KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN KEBUMEN

📌 ISLAM

Artikel
Khafid

Haji dari Pulau Onrust dan Rubiah

Setiap manusia pasti memiliki perjalanan hidup yang penuh warna. Sebuah perjalanan yang menjadi sejarah atas diri manusia tersebut. Kali ini, kembali kita buka sebuah perjalanan ibadah yang berdurasi panjang dan penuh tantangan di masanya. Seluruh umat Islam tentu mengenal dengan baik mengenai ibadah haji. Sebuah ibadah yang termasuk dalam rukun Islam ke-5 sekaligus ibadah yang tergolong sunah muakad (sunah yang diwajibkan bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk menjalankanya). Dalam catatan Sirah Nabawiyah, perjalanan ibadah haji sudah dimulai sejak Nabi Ibrahim as dan disempurnakan pada masa Nabi Muhammad saw. Setiap rangkaiannya menginterpretasikan identitas sejati dari manusia. Bahkan, peristiwa monumental dalam sejarah umat Islam juga pernah terjadi dalam perjalanan ini. Turunnya Surah Al-Maidah ayat 3 sebagai ayat terakhir sekaligus penutup wahyu yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Sekaligus pula menjadi pertanda dari haji wadak (perjalanan haji terakhir yang dilakukan Nabi Muhammad) menjadi sebuah peristiwa yang penuh haru dan kesedihan. Ternyata, hingga puluhan abad kemudian perjalanan haji ini juga masih menjadi sebuah perjalanan panjang yang ditempuh oleh setiap muslim. Beragam alasan mereka jauh-jauh dari negaranya datang ke Kota Makkah, Saudi Arabia, hanya untuk berwisata rohani dan merefleksikan diri atas perjalanannya selama ini sebagai seorang manusia. Dari sejarah perjalanan tersebut juga, kita mengenal satu tokoh guru besar Universitas Leiden yang akhirnya melakukan spionase terhadap rakyat Aceh. Beliau tidak lain adalah C. Snouk Hurgronje. Dituliskan dalam situs resmi kemenag.go.id. saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda (East Indische), pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1825 sudah mengeluarkan pelbagai ordonansi yang memperketat mengenai perjalanan haji. Demikian juga ketika menelusuri lebih jauh. Disebutkan dalam situs historia.id, sudah sejak akhir tahun 1600-an VOC selaku kongsi dagang Belanda di Hindia Timur mulai memperketat keberangkatan haji untuk masyarakat pribumi. Ketika kita akan berbicara tentang haji pada era kolonial, tentunya secara eksplisit akan tersebut Pulau Onrust (Onrust Eiland), Pulau Cipir (Kuipers Eiland), Pulau Kelor (Kerkhof Eiland), dan Pulau Rubiah. Ahmad Fauzan Baihaqi pada tahun 2016 telah menyampaikan dalam laporan penelitian berjudul “Pelayaran Angkutan Jamaah Haji di Hindia Belanda (Tahun 1911-1930)”. Dalam laporan medis sejak pada pertengahan akhir abad ke-19, tercatat banyak jamaah haji yang meninggal karena terkena wabah penyakit menular. Tidak sedikit dari mereka akhirnya mengembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan di kapal uap yang tidak sehat. Contoh kasus terjadi pada tahun 1891. Sebuah kapal Gelderland yang datang ke Tanjung Priok berpenumpang 700 jamaah haji dari Jeddah, terdapat 32 orang jamaah yang meninggal dalam perjalanan. Penyebab kematiannya karena di kapal tersebut tidak ada seorang pun dokter sebagai petugas kesehatan. Catatan selanjutnya pada tahun 1893, sebuah kapal Samoa dengan berpenumpang 2.500 jamaah dari Jeddah, ternyata saat berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok juga  banyak sekali penumpang yang terkena penyakit menular. Bahkan, 61 orang di antaranya meninggal dalam perjalanan disebabkan kurangnya perawatan kesehatan selama perjalanan dengan kapal tersebut. Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui penyebab kematian para jamaah dalam perjalanan yang ditempuh karena mereka terinfeksi pelbagai jenis penyakit menular saat itu, antara lain, pes, kolera, dan lainnya. Penyakit ini menular, menyebar, dan akhirnya menjadi perhatian dunia internasional. Konsulat Belanda sendiri telah menduga sebelumnya, terkait meluasnya penyebaran penyakit endemik tersebut disebabkan aktivitas perjalanan laut. Hingga akhirnya sebagai langkah penanganan lebih lanjut, Pemerintah Belanda memulai pelbagai usaha perbaikan fasilitas kesehatan pada transportasi laut. Khususnya pada kapal yang akan menjadi angkutan perjalanan haji melalui ketetapan standardisasi penumpang dan armada dalam Ordonansi Pelayaran Haji tahun 1898 hingga 1922. Kemudian, pada tahun 1911, pemerintah kolonial kembali menetapkan ordonansi terkait kewajiban untuk melakukan karantina (Quarantine Ordonantie) terhadap seluruh jamaah haji yang akan berangkat dan pulang dari perjalanan tersebut. Kewajiban karantina tersebut dihadirkan sebagai bentuk pengawasan kesehatan para penumpang dalam kapal dan memfasilitasi pencegahan penyakit menular tersebut. Pemerintah kolonial menetapkan lokasi karantina para jamaah haji tersebut di Pulau Rubiah, Sabang, Pulau Onrust, serta Kuiper di Batavia. Disebutkan dalam Ordonansi Haji Tahun 1898,  pemerintah juga secara tertulis menjelaskan pengaturan terkait tempat embarkasi dan debarkasi haji di dua lokasi utama, yaitu: di Pelabuhan Batavia dan Padang. Hal ini dapat dilihat dari surat pernyataan yang dikeluarkan  Menteri Koloni Belanda kepada Gubernur Jenderal, bahwa ketentuan mengenai lalu lintas penumpang jamaah haji hanya bertahan dengan pengiriman antara pelabuhan-pelabuhan Hindia Belanda dan keluar saja. Sehingga, dalam pelaksanaannya, dikarenakan kurangnya jumlah embarkasi dan/atau debarkasi haji, maka pada tahun 1904 pemerintah memberikan aturan tambahan dalam ordonansi tahun 1898. Ordonansi tersebut menyebutkan penambahan Pelabuhan Sabang sebagai pelabuhan haji (pelgrimshaven). Dengan memperhatikan kebijakan kesehatan dalam Ordonansi Karantina Tahun 1911, mulai diatur secara lebih spesifik terkait status kapal haji. Dalam ordonansi tersebut, dikatakan bahwa kapal haji merupakan sebuah kapal yang difungsikan secara khusus untuk mengangkut jamaah haji dari Hindia Belanda ke Pelabuhan Jeddah. Selanjutnya, status penumpang yang dimiliki jamaah haji ditempatkan sebagai penumpang kelas ekonomi dan ditempatkan di kelas rendah (laagste klasse). Para calon penumpang harus mengurus status penumpangnya secara prosedural dengan agen haji yang secara sah selaku pihak pelaksana dari penyelenggaraan perjalanan haji tersebut. Selain itu, ditetapkan enam pelabuhan embarkasi haji di Hindia Belanda, yakni Makassar, Surabaya,Tanjung Priok, Emena (Padang), Palembang, dan Sabang. Sebagai penutup, Kyota Hamzah menuliskan dalam bukunya “Haji: Ibadah yang Mengubah Sejarah Nusantara” tahun 2022, menguraikan saat perjalanan haji juga berjalan seiring dengan perdagangan antarnegara telah menjadi salah satu bentuk kegiatan penyebaran Islam yang dilakukan di Nusantara. Kedatangan para pedagang Islam tidak hanya mendatangkan barang dagang dan tawaran untuk mengenyam pendidikan di Tanah Haram tersebut, lebih dari itu semua mereka mengenalkan ibadah haji sebagai salah satu ibadah yang perlu untuk dijalani bagi mereka yang mampu (secara fisik dan material). Hingga saat Nusantara memasuki era baru dan berubah nama menjadi Hindia Belanda, gelombang keberangkatan jamaah haji semakin meningkat di tengah gelombang penyakit endemik yang melanda dunia dan gelombang pemberontakan yang didukung oleh para ulama. Pulau Onrust dan Pulau Rubiah hingga hari ini hadir untuk menceritakan sibuknya mereka pada era tersebut agar kita dapat menjadikan mereka sebagai pembelajaran yang sangat berharga.

Read More »
Artikel
Faozan

Makna Idul Fitri: Kembali ke Fitrah, Membersihkan Hati dan Mempererat Silaturahmi

Idul Fitri merupakan momen penting bagi umat Islam setelah menunaikan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Tidak sekadar hari raya untuk merayakan berakhirnya bulan puasa, Idul Fitri memiliki makna yang mendalam, baik secara spiritual maupun sosial. Secara spiritual, Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi orang-orang yang mampu menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadan. Pada hari ini, setiap Muslim dianjurkan untuk melakukan shalat Idul Fitri, berzakat fitrah, dan memperbanyak doa serta rasa syukur kepada Allah SWT atas rahmat, ampunan, dan kesehatan yang diberikan. Hari kemenangan ini menjadi simbol bersihnya hati dari dosa-dosa, sebagaimana puasa telah membersihkan jiwa dari sifat negatif. Selain aspek spiritual, Idul Fitri juga menekankan nilai sosial dan silaturahmi. Tradisi yang tidak kalah penting adalah halal bihalal, sebuah praktik khas Indonesia di mana keluarga, sahabat, tetangga, dan rekan kerja saling memaafkan. Halal bihalal bukan sekadar formalitas, tetapi sarana memperkuat tali persaudaraan, memperbaiki hubungan yang sempat retak, dan menumbuhkan rasa saling menghargai. Dalam konteks ini, Idul Fitri menjadi momentum mempererat ukhuwah, membangun persatuan, dan menebarkan kedamaian dalam masyarakat. Hakikat Idul Fitri dan halal bihalal adalah pembersihan hati dan perbaikan hubungan antar sesama. Ketika seseorang mampu memaafkan kesalahan orang lain, ia secara tidak langsung menyejukkan hati, mengurangi rasa dendam, dan menumbuhkan empati. Ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kasih sayang, toleransi, dan keadilan sosial. Dengan demikian, Idul Fitri bukan hanya tentang kegembiraan atau makanan khas lebaran, tetapi lebih pada refleksi diri, pemurnian akhlak, dan penguatan ukhuwah. Melalui shalat, zakat, dan halal bihalal, setiap Muslim diajak untuk kembali ke fitrah, menjadi pribadi yang lebih baik, serta menjalin hubungan harmonis dengan Allah dan sesama manusia. Mari kita sambut Idul Fitri dengan hati yang bersih, tangan terbuka untuk memaafkan, dan semangat untuk mempererat persaudaraan. Semoga momen ini menjadi titik awal untuk menjadi insan yang lebih bijak, sabar, dan peduli terhadap sesama. Oleh: H. Johan Amru, S.Sos.IPenyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kebumen

Read More »
Artikel
Faozan

Ramadan 1447 H: 10 Tips ASN Kemenag Tetap Sehat, Produktif, dan Fokus Melayani

Kebumen – Humas – Penyesuaian jam kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) selama Ramadan 1447 Hijriah resmi berlaku di lingkungan Kementerian Agama. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemenag Nomor 4 Tahun 2026 tentang jam kerja pegawai selama bulan suci. Penyesuaian ini diharapkan membantu ASN menjalankan ibadah puasa dengan lebih optimal tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Ramadan bukan sekadar momentum spiritual, melainkan juga kesempatan memperkuat kinerja, kedisiplinan, dan etos kerja. Pengaturan jam kerja juga memberi ruang bagi ASN menjaga kesehatan, tetap fokus, serta menambah waktu ibadah. Meski demikian, produktivitas tetap menjadi perhatian utama. Karena itu, ASN perlu mengatur pola hidup secara seimbang selama menjalani puasa. Berikut 10 tips agar ASN tetap bugar, produktif, dan ibadah semakin maksimal selama Ramadan: 1. Niat dan Mindset Positif Awali puasa dengan niat kuat. Ramadan menjadi kesempatan meningkatkan kualitas diri, bukan alasan menurunkan kinerja. 2. Sahur Bergizi dan Seimbang Pilih menu tinggi protein, serat, serta cukup cairan. Hindari makanan terlalu manis atau berminyak agar energi stabil sepanjang hari. 3. Atur Pola Tidur Tidur cukup membantu fokus bekerja. Usahakan tidur lebih awal dan manfaatkan waktu istirahat secara optimal. 4. Tetap Aktif Bergerak Lakukan peregangan ringan di sela pekerjaan. Aktivitas sederhana membantu tubuh tetap segar. 5. Kelola Waktu dengan Baik Buat daftar prioritas pekerjaan. Fokus pada tugas utama agar target tetap tercapai. 6. Hindari Begadang Tidak Perlu Kurangi aktivitas yang tidak penting pada malam hari. Waktu malam sebaiknya dimanfaatkan untuk ibadah dan istirahat. 7. Jaga Konsentrasi Kurangi distraksi seperti media sosial saat jam kerja. Fokus meningkatkan kualitas hasil pekerjaan. 8. Perbanyak Ibadah Ringan Dzikir, membaca Al-Qur’an, serta sedekah dapat dilakukan tanpa mengganggu pekerjaan. 9. Jaga Emosi dan Komunikasi Puasa melatih kesabaran. Sikap ramah dan santun akan meningkatkan kualitas pelayanan publik. 10. Manfaatkan Waktu Menjelang Berbuka Gunakan waktu akhir kerja untuk evaluasi dan refleksi diri. Momen tersebut membantu menjaga semangat dan motivasi. Kemenag mengajak seluruh ASN menjadikan Ramadan sebagai sarana meningkatkan integritas, disiplin, serta kepedulian sosial. Pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Dengan pola hidup sehat, manajemen waktu yang baik, serta komitmen spiritual, ASN dapat menjalankan puasa dengan penuh semangat. Ramadan pun menjadi momentum memperkuat profesionalisme sekaligus meningkatkan kualitas ibadah.

Read More »
Artikel
Faozan

Rajab Menanam, Sya’ban Merawat, Ramadhan Memanen

Dalam kehidupan masyarakat petani, setidaknya ada tiga masa yang sangat menentukan keberhasilan panen, pertama yaitu masa tanam (tandur), yang kedua masa merawat (matun), mengairi (nyiram) dan memupuk (ngemes), serta ketiga yaitu masa panen (ngunduh). Setiap tahap tersebut membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan perhatian yang berkelanjutan. Tanpa proses yang baik, mustahil akan diperoleh hasil panen yang maksimal. Perumpamaan ini sangat relevan dengan perjalanan spiritual umat Islam dalam menghadapi bulan suci Ramadhan. Bulan Rajab menjadi masa menanam amal ibadah dan kebaikan (masa tandur), Sya’ban menjadi masa merawat serta memupuk  (masa nyirami), sementara Ramadhan sebagai masa panen (ngunduh). Persiapan yang matang di bulan-bulan sebelum Ramadhan akan sangat menentukan keberhasilan, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas ibadah. Sejak masa awal Islam, para ulama telah menggunakan perumpamaan yang indah untuk menjelaskan keutamaan tiga bulan mulia ini. Salah satunya seperti yang dinukil oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’iful Ma‘arif dari Abu Bakar al-Warraq al-Balkhi. شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ Bulan Rajab adalah bulan menanam (masa tandur), Bulan Sya’ban adalah bulan menyiram tanaman (masa nyirami), dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman (masa ngudnuh). Ada juga ulama yang menyampaikan perumpamaan lain, Rajab diumpamakan seperti angin, Sya’ban diibaratkan seperti awan, dan Ramadhan seperti air hujan. Perumpamaan tersebut menegaskan bahwa Ramadhan tidak akan menghasilkan buah kuantitas dan kulaitas ibadah, pahala dan ketakwaan tanpa adanya persiapan yang sungguh-sungguh sejak sebelumnya, khususnya di bulan Rajab dan Sya’ban. Amal ibadah dan kebaikan yang ditanam dan dirawat dengan istiqomah akan berbuah keberkahan di bulan suci. Nisfu Sya’ban Salah satu momen penting dalam bulan Sya’ban adalah malam pertengahan bulan atau malam Nisfu Sya’ban. Sebagaiman telah disebutkan sebelumnya, bahwa Allah SWT memperhatikan seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu mengampuni semuanya, kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang menyimpan permusuhan. Hadits ini menunjukkan bahwa kebersihan hati dan keharmonisan sosial menjadi syarat penting untuk meraih ampunan Allah SWT. Permusuhan, dendam, dan kebencian dapat menghalangi turunnya kasih sayang (rahmat) Nya. Oleh karena itu, Nisfu Sya’ban dapat dimaknai sebagai momentum introspeksi dan rekonsiliasi sosial. Tidak harus selalu menunggu momen ‘Idul Fitri, umat Islam dianjurkan untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit sosial sebelum memasuki bulan Ramadhan. Persiapan spiritual tidak hanya diwujudkan dalam ibadah personal seperti puasa sunnah, dzikir dan membaca Al-Qur’an (hablun minallah), tetapi juga ibadah sosial dalam upaya memperbaiki hubungan antar sesama manusia (hablun minan naas). Hati yang bersih akan memudahkan seseorang meraih kekhusyukan dan keikhlasan dalam beribadah. Seperti petani yang menantikan panen setelah melewati masa tanam dan perawatan yang panjang, demikian pula seorang muslim mengharapkan keberkahan Ramadhan setelah mempersiapkan diri sejak Rajab dan Sya’ban. Proses ini mengajarkan bahwa keberhasilan ibadah tidak datang secara instan, melainkan melalui proses kesungguhan dan konsistensi (istiqomah). Dengan memaknai Rajab sebagai masa menanam (tandur), Sya’ban sebagai masa memupuk (nyirami), serta Ramadhan sebagai masa panen pahala (ngunduh), diharapkan umat Islam mampu menjalani ibadah dengan lebih terencana, berkualitas, dan penuh kesadaran spiritual. Semoga menjalani bulan-bulan mulia ini, membawa peningkatan ketakwaan pribadi sekaligus memperkuat harmoni sosial di masyarakat. Wallahu a’lam. Amir Syarifuddin, S.Ag. Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Klirong

Read More »
Artikel
Faozan

Makna Tepuk Sakinah: Cara Sederhana Menanamkan Nilai Keluarga Harmonis

Membangun keluarga sakinah merupakan dambaan setiap pasangan yang memasuki kehidupan rumah tangga. Dalam Islam, sakinah tidak hanya berarti ketenangan, tetapi juga keharmonisan yang dilandasi rasa cinta, saling menghargai, serta komitmen kuat untuk hidup bersama dalam ridha Allah SWT. Salah satu cara menarik untuk mengenalkan nilai-nilai keluarga sakinah kepada masyarakat adalah melalui media edukatif yang sederhana, salah satunya melalui Tepuk Sakinah. Walau tampak sederhana, setiap bait dalam Tepuk Sakinah memiliki makna mendalam yang menjadi fondasi kehidupan rumah tangga.Berikut penjelasan makna dari setiap poin dalam Tepuk Sakinah: Tepuk Sakinah: Media Edukasi yang MenyenangkanTepuk Sakinah menjadi cara kreatif untuk mengenalkan nilai-nilai keluarga sakinah, terutama bagi calon pengantin dalam bimbingan perkawinan. Liriknya sederhana namun sarat makna: BerpasanganBerpasanganBerpasangan(tepuk 3x) Janji kokohJanji kokohJanji kokoh(tepuk 3x) Saling cintaSaling hormatSaling jagaSaling ridhoMusyawarah untuk sakinah(Kembali ke awal) Melalui tepuk ini, peserta bimbingan perkawinan diajak memahami bahwa keluarga sakinah tidak hadir secara instan. Keluarga yang harmonis dibangun dengan komitmen, cinta, hormat, jaga, ridho, dan musyawarah yang konsisten setiap hari. Tepuk Sakinah bukan sekadar permainan edukatif, tetapi pengingat bahwa rumah tangga yang kokoh lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Semoga setiap pasangan dapat mengamalkan nilai-nilai ini, sehingga terbentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah. Karena masyarakat yang baik berawal dari keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, thumma barokah. Dari keluarga yang baik akan tercipta desa yang baik, dari desa yang baik akan terbentuk kabupaten yang baik, hingga akhirnya negara yang makmur dan sejahtera dimulai dari keluarga kecil yang baik. H. Johan Amru, S.Sos.I Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen / KUA Kecamatan Kebumen

Read More »
Amir Syarifuddin, S.Ag. Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Klirong
Artikel
Faozan

Sya‘ban, Momentum Penguatan Kehidupan Beragama

Bulan Sya‘ban sering hadir tanpa banyak disadari. Ia berada di antara Rajab yang dimuliakan dan Ramadhan yang dinanti, sehingga kerap terlewatkan begitu saja. Padahal Rasulullah SAW justru memberi perhatian khusus terhadap bulan Sya’ban ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i, mengenai Sya’ban Rasulullah SAW bersabda: ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.” Hadits ini menegaskan bahwa keutamaan ibadah tidak selalu terletak pada keramaian, tetapi pada kesadaran dan keikhlasan, terutama di saat banyak orang lalai. Sya‘ban menjadi waktu yang tepat untuk menata kembali kehidupan beragama. Bukan sekadar menambah kuantitas amal, tetapi meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki kinerja dan akhlak. Membiasakan kedisiplinan shalat tepat waktu, memperbanyak shalawat, membaca dan tadabbur Al-Qur’an, serta menjaga lisan dan sikap sosial merupakan bentuk nyata dari penguatan kehidupan beragama yang berdampak langsung dalam keseharian. Kebiasaan Rasulullah SAW berpuasa di bulan Sya‘ban juga terekam jelas dalam hadits Aisyah ra : وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ ‏. “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih banyak berpuasa sunnah daripada di bulan Sya‘ban.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa Sya‘ban adalah bulan latihan spiritual dan persiapan ruhani, bukan sekadar pengantar Ramadhan. Teladan Rasulullah SAW tersebut sekaligus mengajarkan nilai moderasi dalam beragama. Beliau meningkatkan ibadah tanpa sikap berlebihan dan tetap menjalankan aktivitas sosial secara seimbang. Dari sini umat belajar bahwa beragama secara benar adalah berjalan di tengah, tidak ekstrem dan tidak pula lalai, sehingga agama menjadi sumber ketenangan, bukan beban. Menjelang Ramadhan, Sya‘ban juga menjadi momentum membersihkan hati dan memperbaiki hubungan sosial. إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ» . رَوَاهُ ابْن مَاجَه Dalam riwayat Ibnu Majah di atas disebutkan bahwasanya Allah SWT memberikan ampunan pada malam pertengahan Sya‘ban kepada hamba-hamba-Nya, kecuali mereka yang menyekutukan Allah dan mereka yang menyimpan permusuhan. Pesan ini menguatkan pentingnya saling memaafkan, menyambung silaturahmi, dan mengakhiri perselisihan sebagai bagian dari ibadah yang berdampak luas bagi kerukunan masyarakat. Dalam lingkup keluarga, Sya‘ban dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan ibadah bersama dan menumbuhkan suasana religius di rumah. Keluarga yang kuat secara spiritual akan melahirkan ketahanan moral dan akhlak, yang pada akhirnya berkontribusi pada terwujudnya masyarakat yang rukun dan harmonis. Sya‘ban bukan sekadar bulan penantian menuju Ramadhan, tetapi masa persiapan yang menentukan kualitas ibadah di bulan suci. Ketika Sya‘ban diisi dengan kesadaran, keseimbangan, dan kepedulian sosial, maka Ramadhan akan dijalani dengan lebih bermakna. Dari bulan yang sering dilupakan inilah, sejatinya penguatan kehidupan beragama dapat dimulai. Amir Syarifuddin, S.Ag. Penyuluh Agama Islam, KUA Kecamatan Klirong

Read More »

Website resmi Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

Nilai Pelayanan Kami DIsini

© 2026 Kementerian Agama Kabupaten Kebumen