KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, Madrasah Didorong Bangun Empati Murid

Kebumen – Humas – Ikatan emosional antara guru dan murid menjadi fondasi penting dalam proses pendidikan di madrasah. Relasi tersebut dinilai mampu membentuk pembelajaran bermakna, berkarakter, serta menumbuhkan empati. Pandangan tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen Anif Solikhin dalam kegiatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di MTs Negeri 7 Kebumen, Kamis 29 Januari 2026.

Kegiatan diikuti madrasah anggota Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MTs Negeri 7 Kebumen. Para kepala madrasah dan guru mengikuti pengarahan serta diskusi implementasi kurikulum berbasis cinta dengan pendekatan nilai kemanusiaan dan kasih sayang.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Anif Solikhin, menegaskan hubungan guru dan murid bukan hanya sebatas di lingkungan akademik. Proses pendidikan selalu melibatkan kedekatan emosional sebagai kunci keberhasilan pembelajaran.

“Guru dan murid pasti memiliki ikatan emosional. Dari sanalah tumbuh rasa saling menghargai, saling memahami, dan saling menumbuhkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran hidup berbangsa di tengah keberagaman budaya, agama, dan latar belakang sosial. Indonesia dibangun melalui kebersamaan, sehingga pendidikan perlu menanamkan nilai cinta sebagai dasar pembentukan karakter.

Secara nasional, Kurikulum Berbasis Cinta diterapkan pada seluruh jenjang pendidikan madrasah, mulai dari RA, MI, MTs, MA, hingga MAK. Pengembangannya berpijak pada tiga landasan utama, yakni filosofis, sosiologis, dan psikopedagogis.

Pada landasan filosofis, kurikulum ini berakar pada nilai Pancasila serta pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan sebagai proses memerdekakan manusia. Pendidikan diarahkan membentuk pribadi mandiri, berkarakter, dan berdaulat, tanpa menghilangkan peran otoritatif guru sebagai pendidik.

Implementasi kurikulum mendorong madrasah tetap berpijak pada budaya Indonesia, responsif terhadap perubahan sosial, serta seimbang antara penguatan kompetensi dan pembentukan karakter. Guru diberi ruang luas mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan serta tahap perkembangan murid.

Dari sisi sosiologis, pengembangan kurikulum merespons tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0, dinamika global, serta keragaman sosial Indonesia. Pendidikan diharapkan melahirkan generasi kreatif, adaptif, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan global tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Faktor kebudayaan juga menjadi perhatian utama. Kurikulum diposisikan sebagai refleksi nilai masyarakat, sekaligus sarana menanamkan kebiasaan, sikap, dan cara berpikir melalui proses pendidikan. Madrasah berperan memberikan pengalaman belajar relevan dengan lingkungan sosial murid.

Landasan psikopedagogis memastikan pembelajaran sesuai tahap perkembangan murid, baik fisik, intelektual, sosial, emosional, maupun moral. Kurikulum Berbasis Cinta memadukan teori perkembangan, pembelajaran, motivasi, serta kompetensi emosional agar murid terlibat aktif dalam suasana belajar menyenangkan.

Anif menambahkan Kurikulum Berbasis Cinta bertumpu pada lima pilar utama, yakni cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, cinta kepada diri sendiri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan dan alam semesta, serta cinta kepada bangsa dan tanah air.

Penerapan kelima pilar tersebut diharapkan melahirkan lulusan madrasah cerdas, berempati, berkarakter kuat, serta memiliki kepedulian sosial tinggi.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta benar-benar berdampak pada peningkatan mutu pendidikan madrasah di Kebumen,” imbuhnya.

Berita Terpopuler

Galeri

Galeri

3 Videos
Edit Template

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen