Setiap manusia yang lahir ke dunia ini memikul kerinduan yang sama: ingin meraih kebahagiaan dan terbebas dari penderitaan (sukhakāmā hi manussā, dukkha-paṭikūlā). Kita bekerja siang dan malam, merawat keluarga, menuntut ilmu, dan membangun kehidupan masyarakat, semuanya berakar pada satu muara, yaitu pencarian akan kebahagiaan yang sejati. Namun, dalam kenyataannya, tidak semua keinginan dapat terpenuhi. Ada kalanya kita menghadapi masalah keluarga, kesulitan ekonomi, konflik dengan orang lain, kegagalan dalam pekerjaan, atau kekecewaan karena harapan tidak sesuai kenyataan.
Guru Agung Buddha, tidak pernah melarang umat-Nya untuk sukses atau menikmati kebahagiaan duniawi (gihi-sukha). Namun, Beliau mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak ditentukan semata-mata oleh seberapa keras kita berusaha, melainkan oleh bagaimana cara dan ke arah mana usaha tersebut dikerahkan. Di sinilah pentingnya Daya Upaya Benar atau Sammā-Vāyāma, yang merupakan bagian kelima dari Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga).
Daya Upaya Benar mengajarkan bahwa kita perlu bersungguh-sungguh meninggalkan keadaan batin yang tidak baik, mencegah munculnya keburukan, mengembangkan kualitas batin yang baik, serta mempertahankan kebajikan yang telah tumbuh dalam diri. Dengan demikian, kebahagiaan bukan sekadar sesuatu yang kita harapkan, melainkan sesuatu yang perlu kita usahakan melalui latihan yang benar dan berkelanjutan.
Di dalam kitab suci Sutta Piṭaka, tepatnya pada Saccavibhaṅga Sutta (Majjhima Nikāya 141), Sang Buddha menjelaskan landasan Empat Bentuk Usaha Benar (Cattāro Sammappedhānā) secara sangat jelas:
“Apakah yang dimaksud dengan Daya Upaya Benar (Sammā-Vāyāma)?
- Di sini, seorang bhikkhu/seseorang membangkitkan kehendak, berusaha, mengerahkan energi, menopang pikirannya, dan berjuang untuk mencegah timbulnya kejahatan dan hal-hal buruk yang belum muncul.
- Ia membangkitkan kehendak, berusaha, mengerahkan energi, menopang pikirannya, dan berjuang untuk mengatasi hal-hal buruk dan jahat yang telah muncul.
- Ia membangkitkan kehendak, berusaha, mengerahkan energi, menopang pikirannya, dan berjuang untuk memunculkan hal-hal baik (kebajikan) yang belum muncul.
- Ia membangkitkan kehendak, berusaha, mengerahkan energi, menopang pikirannya, dan berjuang untuk mempertahankan, memelihara, meningkatkan, mematangkan, mengembangluaskan, dan menyempurnakan hal-hal baik yang telah muncul.”
Daya Upaya Benar adalah kesungguhan yang diarahkan untuk mengurangi keburukan dan mengembangkan kebaikan. Kita berusaha memperbaiki diri bukan dengan kebencian terhadap diri sendiri, melainkan dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan ketekunan. Daya Upaya Benar dalam ajaran Buddha bukanlah sekadar kerja keras tanpa arah, bukan pula ambisi buta yang didorong oleh keserakahan (lobha) atau kebencian (dosa). Daya Upaya Benar adalah energi mental yang dilandasi oleh kebijaksanaan (paññā) dan perhatian penuh (sati). Maka perlu kita pahami bahwa kualitas kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Ketika kita membiarkan keserakahan menguasai diri, kita cenderung merasa tidak pernah cukup. Ketika kita terus memelihara kebencian, pikiran menjadi gelisah. Ketika kita mengikuti kebodohan batin, kita dapat mengambil keputusan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Sebaliknya, ketika kita melatih kemurahan hati, kita belajar berbagi. Ketika kita mengembangkan cinta kasih, kita mengurangi permusuhan. Ketika kita menumbuhkan kebijaksanaan, kita belajar memahami sebab dan akibat dari tindakan kita. Mari belajar untuk memperhatikan keadaan batin sebelum berbicara dan bertindak. Karena orang yang mengembangkan Daya Upaya Benar tidak akan menambah penderitaan melalui kebencian, penyesalan yang berlebihan, atau tindakan yang tidak bijaksana. Ia berusaha menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih jernih dan tindakan yang lebih tepat.
Dengan demikian, Daya Upaya Benar membantu kita membangun kebahagiaan yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan di luar diri. Kebahagiaan seperti ini tumbuh melalui latihan moralitas, pengendalian diri, pengembangan batin, dan kebijaksanaan
Sebagai kesimpulan, Daya Upaya Benar (Sammā-Vāyāma) adalah dayung yang kita gunakan untuk mengemudikan perahu kehidupan kita menyeberangi lautan penderitaan menuju pantai kedamaian (Nibbāna). Jangan pernah ragu untuk melangkah, sekecil apa pun kebaikan yang dapat kita lakukan hari ini.
Marilah kita tidak hanya mengharapkan kehidupan yang bahagia, tetapi juga mengembangkan sebab-sebab yang mendukung kebahagiaan itu. Kurangi kebencian, kembangkan cinta kasih. Kurangi keserakahan, kembangkan kemurahan hati. Kurangi kelalaian, kembangkan perhatian dan kebijaksanaan. Seperti sabda Buddha sebelum Beliau mencapai Parinibbāna, yang tercantum dalam Mahāparinibbāna Sutta (Dīgha Nikāya 16):
“Vayadhammā saṅkhārā, appamādena sampādethā’ti.”
“Segala sesuatu yang tersusun akan lapuk dan sirna; berjuanglah dengan sungguh-sungguh tanpa lengah (appamāda)”
Semoga dengan memahami dan mempraktikkan Daya Upaya Benar, kita senantiasa dilimpahi ketenangan batin, keharmonisan dalam keluarga, keberhasilan dalam usaha yang benar, dan pencapaian kebahagiaan tertinggi.


