KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

Antara Tuhanku dan Tanggung Jawabku

Di Indonesia keberadaan Tuhan merupakan hal yang Paling Penting bagi Agama. Sehingga masing-masing agama yang ada di Indonesia memiliki sebutan untuk Agamanya dan menjadikan Tuhan menjadi sumber dari segala hal. Sebegitu pentingnya keberadaan Tuhan maka salah satu syarat agama diakui di negara ini adalah mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 Ayat (1) dan (2): Menegaskan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Lalu bagaimana dengan Agama Buddha? Apakah juga memiliki Keyakinan terhadap adanya Tuhan dan apakah memiliki landasan kitab suci berkenaan adanya Tuhan di dalam Agama Buddha? Jawabannya Tentu ya, agama Buddha memiliki keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan landasannya adalah Kitab Udana VIII: 3yang berbunyi:

“Atthi bhikkhave adhatam abhutam akatam asamkhatam…”

Artinya: “Ketahuilah para Bhikkhu, ada Sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Dijelmakan, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak (Asamkata Dhamma).”

Ayat ini menegaskan bahwa dalam agama Buddha, Tuhan adalah sesuatu yang Mutlak (Absolut), tidak berkondisi, tidak berawal, dan tidak berakhir. Jika tidak ada yang Absolut ini, maka manusia tidak akan pernah bisa bebas dari penderitaan (Samsara) dan mencapai pencerahan sempurna (Nibbana/Nirwana).

Dalam ajaran agama Buddha, konsep ketuhanan memiliki karakteristik yang sangat unik dan berbeda dengan konsep ketuhanan personifikasi (antropomorfik) dalam agama-agama teistik abrahamik. Agama Buddha tidak mengenal konsep Tuhan sebagai sosok pencipta (creator God) yang mengatur takdir manusia, menghukum, atau memberi pahala.

Tuhan dalam agama Buddha bukan berupa pribadi atau wujud personal, baik secara Fisik, atau sifat buruk manusia. Tuhan dipahami melalui sifat-sifat spiritual yang absolut, antara lain Tanpa Personifikasi (Impersonal) yang artinya Tuhan tidak digambarkan memiliki wajah, emosi (seperti marah atau cemburu), atau gender. Ketuhanan adalah hukum kosmis tertinggi yang suci. Keberadaan Tuhan di pahami sebagai Asamkata Dhamma yang berarti sesuatu yang tidak berkondisi, kebenaran mutlak yang ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Sehingga Tuhan merupakan Anatta (Tanpa Aku yang Kekal), Mengindikasikan bahwa manifestasi ketuhanan melampaui ego dan dualitas “pencipta dan ciptaan”.

Keberadaan Tuhan Yang maha Esa dan Suci berkenaan kondisi alam semesta dan kehidupan, agama Buddha menjelaskan bahwa segala sesuatu berjalan berdasarkan Hukum Alam Semesta (Dhamma Niyama), bukan atas kehendak personal subjektif dari Tuhan.

Ada 5 hukum kosmis (Panca Niyama) yang mengatur seluruh jagat raya:

  1. Utu Niyama: Hukum fisika/anorganik (perubahan cuaca, iklim, gempa bumi).
  2. Bija Niyama: Hukum biologi/organik (tumbuh-tumbuhan, genetika).
  3. Kamma Niyama: Hukum kausalitas moral (aksi-reaksi, perbuatan baik menghasilkan kebahagiaan, perbuatan buruk menghasilkan penderitaan).
  4. Citta Niyama: Hukum psikologis/pikiran (kerja kesadaran dan persepsi).
  5. Dhamma Niyama: Hukum alam spiritual (fenomena alam saat Bodhisattva lahir, hukum gravitasi, dan sifat mutlak alam semesta).

Dari pemahaman Hukum inilah kita harus memahai hidup kita  tidak tergantung kepada Tuhan, tetapi tergantung pada diri kita sendiri, bertanggung jawab pada diri kita sendiri. Kaya, Miskin, Cantik, buruk Rupa, Bahagia Menderita semua berawal dari perbuatan kita sendiri. Buddha telah menyampaikan di dalam Dhammapada Ayat 165 bahwa :

“Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri; tak seorang pun dapat menyucikan orang lain.”

Ayat ini menegaskan bahwa Keburukan atau kesucian batin bersifat personal dan tidak bisa ditransfer atau didelegasikan kepada orang lain. tidak ada makhluk suci, dewa, atau kekuatan eksternal apa pun yang bisa “menyelamatkan” seseorang dari penderitaan jika orang tersebut tidak berusaha sendiri. Dalam Dhammapada Syair 276 Budddha menyampaikan:

“Kamu sendirilah yang harus berjuang dengan tekun; para Tathagata (Buddha) hanya menunjukkan Jalan. Mereka yang memasuki Jalan ini dan melatih diri dalam meditasi akan terbebas dari belenggu Mara (kematian/kekotoran batin).” Bagi umat Buddha (khususnya di Indonesia), konsep Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip spiritual tertinggi yang bersifat impersonal, mutlak, tidak diciptakan, dan menjadi muara akhir dari pembebasan (Nibbana).  Sehingga Tuhan dan Buddha sebagai Teladan dan Penunjuk jalan, kita sebagai manusialah yang memperjuangkannya. Bahagia, menderita menjadi Sebab Akibat yang harus kita terima dan bentuk pertanggung jawaban dari setiap perbuatan yang kita lakukan.

Teguh Prassetya

Penyuluh Buddha Kab. kebumen

Berita Terpopuler

Galeri

Galeri

3 Videos
Edit Template

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen