Kebumen – Humas – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen melalui PD IGRA (Ikatan Guru Raudlatul Athfal) menggelar Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta sekaligus Sosialisasi KMA Nomor 1503 Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Candisari Kebumen dan diikuti seluruh guru RA se-Kabupaten Kebumen, Rabu 7 Januari 2026.
Dalam sambutannya, Ketua PD IGRA Kabupaten Kebumen, Siti Nafingatun, menilai pelatihan ini sebagai momentum penting memperkenalkan keberadaan IGRA serta meningkatkan kapasitas pendidik RA. Ia mendorong seluruh peserta mengikuti kegiatan secara sungguh-sungguh agar materi dapat diterapkan secara optimal di lembaga masing-masing.
“Ilmu hari ini diharapkan benar-benar memberi dampak nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran RA,” ujarnya.
Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Anif Solikhin, memberikan penguatan dengan membandingkan kondisi IGRA Kebumen dan daerah lain. Ia mencontohkan Kabupaten Klaten dengan jumlah pengawas RA terbatas untuk ribuan guru, sedangkan Kebumen memiliki rasio pengawasan lebih ideal.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan sistem pembinaan RA Kebumen relatif baik. Kesejahteraan guru IGRA juga dinilai cukup memadai, sehingga perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas pembelajaran serta komitmen mendidik generasi usia dini.
Dalam paparannya, Anif menegaskan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan penguatan nilai dalam kurikulum berjalan. Pendekatan ini menempatkan cinta sebagai ruh pendidikan.
Nilai inti Kurikulum Berbasis Cinta terangkum dalam Panca Cinta, meliputi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu pengetahuan, cinta diri dan sesama, cinta lingkungan alam semesta, serta cinta bangsa dan tanah air.
“Nilai tersebut relevan ditanamkan sejak dini agar anak tumbuh religius, humanis, cerdas, peduli lingkungan, serta memiliki semangat kebangsaan,” tegasnya.
Anif juga menjelaskan latar belakang lahirnya Kurikulum Berbasis Cinta. Fenomena intoleransi, sikap saling menyalahkan, hingga kebencian akibat perbedaan keyakinan masih dijumpai di kalangan pelajar. Kurikulum Cinta hadir sebagai solusi melalui penguatan nilai keberagaman dalam proses pembelajaran, khususnya pendidikan Islam di bawah naungan Kementerian Agama.
Kebijakan ini tertuang dalam KMA Nomor 1503 Tahun 2025 sebagai perubahan atas KMA Nomor 450 Tahun 2024 tentang pedoman implementasi kurikulum pada RA, MI, MTs, MA, dan MAK.
Kurikulum Berbasis Cinta menitikberatkan pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, serta penguatan aspek sosial dan emosional peserta didik. Tujuannya melahirkan insan humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan penuh cinta.
Kerangka KBC menggunakan pendekatan 5-5-5, mencakup lima tujuan, lima Panca Cinta, serta lima lingkungan belajar ideal, yakni aman, nyaman, ramah, menyenangkan, dan sejahtera. Paradigmanya berlandaskan teologi cinta, ibadah sebagai ekspresi cinta, ekoteologi, serta pandangan pendidikan holistik.
Strategi implementasi disesuaikan jenjang pendidikan. Di RA dan PAUD, pendekatan dilakukan melalui permainan edukatif serta pembiasaan positif. Pada jenjang lebih tinggi, pembelajaran berbasis pengalaman dan refleksi lebih ditekankan.
Melalui kegiatan ini, Kemenag Kebumen berharap guru RA semakin siap mengimplementasikan KMA 1503 Tahun 2025 sekaligus menghadirkan pembelajaran bermakna, penuh kasih, serta berorientasi pembentukan karakter anak sejak usia dini. (Mad).


