Kebumen – Humas – Komitmen MTs Negeri 6 Kebumen dalam membangun kepedulian lingkungan terus diperkuat. Berada di kawasan pesisir menjadi modal strategis bagi madrasah untuk mengembangkan pendidikan berbasis lingkungan. Langkah tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan dua guru MTsN 6 Kebumen dalam Training of Trainers (TOT) Sekolah Pantai Indonesia (SPI) Ekosistem Mangrove di Perpustakaan Kanzul Ulum MTsN 6 Kebumen, Selasa (28/7/2026).
Dua guru MTsN 6 Kebumen yang dikutkan yakni: Ayu Candra Kusuma dan Ikhsanudin. Melalui pelatihan ini, para peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai ekosistem mangrove serta metode pembelajaran Sekolah Pantai Indonesia (SPI) agar mampu menjadi fasilitator edukasi lingkungan di satuan pendidikan masing-masing.
Mewakili Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANG), Edi Tamtama menjelaskan bahwa pemilihan MTsN 6 Kebumen didasarkan pada letaknya di kawasan pesisir. Kondisi tersebut dinilai sangat mendukung pengembangan pendidikan lingkungan berbasis ekosistem pantai.
Menurutnya, madrasah memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan melalui pendekatan edukatif dan berkelanjutan.
“Kami berharap MTsN 6 Kebumen dapat menjadi agen perubahan dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan pesisir melalui konsep edukasi 4A, yaitu Amati, Analisa, Ajarkan, dan Aksi,” ujar Edi.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi dasar mengenai ekosistem mangrove dari Akbar Rochyadi. Materi mencakup pengenalan berbagai jenis mangrove, fungsi ekologis, manfaat bagi kehidupan masyarakat pesisir, hingga perannya dalam mencegah abrasi pantai dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Diskusi berlangsung interaktif. Salah satu peserta dari MTsN 6 Kebumen, Ikhsanudin, mengajukan pertanyaan mengenai prosedur penanaman mangrove di kawasan pantai.
Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa kegiatan penanaman mangrove tetap memerlukan koordinasi dan perizinan dari instansi berwenang agar pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan pengelolaan kawasan pesisir.
Setelah sesi teori, peserta mengikuti praktik lapangan untuk mempelajari teknik pengukuran populasi mangrove. Dengan pendampingan narasumber, peserta mempraktikkan cara mengukur diameter pohon, mengidentifikasi kondisi vegetasi, serta melakukan pengamatan sederhana guna mengetahui tingkat kesehatan ekosistem mangrove.
Hasil pengamatan kemudian dianalisis dan dipresentasikan sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Metode tersebut diharapkan dapat diterapkan kembali kepada peserta didik melalui pembelajaran kontekstual di madrasah.
Kegiatan ditutup dengan penyampaian evaluasi dan rencana tindak lanjut. Ke depan, program Sekolah Pantai Indonesia tidak hanya melibatkan guru sebagai fasilitator, tetapi juga akan mengajak peserta didik terjun langsung mengenal, mengamati, dan menjaga ekosistem mangrove di wilayah pesisir. Melalui pelatihan ini, MTsN 6 Kebumen diharapkan mampu mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam proses pembelajaran sehingga lahir generasi yang tidak hanya memahami pentingnya pelestarian alam, tetapi juga memiliki kepedulian dan keberanian untuk mengambil aksi nyata dalam menjaga ekosistem pesisir.(ww).



