Kebumen – Humas – Menulis berita tidak cukup hanya mencatat nama kegiatan. Seorang penulis perlu mampu menemukan cerita di balik peristiwa agar informasi terasa lebih hidup dan menarik bagi pembaca.
Kemampuan itulah yang dipelajari 20 murid MTs Negeri 8 Kebumen bersama tim Humas dalam Pelatihan Kehumasan di Lab Komputer 1 MTsN 8 Kebumen, Sabtu (29/8/2026). Melalui pelatihan tersebut, peserta diajak menjadi “detektif cerita”, yakni jeli mencari sisi menarik dari berbagai aktivitas madrasah sebelum mengubahnya menjadi berita.
Kegiatan dibuka Waka Kurikulum MTsN 8 Kebumen, Dian Inugrah Wijayanti. Ia berharap pelatihan dapat menambah wawasan peserta sekaligus mendorong keterlibatan murid dalam menyampaikan berbagai informasi positif tentang madrasah.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap para peserta dapat mengikuti pelatihan dengan baik dan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh untuk mendukung kemajuan madrasah,” ungkap Dian.
Sebagai narasumber, Faozan Bakhtiar, Humas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, mengajak peserta memahami cara menemukan sudut pandang atau angle sebelum menulis berita.
Untuk membuka materi, Faozan menunjukkan contoh berita di laman resmi Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen berjudul “Duet Haru Alleya dan Sang Ayah Tuai Apresiasi di Akhirussanah MIN 1 Kebumen”. Berita tersebut telah dibaca lebih dari 64.000 kali.
Menurut Faozan, tingginya perhatian pembaca terhadap berita tersebut dapat menjadi pelajaran bagi penulis madrasah. Daya tarik berita tidak semata-mata terletak pada nama kegiatan, tetapi pada cerita manusia di balik sebuah peristiwa.
“Pembaca tidak selalu mencari acara. Pembaca mencari cerita. Mereka ingin tahu siapa orangnya, apa kejadiannya, apa sisi menariknya, serta apa pelajaran dari cerita tersebut,” jelas Faozan.
Ia menilai penulis berita madrasah kerap langsung menggunakan nama kegiatan sebagai judul. Cara tersebut tidak keliru, tetapi peluang menemukan cerita lebih kuat bisa terlewat jika proses peliputan berhenti pada acara.
Karena itu, peserta diajak membayangkan saat mendapat tugas meliput acara pelepasan murid. Sebelum membuat judul, mereka diminta mencari kemungkinan cerita melalui sejumlah pertanyaan.
Adakah murid berprestasi? Apakah terdapat kisah perjuangan? Adakah orang tua dengan pengalaman menarik? Apakah ada guru dengan pengabdian unik? Adakah tradisi khas madrasah? Apakah terdapat data atau fakta menarik? Atau, adakah sesuatu yang berbeda dibandingkan madrasah lain?
“Coba menjadi detektif. Cari dulu ceritanya,” kata Faozan.
Ia menjelaskan, jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu menentukan angle atau sudut pandang utama berita. Satu kegiatan bisa menghasilkan beberapa berita karena setiap peristiwa memiliki banyak sisi.
Acara pelepasan, misalnya, tidak harus diberitakan sebagai kegiatan seremonial. Penulis dapat memilih kisah murid berprestasi, perjuangan orang tua, pengabdian seorang guru, atau tradisi khas madrasah sebagai pusat cerita.
Setelah menemukan angle, peserta diperkenalkan pada alur sederhana penulisan berita, yaitu fakta, angle, lead, kutipan, cerita, data, dan penutup. Pola tersebut membantu penulis menjaga arah berita agar tetap fokus sejak paragraf awal hingga bagian akhir.
Faozan juga mengingatkan peserta untuk menggunakan bahasa jurnalistik secara sederhana. Berita tidak perlu dipenuhi istilah rumit atau kalimat panjang. Informasi harus disampaikan secara jelas sehingga pembaca dapat memahami pesan tanpa harus menebak maksud penulis.
“Berita yang baik tidak harus memakai bahasa sulit. Gunakan kalimat sederhana, jelas, dan langsung pada persoalan,” katanya.
Materi juga membahas cara membuat judul menarik tanpa terjebak clickbait. Menurut Faozan, judul harus sesuai dengan isi berita. Rasa penasaran pembaca boleh dibangun, tetapi informasi di dalam berita tetap harus mampu menjawab janji judul.
“Jangan membuat judul menarik tetapi isinya kosong. Kalau judul menjanjikan sesuatu, isi berita harus mampu membayarnya,” tegas Faozan.
Pelatihan tersebut diikuti 20 murid dari kelas Multimedia dan FDS Talenta bersama tim Humas MTsN 8 Kebumen. Selain belajar menulis, peserta mendapat bekal untuk memahami proses mengolah informasi sebelum dipublikasikan melalui media digital.
Keterampilan tersebut diharapkan membuat murid tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mampu menghasilkan informasi positif, akurat, kreatif, dan bertanggung jawab.
MTsN 8 Kebumen juga mendorong peserta mengambil peran sebagai duta informasi madrasah. Mereka dapat membantu mendokumentasikan kegiatan, menggali cerita, mengolah bahan menjadi informasi, serta memperkenalkan prestasi dan potensi madrasah kepada masyarakat.
Keterlibatan murid sekaligus memperluas peran kehumasan. Tugas memperkenalkan berbagai aktivitas positif madrasah bukan hanya berada pada tim humas, tetapi dapat dilakukan bersama oleh seluruh warga madrasah.
Melalui pelatihan tersebut, MTsN 8 Kebumen berupaya membangun generasi kreatif, melek digital, serta memiliki kepekaan terhadap berbagai peristiwa di sekitarnya.
Sebab, sebuah kegiatan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, di dalamnya bisa terdapat kisah perjuangan, prestasi, inspirasi, atau pengalaman berharga. Murid yang mampu menemukan sisi tersebut telah belajar menjadi “detektif cerita” sekaligus penulis berita.


