Kebumen – Humas – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen menggelar tradisi Ruwahan dalam rangka mendoakan sekaligus penghormatan, dan pengingat jasa para leluhur, Jumat 30 Januari 2025 atau bertepatan dengan 11 Sya’ban 1447 Hijriah. Kegiatan berlangsung khidmat dan diikuti seluruh Aparatur Sipil Negara di lingkungan Kankemenag Kebumen.
Ruwahan diawali pembacaan tahlil oleh ASN beragama Islam, dipimpin Penyelenggara Zakat dan Wakaf H. Fahrudin. Sementara ASN non-Muslim dipersilakan memanjatkan doa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Usai doa bersama, seluruh peserta menikmati hidangan secara kepungan dengan alas daun pisang, mencerminkan nilai kesederhanaan dan kebersamaan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, H. Anif Solikhin, mengapresiasi pelaksanaan ruwahan yang diinisiasi Kepala Subbagian Tata Usaha, Salim Wzdy. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan antarsesama ASN.
“Di sini tidak ada sekat jabatan. Semua duduk bersama, makan bersama. Nilai kebersamaan inilah makna penting dari ruwahan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, para peserta secara khusus mendoakan sejumlah tokoh dan pendahulu Kemenag Kebumen, di antaranya KH Afandi, Kiai Moch Chasan, KH Sumbono Al Solichun, H. Moch Harizun, KH Achmad Moetawali, Drs. Sewoyo, H. Achmad Sari, Drs. H. M. A. Djamil, dan Drs. H. Masngudin.
Selain doa bagi para leluhur, ruwahan juga menjadi momentum memohon keselamatan, kelancaran tugas, serta keberkahan hidup dunia dan akhirat bagi seluruh ASN. Doa dipanjatkan bersama dengan harapan terciptanya ketenangan batin dan semangat pengabdian.
Berdasarkan beberapa literature, Ruwahan dikenal sebagai tradisi masyarakat Jawa dalam menghormati arwah leluhur. Secara etimologis, kata ruwahan berasal dari “ruwah” berarti arwah, dengan imbuhan “-an” sehingga bermakna mengenang para arwah. Poerwadarminta mencatat ruwah sebagai bulan kedelapan dalam kalender Jawa, masa masyarakat mengirim doa di makam keluarga.
Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap lestari hingga kini. Di dalamnya terkandung nilai religius, sosial, dan budaya, sekaligus memperkuat ikatan spiritual serta harmoni kehidupan bermasyarakat.

