
REFLEKSI MENSYUKURI KEHIDUPAN MENUJU MASA PRA PASKAH
Penyuluh Katolik Kabupaten Kebumen – “Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas (Amsal 27:20)” Salve saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, bulan Februari ini akan menjadi bulan yang istimewa bagi Gereja Katolik di seluruh dunia. Selain pada tanggal 14 Februari nanti kita akan merayakan perayaan hari kasih sayang yang juga penghormatan kepada Orang Kudus atau Martir Santo Valentinus, di bulan yang sama tepatnya pada tanggal 18 Februari nanti Gereja Katolik di seluruh dunia akan merayakan perayaan Hari Rabu Abu atau tanda masuknya umat Kristiani dalam masa Pra Paskah, masa dimana Yesus akan mengorbankan seluruh hidup-Nya untuk menyelamatkan manusia. Pada Hari Rabu Abu, umat diajak bersama-sama untuk menanggalkan seluruh kesenangan duniawi dan melakukan pengenangan atas dosa-dosa manusia yang telah ditebus Yesus Kristus Sang Juruselamat dunia. Sekali lagi, umat diajak untuk berpuasa dan berpantang sebagai bentuk rasa prihatin atas perjuangan saudara-saudara kita yang saat ini mungkin juga berjuang atas kerasnya kehidupan di dunia. Peran umat selama masa Pra Paskah tidak hanya untuk berpuasa dan berpantang juga mengikuti kegiatan Pendalaman Iman Aksi Puasa dan Pembangunan, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilai kasih terhadap orang-orang yang berada disekitar kita. Menuju masa Pra Paskah tahun ini, kita bersama-sama diajak untuk merefleksikan kembali segala kehidupan kita selama satu tahun ini. Masa Pra Paskah dianggap sebagai masa pertobatan dimana Allah hadir untuk menyelamatkan kita manusia, akan tetapi kerap kali kita “lupa” akan dosa-dosa kita terutama dosa yang tidak begitu terlihat dampaknya dalam kehidupan yakni “Bersyukur”. Tidak jarang kehidupan kita diwarnai dengan suka dan duka pada tiap harinya, dan tak jarang pula duka yang tercipta dari pengalaman hidup kita memberikan bekas luka yang begitu mendalam sehingga kita lupa mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah. Bicara mengenai rasa bersyukur selalu tidak terhindarkan dari memiliki rejeki yang cukup, diberikan kenyamanan hidup, tidak mengkhawatirkan isi perut dan lain sebagainya. Tetapi, sebagai seorang manusia yang memiliki akal budi, kerap kali kita dihadapkan dengan adanya ketidakpuasan, misalnya ketika naik motor lalu kehujanan kita seolah membayangkan nikmatnya hidup orang yang ketika hujan memiliki mobil, atau ketika ada teman yang posting makan di restoran lalu kita berharap berada di posisi yang sama atau malah lebih baik lagi, padahal seluruh nafsu duniawi tidak akan pernah memuaskan kebutuhan manusia. Suka maupun tidak, manusia tidak hanya hidup dari daging melainkan pula hidup dari Roh, dimana daging tidak dapat memberikan kepuasan sedangkan Roh dapat memberikan penyegaran iman. Percayalah, dalam kehidupan ini, manusia yang tidak pernah mengimbangi hidupnya dengan makanan rohani tidak akan pernah merasakan yang namanya kepuasan. Padahal kalau melihat dari sudut pandang manapun, setiap manusia memiliki rejekinya masing-masing, mereka yang kehujanan karena naik motor lebih beruntung dari mereka yang kehujanan dengan berjalan kaki, mereka yang iri karena temannya makan di restoran tidak merasakan kelaparan seperti orang lain yang bahkan membeli mie instan juga tidak sanggup. Saudara-saudari yang beriman, ingatlah bahwa masa Pra Paskah akan diwarnai dengan Aksi Puasa dan Pembangunan, artinya kita tidak hanya diajak untuk menahan rasa lapar dan nafsu melainkan juga membangun pribadi yang berempati dengan lingkungan sekitar kita. Masa Pra Paskah tahun ini juga akan bersamaan dengan saudara kita yang menjalankan masa puasa, maka marilah kita manfaatkan momen indah ini sebagai suatu aksi nyata membangun moderasi beragama dan menguatkan persatuan antar umat beragama di sekitar kita. Amin dan Berkah Dalem. Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Kebumen Carolus Aditya Nouvanto


