KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

📌 ISLAM

Artikel
Faozan Bakhtiar

Rajab Menanam, Sya’ban Merawat, Ramadhan Memanen

Dalam kehidupan masyarakat petani, setidaknya ada tiga masa yang sangat menentukan keberhasilan panen, pertama yaitu masa tanam (tandur), yang kedua masa merawat (matun), mengairi (nyiram) dan memupuk (ngemes), serta ketiga yaitu masa panen (ngunduh). Setiap tahap tersebut membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan perhatian yang berkelanjutan. Tanpa proses yang baik, mustahil akan diperoleh hasil panen yang maksimal. Perumpamaan ini sangat relevan dengan perjalanan spiritual umat Islam dalam menghadapi bulan suci Ramadhan. Bulan Rajab menjadi masa menanam amal ibadah dan kebaikan (masa tandur), Sya’ban menjadi masa merawat serta memupuk  (masa nyirami), sementara Ramadhan sebagai masa panen (ngunduh). Persiapan yang matang di bulan-bulan sebelum Ramadhan akan sangat menentukan keberhasilan, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas ibadah. Sejak masa awal Islam, para ulama telah menggunakan perumpamaan yang indah untuk menjelaskan keutamaan tiga bulan mulia ini. Salah satunya seperti yang dinukil oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’iful Ma‘arif dari Abu Bakar al-Warraq al-Balkhi. شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ Bulan Rajab adalah bulan menanam (masa tandur), Bulan Sya’ban adalah bulan menyiram tanaman (masa nyirami), dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman (masa ngudnuh). Ada juga ulama yang menyampaikan perumpamaan lain, Rajab diumpamakan seperti angin, Sya’ban diibaratkan seperti awan, dan Ramadhan seperti air hujan. Perumpamaan tersebut menegaskan bahwa Ramadhan tidak akan menghasilkan buah kuantitas dan kulaitas ibadah, pahala dan ketakwaan tanpa adanya persiapan yang sungguh-sungguh sejak sebelumnya, khususnya di bulan Rajab dan Sya’ban. Amal ibadah dan kebaikan yang ditanam dan dirawat dengan istiqomah akan berbuah keberkahan di bulan suci. Nisfu Sya’ban Salah satu momen penting dalam bulan Sya’ban adalah malam pertengahan bulan atau malam Nisfu Sya’ban. Sebagaiman telah disebutkan sebelumnya, bahwa Allah SWT memperhatikan seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu mengampuni semuanya, kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang menyimpan permusuhan. Hadits ini menunjukkan bahwa kebersihan hati dan keharmonisan sosial menjadi syarat penting untuk meraih ampunan Allah SWT. Permusuhan, dendam, dan kebencian dapat menghalangi turunnya kasih sayang (rahmat) Nya. Oleh karena itu, Nisfu Sya’ban dapat dimaknai sebagai momentum introspeksi dan rekonsiliasi sosial. Tidak harus selalu menunggu momen ‘Idul Fitri, umat Islam dianjurkan untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit sosial sebelum memasuki bulan Ramadhan. Persiapan spiritual tidak hanya diwujudkan dalam ibadah personal seperti puasa sunnah, dzikir dan membaca Al-Qur’an (hablun minallah), tetapi juga ibadah sosial dalam upaya memperbaiki hubungan antar sesama manusia (hablun minan naas). Hati yang bersih akan memudahkan seseorang meraih kekhusyukan dan keikhlasan dalam beribadah. Seperti petani yang menantikan panen setelah melewati masa tanam dan perawatan yang panjang, demikian pula seorang muslim mengharapkan keberkahan Ramadhan setelah mempersiapkan diri sejak Rajab dan Sya’ban. Proses ini mengajarkan bahwa keberhasilan ibadah tidak datang secara instan, melainkan melalui proses kesungguhan dan konsistensi (istiqomah). Dengan memaknai Rajab sebagai masa menanam (tandur), Sya’ban sebagai masa memupuk (nyirami), serta Ramadhan sebagai masa panen pahala (ngunduh), diharapkan umat Islam mampu menjalani ibadah dengan lebih terencana, berkualitas, dan penuh kesadaran spiritual. Semoga menjalani bulan-bulan mulia ini, membawa peningkatan ketakwaan pribadi sekaligus memperkuat harmoni sosial di masyarakat. Wallahu a’lam. Amir Syarifuddin, S.Ag. Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Klirong

Read More »
Artikel
Faozan Bakhtiar

Makna Tepuk Sakinah: Cara Sederhana Menanamkan Nilai Keluarga Harmonis

Membangun keluarga sakinah merupakan dambaan setiap pasangan yang memasuki kehidupan rumah tangga. Dalam Islam, sakinah tidak hanya berarti ketenangan, tetapi juga keharmonisan yang dilandasi rasa cinta, saling menghargai, serta komitmen kuat untuk hidup bersama dalam ridha Allah SWT. Salah satu cara menarik untuk mengenalkan nilai-nilai keluarga sakinah kepada masyarakat adalah melalui media edukatif yang sederhana, salah satunya melalui Tepuk Sakinah. Walau tampak sederhana, setiap bait dalam Tepuk Sakinah memiliki makna mendalam yang menjadi fondasi kehidupan rumah tangga.Berikut penjelasan makna dari setiap poin dalam Tepuk Sakinah: Tepuk Sakinah: Media Edukasi yang MenyenangkanTepuk Sakinah menjadi cara kreatif untuk mengenalkan nilai-nilai keluarga sakinah, terutama bagi calon pengantin dalam bimbingan perkawinan. Liriknya sederhana namun sarat makna: BerpasanganBerpasanganBerpasangan(tepuk 3x) Janji kokohJanji kokohJanji kokoh(tepuk 3x) Saling cintaSaling hormatSaling jagaSaling ridhoMusyawarah untuk sakinah(Kembali ke awal) Melalui tepuk ini, peserta bimbingan perkawinan diajak memahami bahwa keluarga sakinah tidak hadir secara instan. Keluarga yang harmonis dibangun dengan komitmen, cinta, hormat, jaga, ridho, dan musyawarah yang konsisten setiap hari. Tepuk Sakinah bukan sekadar permainan edukatif, tetapi pengingat bahwa rumah tangga yang kokoh lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Semoga setiap pasangan dapat mengamalkan nilai-nilai ini, sehingga terbentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah. Karena masyarakat yang baik berawal dari keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, thumma barokah. Dari keluarga yang baik akan tercipta desa yang baik, dari desa yang baik akan terbentuk kabupaten yang baik, hingga akhirnya negara yang makmur dan sejahtera dimulai dari keluarga kecil yang baik. H. Johan Amru, S.Sos.I Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen / KUA Kecamatan Kebumen

Read More »
Amir Syarifuddin, S.Ag. Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Klirong
Artikel
Faozan Bakhtiar

Sya‘ban, Momentum Penguatan Kehidupan Beragama

Bulan Sya‘ban sering hadir tanpa banyak disadari. Ia berada di antara Rajab yang dimuliakan dan Ramadhan yang dinanti, sehingga kerap terlewatkan begitu saja. Padahal Rasulullah SAW justru memberi perhatian khusus terhadap bulan Sya’ban ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i, mengenai Sya’ban Rasulullah SAW bersabda: ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.” Hadits ini menegaskan bahwa keutamaan ibadah tidak selalu terletak pada keramaian, tetapi pada kesadaran dan keikhlasan, terutama di saat banyak orang lalai. Sya‘ban menjadi waktu yang tepat untuk menata kembali kehidupan beragama. Bukan sekadar menambah kuantitas amal, tetapi meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki kinerja dan akhlak. Membiasakan kedisiplinan shalat tepat waktu, memperbanyak shalawat, membaca dan tadabbur Al-Qur’an, serta menjaga lisan dan sikap sosial merupakan bentuk nyata dari penguatan kehidupan beragama yang berdampak langsung dalam keseharian. Kebiasaan Rasulullah SAW berpuasa di bulan Sya‘ban juga terekam jelas dalam hadits Aisyah ra : وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ ‏. “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih banyak berpuasa sunnah daripada di bulan Sya‘ban.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa Sya‘ban adalah bulan latihan spiritual dan persiapan ruhani, bukan sekadar pengantar Ramadhan. Teladan Rasulullah SAW tersebut sekaligus mengajarkan nilai moderasi dalam beragama. Beliau meningkatkan ibadah tanpa sikap berlebihan dan tetap menjalankan aktivitas sosial secara seimbang. Dari sini umat belajar bahwa beragama secara benar adalah berjalan di tengah, tidak ekstrem dan tidak pula lalai, sehingga agama menjadi sumber ketenangan, bukan beban. Menjelang Ramadhan, Sya‘ban juga menjadi momentum membersihkan hati dan memperbaiki hubungan sosial. إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ» . رَوَاهُ ابْن مَاجَه Dalam riwayat Ibnu Majah di atas disebutkan bahwasanya Allah SWT memberikan ampunan pada malam pertengahan Sya‘ban kepada hamba-hamba-Nya, kecuali mereka yang menyekutukan Allah dan mereka yang menyimpan permusuhan. Pesan ini menguatkan pentingnya saling memaafkan, menyambung silaturahmi, dan mengakhiri perselisihan sebagai bagian dari ibadah yang berdampak luas bagi kerukunan masyarakat. Dalam lingkup keluarga, Sya‘ban dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan ibadah bersama dan menumbuhkan suasana religius di rumah. Keluarga yang kuat secara spiritual akan melahirkan ketahanan moral dan akhlak, yang pada akhirnya berkontribusi pada terwujudnya masyarakat yang rukun dan harmonis. Sya‘ban bukan sekadar bulan penantian menuju Ramadhan, tetapi masa persiapan yang menentukan kualitas ibadah di bulan suci. Ketika Sya‘ban diisi dengan kesadaran, keseimbangan, dan kepedulian sosial, maka Ramadhan akan dijalani dengan lebih bermakna. Dari bulan yang sering dilupakan inilah, sejatinya penguatan kehidupan beragama dapat dimulai. Amir Syarifuddin, S.Ag. Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Klirong

Read More »
Artikel
Faozan Bakhtiar

Jalani Hidup dengan Bahagia

Dalam hiruk-pikuk kehidupan yang penuh dengan persaingan dan keinginan, seringkali manusia lupa akan hakikat hidupnya yang sebenarnya. Hidup pada dasarnya adalah sebuah perjalanan linear dalam ruang dan waktu. Mau tidak mau, suka atau tidak, kita harus terus berjalan mengikuti arus waktu yang telah ditetapkan. Dalam perjalanan ini, tiga ketetapan Ilahi telah mutlak: takdir telah tertulis di Lauhul Mahfuz, umur telah dibatasi, dan rezeki telah dibagi.Karena itu, sikap yang paling bijak adalah menjalaninya dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan, menerima apa adanya (qana’ah) dengan hati yang ikhlas. Namun, seringkali manusia terlena. Mereka mengira dunia adalah tujuan akhir, tempat mengejar segala ambisi tanpa batas. Mereka lupa bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara, bagai seorang musafir yang berteduh di bawah sebatang pohon sebelum melanjutkan perjalanan panjang. Karena kelalaian inilah, Allah SWT mengingatkan hamba-Nya untuk bersegera menuju Darussalam, negeri abadi yang penuh keselamatan dan kedamaian. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ“Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Yunus: 25) Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi hidup? Pertama, hadapi dan syukuri. Setiap detik, baik senang maupun susah, adalah bagian dari perjalanan yang harus dijalani. Rasa syukur akan mengubah segala keterbatasan menjadi kecukupan dan ketenangan batin. Kedua, lakukan yang terbaik. Menerima takdir bukan berarti berdiam diri dan pasrah tanpa usaha. Justru, kita diperintahkan untuk berikhtiar maksimal dalam koridor yang Allah ridhai. Bekerja keraslah, berbuat baiklah, dan beribadah dengan sungguh-sungguh. Ketiga, ambillah bekal untuk negeri akhirat. Iman, takwa, dan amal shaleh adalah bekal utama yang tak ternilai harganya. Fokus kita harus tertuju pada tujuan akhir, yaitu meraih keridhaan Allah dan masuk ke dalam Darussalam. Meski tujuan akhir kita adalah akhirat, janganlah kita meninggalkan bagian kita di dunia. Mencari nafkah yang halal, membahagiakan keluarga, dan berbuat baik untuk sesama adalah bagian dari ibadah yang juga dicatat sebagai pahala. Yang keliru adalah ketika kita hanya mengejar bagian di dunia dan melupakan bekal untuk akhirat. Dengan demikian, hidup yang seimbang adalah kuncinya. Jalani hidup dengan penuh keyakinan, terima segala ketentuan-Nya dengan lapang dada, isi dengan ikhtiar dan amal terbaik, dan selalu ingat bahwa kebahagiaan sejati menanti di negeri keabadian, Darussalam. Oleh: K.H. Fatkhurohman, S.Ag, M.Pd (PAIF Kankemenag Kebumen)

Read More »
Artikel
Faozan Bakhtiar

Mengenali Kondisi Hati

Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah, dan sesungguhnya di dalam hati itu terdapat segumpal darah. Jika ia baik, baik (pula) seluruh tubuh. Dan bila ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”. Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun Alaih). Qolbu atau hati menjadi sangat vital bagi setiap insan, untuk itu kita harus mengenali kondisi hati sendiri dalam kondisi yang seperti apa, apakah hati kita dalam kondisi 1) hati yang mati ( qolbun mayyitun) yakni kondisi yang tidak bisa lagi menerima kebenaran oleh siapapun. 2) hati yang sakit ( qolbun maridlun), ini bisa disebabkan karena kesombongan, harta, jabatan, ilmu atau status sosial, 3) hati yang lalai ( qolbun ghofilun) ini sangat bahaya karena hati yang seperti ini yang bersangkutan tahu hukum dan aturan tetapi berani melanggar, 4) hati sehat ( qolbun sihatun / qolbun salim) yakni hati yang senantiasa mudah menerima hidayah dari Alloh SWT dan mau menerima kebenaran yang disampaikan oleh siapapun tanpa memandang status siapa yang menyampaikan. Semoga hidayah taufiq dan mau’nah senantiasa mengantarkan hati kita selalu sehat A.Cholid Fikri (PAIF KUA Sruweng)Kultum 10 November 25

Read More »
Artikel
Khafid Ashari

MAKNA BIAS SEMOGA SAMAWA

Penyuluh Islam Kabupaten Kebumen – Semoga samawa atau semoga menjadi keluarga samawa, ucapan ini sering kali kita dengar ketika teman atau saudara kita baru saja melangsungkan sebuah pernikahan. Ucapan semoga samawa mengandung maksud sebuah untaian do’a untuk mempelai berdua semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa-rohmah. Ucapan ini sudah begitu akrab di telinga kita sehingga seakan ucapan ini benar adanya dan sesuai dengan kaidah agama. Padahal Rosululloh SAW tidak pernah mengajarkan do’a seperti itu kepada umatnya, melainkan Rosululloh SAW mengajarkan ucapan do’a pada umatnya untuk mempelai berdua  barokallohu laka wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoir. Lalu apa sebenarnya sakinah, mawaddah dan wa-rohmah itu, yang kita singkat dengan samawa sebagai ucapan do’a ?. Ungkapan kata sakinah, mawaddah wa-rohmah kita ketahui termaktub dalam al-Qur’an surat ar-Rum ayat 21. Namun sesungguhnya kata sakinah juga termaktub dalam surat al-Fath ayat 4, surat al-Baqoroh ayat 248, surat at-Taubah ayat 26 dan beberapa surat lain dalam al-Qur’an. Dari kata sakinah pada beberapa ayat tersebut mengisyaratkan bahwa sakinah adalah milik Alloh SWT, ciptaan dan pemberian Alloh SWT semata, bukan buatan rekodoyo manusia atau mahluk lainnya. Begitupun dalam surat ar-Rum ayat 21, dimana ayat ini diawali dengan kata kholaqo sebelum kata sakinah, yang mengandung maksud bahwa dipertemukannya jodoh atau pasangan manusia dari jenis manusia itu sendiri karena adanya rasa sakinah atau condong, tentram, ayem yang telah Alloh SWT ciptakan. Rasa sakinah atau condong, tentram, ayem ini kemudian Alloh SWT sematkan dalam hati kedua insan manusia, sehingga mereka saling condong satu sama lainnya sebagai pasangan yang telah Alloh SWT tentukan. Jadi ketika pasangan sampai ke pelaminan atau setelah terjadinya pernikahan, mereka sesungguhnya sudah dibekali rasa sakinah oleh Alloh SWT. Maka dari itu Rosululloh SAW mengajarkan do’a barokalloh untuk kedua mempelai yang berarti ziyadatul khoir atau tambah bertambah kebaikannya, tabah bertambah rasa condongnya, tambah bertambah rasa tentramnya dan tambah bertambah rasa ayemnya. Dengan kata lain, sakinah merupakan bibit pemberian dari Alloh SWT yang telah ditanamkan dalam hati kedua mempelai, maka tugas utama mempelai berdua adalah menumbuh kembangkan rasa sakinah itu seiring dengan berjalannya waktu. Sedangkan kata mawadah dan wa-rohmah dalam surat ar-Rum ayat 21 diawali dengan kata ja’ala, yang secara maknawiyah sama dengan kholaqo yaitu menjadikan. Namun perlu diketahui, bahwa penggunaan kata kholaqo dilihat dari aspek penciptaan, menekankan otoritas dan kekuasaan Alloh SWT dalam menciptakan sesuatu yang baru, hal ini menujukkan bahwa Alloh SWT tidak membutuhkan bantuan siapapun dalam menciptakan sesuatu. Sedangkan penggunakan kata ja’ala dilihat dari aspek penciptaan, menekankan keterlibatan manusia dalam prosesnya atau hasil dari perubahan menjadi sesuatu yang baru. Kata ja’ala dalam ayat ini menunjukkan bahwa Alloh SWT menciptakan suatu resep atau formula, sedangkan yang mengelola menjadikan sesuatu yang baru tergantung pada usaha manusia atau mahluk-Nya. Ibarat Alloh SWT menciptakan bodin lengkap dengan unsur-unsur yang ada didalamnya adalah kholaqo, sedangkan dari unsur-unsur yang terkandung di dalam bodin manusia kemudian bisa menjadikan sesuatu yang baru, berupa gethuk, usel dan lain sebagainya, ini adalah ja’ala. Jadi dari rasa sakinah yang telah Alloh SWT sematkan dalam hati kedua mempelai, agar tumbuh subur dan berkembang dengan baik seiring dengan berjalannya waktu, Alloh SWT juga sudah memberikan resep atau formula berupa mawadah dan wa-rohmah untuk menumbuh kembangkan rasa sakinah itu sendiri, hal ini tergantung dari kedua mempelai dalam mewujudkannya.

Read More »

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen