Kebumen – Humas – Rapat Koordinasi dan Pembinaan Penyuluh Agama Islam se-Eks Karesidenan Kedu digelar di Candisari Hotel Karanganyar, Kebumen, Rabu 15 April 2026. Kegiatan mengusung tema Penguatan Tugas Pokok dan Fungsi Penyuluh serta Optimalisasi Layanan Moderasi Beragama.
Ketua Pokjaluh Kebumen, Moh. Matori dalam prakata panitia menyampaikan bahwa pelaksanaan rakor ini didasarkan pada berbagai ketentuan perundang-undangan terkait penyuluhan agama. Ia menegaskan bahwa penyuluh memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing umat dengan pendekatan bahasa agama yang santun, moderat, dan profesional, tanpa bersifat provokatif namun tetap dinamis mengikuti perkembangan zaman.
Rakor ini dilaksanakan secara berkala setiap tiga bulan sekali sebagai sarana penguatan kapasitas penyuluh, sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan halal bihalal antarpenyuluh se-Karesidenan Kedu. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkuat pemahaman tupoksi serta mempersiapkan penyuluh dalam menghadapi tantangan dakwah di era generasi Z.
Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diingatkan pentingnya kedisiplinan administrasi melalui pengisian e-Kinerja (eKIn) dan Elektronik Penyuluh Agama (EPA).
Dalam sambutannya, Kasi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Makruf Widodo, menekankan pentingnya menjaga sinergitas antara penyuluh dengan instansi serta pihak terkait lainnya. Ia menyebut bahwa Penyuluh Agama sering kali dituntut untuk mampu berperan dalam berbagai bidang, sehingga diperlukan kemampuan adaptasi yang tinggi. Selain aktif di lapangan, penyuluh juga dituntut untuk disiplin dalam pelaporan administrasi sebagai bentuk akuntabilitas kinerja, baik melalui eKIn maupun EPA.
“Penyuluh harus adaptif, aktif di masyarakat, sekaligus tertib administrasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, H. Anif Solikhin, dalam sesi pembinaan menegaskan bahwa posisi penyuluh tidak hanya sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai Aparatur Sipil Negara yang memiliki tanggung jawab dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penyuluh diharapkan mampu menjadi penengah dalam berbagai persoalan umat, khususnya dalam menghadapi potensi konflik yang muncul akibat perbedaan pemahaman di masyarakat.
Ia juga menjelaskan konsep “Asta Protas” yang menitikberatkan pada pentingnya membangun kerukunan berbasis cinta kemanusiaan. Menurutnya, keberagaman merupakan sunnatullah yang harus disikapi dengan bijak, karena manusia diciptakan berbeda-beda sebagai tanda kebesaran Allah SWT. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan dalam membangun masyarakat harus berbasis pada rasionalitas (akal) yang dapat diwariskan dan dikembangkan, bukan semata pendekatan emosional.
Selain itu, penyuluh juga didorong untuk menjadi pelopor dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari implementasi nilai keagamaan, serta berperan aktif dalam program “Kemenag Berdampak”. Hal ini mencakup pemberdayaan umat melalui pendampingan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM, optimalisasi potensi zakat yang diperkirakan mencapai ribuan triliun rupiah setiap tahunnya, serta pengembangan wakaf produktif, termasuk wakaf uang, sebagai instrumen penguatan ekonomi umat.
Materi berikutnya disampaikan oleh Sekretaris Pokjaluh Provinsi Jawa Tengah, Achmad Syaefudin, yang menegaskan bahwa tagline “Kemenag Berdampak” harus diwujudkan dalam setiap layanan penyuluh, khususnya dalam penguatan moderasi beragama. Ia mengingatkan bahwa di tengah dinamika perbedaan pemahaman keagamaan, penyuluh harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan pentingnya penyusunan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) sebagai bentuk kolaborasi antara penyuluh dengan Kepala KUA dalam menjalankan tugas dan fungsi secara optimal. Penyamaan persepsi antara kedua pihak menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program. Selain itu, penyuluh juga diharapkan mempersiapkan diri dalam menghadapi Uji Kompetensi (UKOM), serta tetap disiplin dalam pengisian aplikasi EPA dan Si Rukun.
Kegiatan rakor ini tidak hanya menjadi forum diskusi dan pembinaan, tetapi juga mempererat silaturahmi antarpenyuluh serta memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan yang berdampak nyata bagi masyarakat. Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi, diharapkan para penyuluh agama Islam mampu terus berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang rukun, moderat, dan berdaya.(Fawaz).

