KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

Sya‘ban, Momentum Penguatan Kehidupan Beragama

Amir Syarifuddin, S.Ag. Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Klirong

Bulan Sya‘ban sering hadir tanpa banyak disadari. Ia berada di antara Rajab yang dimuliakan dan Ramadhan yang dinanti, sehingga kerap terlewatkan begitu saja. Padahal Rasulullah SAW justru memberi perhatian khusus terhadap bulan Sya’ban ini.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i, mengenai Sya’ban Rasulullah SAW bersabda:

ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.”


Hadits ini menegaskan bahwa keutamaan ibadah tidak selalu terletak pada keramaian, tetapi pada kesadaran dan keikhlasan, terutama di saat banyak orang lalai. Sya‘ban menjadi waktu yang tepat untuk menata kembali kehidupan beragama. Bukan sekadar menambah kuantitas amal, tetapi meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki kinerja dan akhlak.

Membiasakan kedisiplinan shalat tepat waktu, memperbanyak shalawat, membaca dan tadabbur Al-Qur’an, serta menjaga lisan dan sikap sosial merupakan bentuk nyata dari penguatan kehidupan beragama yang berdampak langsung dalam keseharian.

Kebiasaan Rasulullah SAW berpuasa di bulan Sya‘ban juga terekam jelas dalam hadits Aisyah ra :

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ ‏.

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih banyak berpuasa sunnah daripada di bulan Sya‘ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadits ini menunjukkan bahwa Sya‘ban adalah bulan latihan spiritual dan persiapan ruhani, bukan sekadar pengantar Ramadhan.


Teladan Rasulullah SAW tersebut sekaligus mengajarkan nilai moderasi dalam beragama. Beliau meningkatkan ibadah tanpa sikap berlebihan dan tetap menjalankan aktivitas sosial secara seimbang.

Dari sini umat belajar bahwa beragama secara benar adalah berjalan di tengah, tidak ekstrem dan tidak pula lalai, sehingga agama menjadi sumber ketenangan, bukan beban. Menjelang Ramadhan, Sya‘ban juga menjadi momentum membersihkan hati dan memperbaiki hubungan sosial.

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ» . رَوَاهُ ابْن مَاجَه

Dalam riwayat Ibnu Majah di atas disebutkan bahwasanya Allah SWT memberikan ampunan pada malam pertengahan Sya‘ban kepada hamba-hamba-Nya, kecuali mereka yang menyekutukan Allah dan mereka yang menyimpan permusuhan.

Pesan ini menguatkan pentingnya saling memaafkan, menyambung silaturahmi, dan mengakhiri perselisihan sebagai bagian dari ibadah yang berdampak luas bagi kerukunan masyarakat.


Dalam lingkup keluarga, Sya‘ban dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan ibadah bersama dan menumbuhkan suasana religius di rumah. Keluarga yang kuat secara spiritual akan melahirkan ketahanan moral dan akhlak, yang pada akhirnya berkontribusi pada terwujudnya masyarakat yang rukun dan harmonis.


Sya‘ban bukan sekadar bulan penantian menuju Ramadhan, tetapi masa persiapan yang menentukan kualitas ibadah di bulan suci. Ketika Sya‘ban diisi dengan kesadaran, keseimbangan, dan kepedulian sosial, maka Ramadhan akan dijalani dengan lebih bermakna.

Dari bulan yang sering dilupakan inilah, sejatinya penguatan kehidupan beragama dapat dimulai.

Amir Syarifuddin, S.Ag.

Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Klirong

Berita Terpopuler

Galeri

Galeri

3 Videos
Edit Template

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen