
Rajab Menanam, Sya’ban Merawat, Ramadhan Memanen
Dalam kehidupan masyarakat petani, setidaknya ada tiga masa yang sangat menentukan keberhasilan panen, pertama yaitu masa tanam (tandur), yang kedua masa merawat (matun), mengairi (nyiram) dan memupuk (ngemes), serta ketiga yaitu masa panen (ngunduh). Setiap tahap tersebut membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan perhatian yang berkelanjutan. Tanpa proses yang baik, mustahil akan diperoleh hasil panen yang maksimal. Perumpamaan ini sangat relevan dengan perjalanan spiritual umat Islam dalam menghadapi bulan suci Ramadhan. Bulan Rajab menjadi masa menanam amal ibadah dan kebaikan (masa tandur), Sya’ban menjadi masa merawat serta memupuk (masa nyirami), sementara Ramadhan sebagai masa panen (ngunduh). Persiapan yang matang di bulan-bulan sebelum Ramadhan akan sangat menentukan keberhasilan, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas ibadah. Sejak masa awal Islam, para ulama telah menggunakan perumpamaan yang indah untuk menjelaskan keutamaan tiga bulan mulia ini. Salah satunya seperti yang dinukil oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’iful Ma‘arif dari Abu Bakar al-Warraq al-Balkhi. شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ Bulan Rajab adalah bulan menanam (masa tandur), Bulan Sya’ban adalah bulan menyiram tanaman (masa nyirami), dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman (masa ngudnuh). Ada juga ulama yang menyampaikan perumpamaan lain, Rajab diumpamakan seperti angin, Sya’ban diibaratkan seperti awan, dan Ramadhan seperti air hujan. Perumpamaan tersebut menegaskan bahwa Ramadhan tidak akan menghasilkan buah kuantitas dan kulaitas ibadah, pahala dan ketakwaan tanpa adanya persiapan yang sungguh-sungguh sejak sebelumnya, khususnya di bulan Rajab dan Sya’ban. Amal ibadah dan kebaikan yang ditanam dan dirawat dengan istiqomah akan berbuah keberkahan di bulan suci. Nisfu Sya’ban Salah satu momen penting dalam bulan Sya’ban adalah malam pertengahan bulan atau malam Nisfu Sya’ban. Sebagaiman telah disebutkan sebelumnya, bahwa Allah SWT memperhatikan seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu mengampuni semuanya, kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang menyimpan permusuhan. Hadits ini menunjukkan bahwa kebersihan hati dan keharmonisan sosial menjadi syarat penting untuk meraih ampunan Allah SWT. Permusuhan, dendam, dan kebencian dapat menghalangi turunnya kasih sayang (rahmat) Nya. Oleh karena itu, Nisfu Sya’ban dapat dimaknai sebagai momentum introspeksi dan rekonsiliasi sosial. Tidak harus selalu menunggu momen ‘Idul Fitri, umat Islam dianjurkan untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit sosial sebelum memasuki bulan Ramadhan. Persiapan spiritual tidak hanya diwujudkan dalam ibadah personal seperti puasa sunnah, dzikir dan membaca Al-Qur’an (hablun minallah), tetapi juga ibadah sosial dalam upaya memperbaiki hubungan antar sesama manusia (hablun minan naas). Hati yang bersih akan memudahkan seseorang meraih kekhusyukan dan keikhlasan dalam beribadah. Seperti petani yang menantikan panen setelah melewati masa tanam dan perawatan yang panjang, demikian pula seorang muslim mengharapkan keberkahan Ramadhan setelah mempersiapkan diri sejak Rajab dan Sya’ban. Proses ini mengajarkan bahwa keberhasilan ibadah tidak datang secara instan, melainkan melalui proses kesungguhan dan konsistensi (istiqomah). Dengan memaknai Rajab sebagai masa menanam (tandur), Sya’ban sebagai masa memupuk (nyirami), serta Ramadhan sebagai masa panen pahala (ngunduh), diharapkan umat Islam mampu menjalani ibadah dengan lebih terencana, berkualitas, dan penuh kesadaran spiritual. Semoga menjalani bulan-bulan mulia ini, membawa peningkatan ketakwaan pribadi sekaligus memperkuat harmoni sosial di masyarakat. Wallahu a’lam. Amir Syarifuddin, S.Ag. Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Klirong




