Kebumen – Humas – Membangun kerukunan umat beragama harus diawali dengan cara pandang yang benar terhadap keberagaman. Perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang perlu dirawat bersama untuk mewujudkan Kebumen yang damai, guyub, dan rukun.
Pesan tersebut disampaikan Kasubbag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Salim Wazdy, saat menjadi narasumber pada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kebumen Tahun 2026. Bertajuk “Harmoni dalam Keberagaman untuk Kebumen yang Damai, Guyub, dan Rukun” kegiatan dilaksankan di Dharmawangsa Meeting Room Trio Azana Hotel, Rabu 8 Juli 2026.
Kegiatan yang diikuti 75 tokoh lintas agama dan perwakilan organisasi keagamaan itu turut dihadiri Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Yanie Giat Setyawan, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Kebumen Widiatmoko, serta unsur pemerintah daerah dan Kementerian Agama.
Membacakan sambutan Bupati Kebumen, Yanie Giat Setyawan mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya forum tersebut. Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga membangun masyarakat yang saling menghargai, saling mendukung, serta menjaga persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama.
Dalam pemaparannya, Salim menegaskan bahwa harmoni bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan kemampuan hidup berdampingan dengan saling menghormati. Ia mengingatkan bahwa berbagai konflik yang kerap dikaitkan dengan agama sejatinya lebih banyak dipengaruhi kepentingan politik, ekonomi, maupun sosial, sementara agama hanya dijadikan identitas untuk melegitimasi tindakan tertentu.
“Banyak konflik yang tampak sebagai konflik agama, padahal penyebab utamanya bukan agama itu sendiri. Agama sering hanya dijadikan identitas atau legitimasi untuk membenarkan tindakan tertentu,” jelas Salim.
Menurutnya, sikap merasa paling benar (truth claim) dan sempitnya ruang dialog menjadi salah satu pemicu munculnya konflik. Karena itu, masyarakat perlu memandang keberagaman sebagai realitas sekaligus anugerah Tuhan yang mampu melahirkan kolaborasi dan memperkuat persatuan.
“Kalau kita mampu melihat keberagaman sebagai potensi dan anugerah, maka yang lahir bukan konflik, melainkan kolaborasi. Perbedaan akan menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling bermusuhan,” ujarnya.
Salim juga menegaskan bahwa seluruh agama mengajarkan nilai-nilai universal seperti kemanusiaan, cinta kasih, dan perdamaian. Ia mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat terus memperkuat kerja sama dalam menjaga kerukunan.
Sementara itu, dosen IAINU Kebumen, Fikria Najitama, menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan memoderasi ajaran agama, melainkan cara memahami dan mengamalkannya agar tetap adil, seimbang, dan menghormati keberagaman. Menurutnya, Kabupaten Kebumen memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya guyub, gotong royong, serta kehidupan lintas agama yang harmonis sehingga perlu terus dirawat melalui sinergi pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat.
“Moderasi beragama bukan agenda sesaat. Ini adalah cara kita merawat Indonesia, dimulai dari daerah kita sendiri. Ketika masyarakat mampu hidup damai dalam keberagaman, di situlah Kebumen benar-benar menjadi daerah yang guyub, harmonis, dan rukun,” pungkas Fikria.
Forum FKUB 2026 diharapkan semakin memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kerukunan umat beragama di Kabupaten Kebumen. Melalui dialog, saling menghormati, dan kolaborasi lintas agama, semangat persaudaraan diyakini akan terus tumbuh sehingga Kebumen tetap menjadi daerah yang aman, damai, serta harmonis di tengah keberagaman.(Mad).



