Kebumen – Humas – Usaha seblak menjadi tumpuan Nur Ngaeni untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Ibu rumah tangga sekaligus single parent dengan dua anak masih bersekolah itu merintis usaha seblak sejak 1 Mei 2026 dengan modal sekitar Rp900 ribu. Kini, bantuan modal Rp2,5 juta dari Program Pemberdayaan Ekonomi Umat (PEU) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen memberinya kesempatan untuk mengembangkan usaha tersebut.
Bagi Nur Ngaeni, berjualan seblak bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan. Usaha itu menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membangun kemandirian ekonomi. Dengan keterbatasan modal, ia memulai usaha secara sederhana dan menggunakan peralatan memasak sehari-hari untuk mendukung proses produksi.
Modal awal sekitar Rp900 ribu sebagian besar digunakan untuk membeli bahan baku. Kondisi tersebut membuat Nur Ngaeni belum dapat menyediakan sejumlah peralatan khusus untuk menunjang usahanya. Ia pun menjalankan usaha secara bertahap sambil menyesuaikan kemampuan modal.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur mendapat tambahan modal ini. Sebelumnya, beberapa peralatan usaha belum memadai karena modal awal saya hanya sekitar Rp900 ribu. Sekarang saya bisa membeli tambahan peralatan sekaligus menambah varian bahan seblak,” ujar Nur Ngaeni kepada Penyuluh Agama Pendamping Arof Zamzami, Kamis 10 September 2026.
Tambahan modal tersebut menjadi peluang bagi Nur Ngaeni untuk meningkatkan usahanya. Sebagian bantuan digunakan membeli peralatan, sedangkan sebagian lainnya dialokasikan untuk menambah bahan dan varian menu seblak. Langkah itu diharapkan dapat membuat pilihan produk semakin beragam sekaligus menarik lebih banyak pelanggan.
Dari usaha sederhana itu, Nur Ngaeni kini mengaku mampu memperoleh keuntungan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Penghasilan tersebut menjadi sumber penting untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan mendukung keperluan pendidikan kedua anaknya.
“Alhamdulillah, sekarang keuntungan dari berjualan seblak sekitar Rp1,5 juta per bulan. Mudah-mudahan dengan tambahan modal dan bantuan pemasaran dari pendamping PEU, usaha saya bisa semakin berkembang. Hasilnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari,” katanya.
Nur Ngaeni berharap usaha seblaknya tidak berhenti pada skala saat ini. Ia ingin meningkatkan penjualan secara bertahap dengan memperbaiki peralatan, menambah pilihan bahan, serta memperluas pemasaran. Menurutnya, pendampingan dalam pemasaran juga penting agar produk lebih dikenal dan memiliki pelanggan lebih banyak.
Bantuan modal dari Program PEU menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi umat melalui penguatan usaha masyarakat. Bagi penerima seperti Nur Ngaeni, bantuan tersebut tidak hanya berbentuk tambahan modal, tetapi juga membuka ruang untuk mengembangkan usaha sebagai sumber penghasilan keluarga.
Perjalanan Nur Ngaeni menunjukkan bagaimana usaha kecil dapat menjadi tumpuan ekonomi keluarga ketika dikelola dengan tekun. Berawal dari modal sekitar Rp900 ribu dan peralatan sederhana, ia terus berusaha mengembangkan dagangan seblak demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Terima kasih kepada UPZ Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen atas bantuannya. Insyaallah bantuan ini akan saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan usaha,” tutur Nur Ngaeni.
Kini, harapan Nur Ngaeni bertumpu pada usaha seblak terus berkembang. Ia ingin penghasilan dari usaha tersebut semakin stabil sehingga kebutuhan keluarga dapat terpenuhi dan pendidikan kedua anaknya tetap berjalan.
Dari sebuah usaha sederhana, Nur Ngaeni sedang membangun harapan lebih besar. Seblak menjadi pintu bagi ikhtiar ekonominya, sementara dukungan modal dan pendampingan menjadi bekal untuk melangkah menuju usaha lebih mandiri.

