semua mata pelajaran.
Melalui KBC, guru tidak lagi sekadar menyampaikan materi, melainkan berperan sebagai pendidik karakter. Proses belajar diharapkan menyentuh hati, membentuk akhlak, serta menumbuhkan kesadaran sosial peserta didik.
“Panca Cinta harus menjiwai seluruh mata pelajaran,” ujarnya.
Panca Cinta terdiri atas lima pilar nilai inti, meliputi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta diri dan sesama, cinta lingkungan, serta cinta tanah air. Lima nilai tersebut diintegrasikan dalam kegiatan belajar, budaya madrasah, dan aktivitas keseharian siswa.
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dilakukan secara holistik melalui pembelajaran berpengalaman, kegiatan keagamaan, literasi, aksi peduli lingkungan, serta sesi penguatan nilai singkat dalam rutinitas pembelajaran.
Workshop ini turut dihadiri Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kebumen H. Mulyono, Pengawas Madrasah Hj. Sriwi Rahayu dan Hj. Indarwati, serta Kepala MTsN 3 Kebumen Muhdir. Melalui penerapan KMA 1503 Tahun 2025, Kementerian Agama berharap madrasah mampu menjadi ruang tumbuh generasi beriman, berakhlak mulia, humanis, toleran, serta siap berkontribusi bagi bangsa menuju Indonesia Emas 2045.


