Kebumen – Humas – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen melalui Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren menggelar Pelatihan Laundry bagi santri pondok pesantren dalam rangka memperingati Hari Santri Tahun 2026. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 15–17 Oktober 2026, bertempat di SMK Ma’arif 1 Kebumen.
Pelatihan ini menjadi salah satu upaya mendorong kemandirian ekonomi santri melalui pembekalan keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Sebanyak 10 santri dari lima pondok pesantren terpilih mengikuti kegiatan tersebut, dengan masing-masing pondok mengirimkan dua santri.
Pembukaan pelatihan dihadiri Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kankemenag Kebumen, H. Fahrudin; Wakil Ketua III BAZNAS Kabupaten Kebumen Bidang Perencanaan Keuangan dan Pelaporan, Sairun, S.Pd., M.Pd.; serta perwakilan SMK Ma’arif 1 Kebumen.
Lima pondok pesantren yang menjadi peserta adalah Pondok Pesantren Al-Kamal, Al Istiqomah, Al Hasani, Nurul Hidayah, dan As Sidiqiyah. Peserta dipilih dari total 110 pondok pesantren berizin operasional (berizin) yang berada di wilayah Kabupaten Kebumen.
Dalam sambutannya, Fahrudin menegaskan bahwa santri perlu memiliki kemampuan untuk mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan peran utama mereka dalam mendalami ilmu agama. Menurutnya, keterampilan praktis dapat menjadi bekal bagi santri untuk membangun usaha dan meningkatkan kesejahteraan di masa depan.
“Santri hari ini harus kaya,” tegas Fahrudin.
Ia menjelaskan, kemandirian ekonomi dapat tumbuh melalui kemauan, tekad, dan kesungguhan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Karena itu, setelah berkoordinasi dengan BAZNAS Kabupaten Kebumen, Kankemenag Kebumen memilih pelatihan laundry sebagai salah satu kegiatan pemberdayaan santri dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2026.
Fahrudin juga menyampaikan pesan yang menjadi penekanan dalam kegiatan tersebut, yakni santri dapat mengembangkan usaha tanpa meninggalkan identitas dan tanggung jawabnya sebagai penuntut ilmu agama.
“Siang menjadi bos laundry, malam menjadi guru ngaji,” ujarnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kemandirian ekonomi dan penguatan keilmuan agama dapat berjalan beriringan. Santri diharapkan mampu memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk merintis usaha, sekaligus tetap menjaga tradisi belajar dan mengamalkan ilmu agama.
Sementara itu, Sairun menyampaikan bahwa pelatihan laundry merupakan bagian dari upaya pengentasan persoalan ekonomi melalui pendayagunaan potensi dan peningkatan keterampilan masyarakat, khususnya kalangan santri.
Ia meminta seluruh peserta mengikuti pelatihan hingga selesai agar materi yang diberikan dapat dipahami dan diterapkan secara optimal.
“Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan ini sampai tuntas agar ilmu dan keterampilan yang diperoleh benar-benar bisa dimanfaatkan,” ujar Sairun.
Sairun juga berharap sarana pendukung yang nantinya diberikan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mengembangkan usaha laundry di lingkungan pondok pesantren. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi dapat berlanjut menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat ekonomi.
“Setelah pelatihan selesai dan sarana diberikan, saya berharap semuanya dapat digunakan secara maksimal sehingga bisa memberikan manfaat nyata bagi pondok pesantren dan meningkatkan kemandirian ekonomi santri,” tambahnya.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi pengenalan alat-alat laundry sebagai dasar untuk memahami proses kerja usaha jasa pencucian pakaian. Materi tersebut menjadi tahap awal sebelum peserta mendalami keterampilan yang dibutuhkan dalam pengelolaan usaha laundry selama pelatihan berlangsung.
Melalui kegiatan ini, Kankemenag Kebumen berharap santri tidak hanya memiliki bekal keagamaan yang kuat, tetapi juga keterampilan produktif yang dapat mendukung kemandirian ekonomi. Pelatihan laundry diharapkan menjadi langkah awal bagi pondok pesantren untuk mengembangkan unit usaha yang bermanfaat bagi santri dan lingkungan sekitarnya.

